Back to Kompasiana
Artikel

Luar Negeri

Mudy

Rakyat kecil tinggal di Jakarta, penghasilan pas-pasan, nonpartisan, Pancasilais, republiken, ultra-nasionalis. Anti NeoLib-ASEAN-C, anti religio-fascist, selengkapnya

Spekulasi Penyebab Jatuhnya Boeing 777 Malaysia Airlines: Bom Teroris atau Rudal Militer

OPINI | 09 March 2014 | 06:45 Dibaca: 703   Komentar: 0   1

Penyelidikan atas jatuhnya Boeing 777 MH370 dapat memakan waktu lama. Karena itu dapat dilakukan spekulasi atas kemungkinan-kemungkinan penyebab jatuhnya pesawat.

Dari kapasitas bahan bakar pesawat dapat dipastikan pesawat sudah tidak mengudara. Dengan tidak adanya sinyal darurat otomatis yang seharusnya terdeteksi dalam jarak 100 km, artinya pesawat tidak mendarat darurat. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pesawat tersebut telah jatuh.

Malaysia Airlines MH370 Boeing 777-200

4.21pm GMT (12.21am): Pesawat berangkat dari Airport Kuala Lumpur.

Pilot melapor bahwa kondisi pesawat baik, ketinggian 35.000 kaki (10.500 m).

5.21pm GMT (1.21am): Pesawat tidak melapor sesuai jadwal, dalam posisi di atas laut menuju kota Ho Chi Minh.

6.40pm GMT (2.40am): ATC kehilangan kontak pesawat.

10.30pm GMT (6.30am): Pesawat tidak mendarat di Beijing sesuai jadwal.

Penumpang 154 warga China, hanya 38 warga malaysia.

Pilot berpengalaman: Kapten Zaharie Ahmad Shad, 53 tahun. Copilot Fariq Ab, 27 tahun.

Perusahaan penerbangan Malaysia Airlines memiliki catatan pemeliharaan yang sangat baik.

Boeing 777-200 termasuk salah satu pesawat yang paling aman di dunia.

Media resmi Vietnam sempat melaporkan bahwa perwira AL senior vietnam Admiral Ngo Van Phat melaporkan bahwa Boeing 777-200ER jatuh di selatan Vietnam, dekat perbatasan Kamboja. Namun laporan tersebut kemudian dibantah dengan alasan kesalahan radar.

AL Vietnam juga melaporkan mendeteksi sinyal darurat pesawat 153 mil di selatan pulau Phu Quoc di Laut China Selatan. Laporan tersebut kemudian dibantah sendiri oleh Vietnam, namun dilaporkan adanya sisa BBM yang menyebar di laut yang mungkin adalah sisa jatuhnya pesawat.

Kemungkinan yang dapat di abaikan:

1. Kerusakan pesawat

Jika pesawat jatuh akibat kerusakan, hampir pasti krew sempat mengumumkan keadaan darurat dengan meneriakkan “mayday”. Kenyataan bahwa pesawat langsung hilang dari radar menunjukkan bahwa terjadi ledakan yang mendadak menghilangkan kemampuan pilot dan kopilot untuk memberi sinyal bahaya.

2. Serangan Teroris dengan SAM Manpad

Beberapa rudal darat ke udara panggul (Manpad) di Kamboja sempat diketahui jatuh ke tangan teroris. Hal ini menyebabkan beberapa tahun silam PM Kamboja, Hun Sen, memusnahkan seluruh manpad Kamboja, yaitu 233 unit Strela buatan Soviet.

Namun manpad adalah rudal jarak dekat yang tidak bisa menembak jatuh pesawat di ketinggian 35.000 kaki (10.500 m). Maksimal manpad tercanggih dapat menembak jatuh pesawat di ketinggian 10.000 kaki. Pesawat komersil hanya terancam oleh teror manpad saat tinggal landas atau mendarat dimana ketinggiannya mencapai jarak efektif rudal manpad.

Pesawat Boeing-777 MH370 dipastikan berada pada ketinggian 35.000 kaki saat mendadak hilang dari radar. Hanya ledakan bom teroris, rudal laut jarak menengah, rudal darat jarak jauh, atau pesawat tempur yang mampu menjatuhkan pesawat tersebut tanpa sempat memberikan sinyal bahaya.

Berbagai kemungkinan yang bisa terjadi:

Kemungkinan I: Teroris

Salah satu yang menguatkan teori kehadiran teroris adalah adanya 2 penumpang diketahui menggunakan paspor palsu kebangsaan Austria dan Itali yang dicuri di Thailand bulan Agustus. Salah satunya atas nama Luigi Maraldi.

Sejauh ini modus penggunaan paspor palsu yang paling memungkinkan hanyalah terorisme.

Mayoritas penumpang adalah warga China. PRC saat ini tengah menghadapi terorisme terorganisasi, khususnya dari separatis Uyghur dari wilayah Xinjiang yang baru-baru ini melakukan berbagai serangan teroris di China. Juni 2012, terjadi upaya pembajakan atas pesawat Tianjin Airlines GS7554 yang dilakukan oleh 6 etnik Uyghur dengan berupaya merebut kokpit. Upaya pembajakan ini digagalkan oleh para penumpang dan crew pesawat.

A. Pesawat dibajak teroris, krew atau penumpang melakukan perlawanan sehingga teroris meledakkan pesawat.

Kasus ini terjadi pada penerbangan United 93 dimana pesawat juga jatuh tanpa sempat memberikan sinyal distres. Dalam skenario tersebut teroris menguasai kokpit dan langsung membunuh pilot dan kopilot sehingga tidak ada laporan pembajakan. Crew dan penumpang melakukan perlawanan, namun gagal merebut kokpit sehingga teroris menjatuhkan pesawat. Skenario ini persis dengan upaya pembajakan Tianjin Airlines diatas.

B. Teroris menempatkan bom di pesawat dan bom meledak.

Teroris klasik hanya membeli tiket dan menempatkan bom dalam bagasi tanpa ikut di atas pesawat. Pada kasus ini bom dapat meledak setiap saat baik sengaja atau tidak sengaja.

Teroris bunuh diri atau teroris bersenjata ikut serta dalam pesawat sehingga dapat mengendalikan langsung bom.

Kemungkinan II: Tertembak Militer

Kemungkinan salah tembak oleh militer adalah teramat sangat kecil, namun pernah terjadi sehingga perlu dipertimbangkan sebagai salah satu kemungkinan.

Menembak jatuh pesawat di ketinggial 35.000 kaki bukanlah hal yang mudah. Umumnya pesawat tempur tidak bisa sembarangan masuk ke jalur sipil, apalagi melakukan penembakan. Jalur pesawat MH370 adalah jalur sipil yang aman.

Hanya Vietnam yang memiliki aset militer laut dengan kemampuan menembak jatuh pesawat di ketinggian 35.000 kaki. Baik Malaysia, Singapura, Thailand, dan China kecil kemungkinan memiliki aset militer  dengan kemampuan menembak jatuh pesawat di ketinggian 35.000 kaki di wilayah selatan Vietnam tersebut. Kalaupun ada, tentunya tidak mungkin melakukan penembakan.

Laos, Kamboja, Myanmar, Philipina, dan Brunei tidak memiliki aset militer laut dengan kemampuan tersebut.

Aset militer Indonesia yang memiliki kemampuan tersebut hanyalah 3 frigat mini F2000 yang baru (KRI 358 Usman Harun, KRI 359 John Lie dan KRI 357 Bung Tomo). Dapat dipastikan frigat TNI AL tersebut tidak berada di selatan Vietnam.

Spekulasi yang mungkin terjadi adalah  Militer Vietnam melakukan latihan perang menembakkan rudal anti pesawat jarak menengah / jarak jauh. Rudal tersebut tidak mengenai sasaran yang dimaksud tetapi mengejar sasaran baru pesawat Boeing. Tentu skenario ini sangat sulit terjadi, namun pernah terjadi.

Satu-satunya arsenal laut Vietnam yang dapat menembak jatuh Boeing-777 di ketinggian 35.000 kaki di tengah laut adalah Frigat kelas Gepard yang dilengkapi sishanud Osa-M, dengan rudal SA-N-4 Gecko.

Vietnam memiliki 2 frigat mini kelas Gepard: HQ-011 Dinh Tien Hoang dan HQ-012 Ly Thai To. Kedua frigat ini baru aktif tahun 2011, dan saat ini tengah dalam pelatihan intensif dengan armada baru Vietnam yang terdiri atas sejumlah kapal korvet dan kapal selam kelas kilo. 2 frigat kelas Gepard lain masih dibangun di Russia.

Kemungkinan III: Teroris dan Militer

Pesawat di bajak untuk melintasi Vietnam ke China. Militer Vietnam atau China memilih menembak jatuh pesawat karena khawatir pesawat digunakan sebagai rudal seperti pada serangan 911 di AS.

Pada skenario ini, teroris menguasai pesawat dan diketahui oleh ATC Vietnam. Kemudian Vietnam atau China mengirimkan pesawat tempur untuk menembak jatuh pesawat sipil dibajak tersebut.

Kasus serangan 911 memberikan prosedur militer di seluruh negara di dunia, yang memungkinkan militer menembak jatuh pesawat sipil yang dibajak, guna menghindari pesawat tersebut digunakan sebagai rudal, yang tentunya dapat mengakibatkan kerugian nyawa yang jauh lebih besar.

Untuk spekulasi ini, seharusnya ATC Malaysia juga mengetahui kondisi pembajakan yang terjadi, sehingga seharusnya sulit merahasiakan kasus seperti ini.

Namun berbagai informasi awal dari militer Vietnam yang kemudian dibantah sendiri justru menimbulkan berbagai spekulasi ini.
 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Taman Balekambang, Bukti Cinta Orangtua …

Agoeng Widodo | | 30 September 2014 | 15:39

Gedung DPR Dijual …

Hendra Budiman | | 30 September 2014 | 11:55

Bahkan Macan Asia pun Butuh Demokrasi …

Yudhi Hertanto | | 30 September 2014 | 12:16

Langkah Kecil, Meninggalkan Jejak yang …

Ngesti Setyo Moerni | | 30 September 2014 | 15:07

Kamukah Pemenang Sun Life Syariah Blog …

Kompasiana | | 29 September 2014 | 09:44


TRENDING ARTICLES

Kumpulan Berbagai Reaksi Masyarakat …

Elvis Presley | 6 jam lalu

UU Pilkada, Ahok dan Paham Minoritas …

Edi Tempos | 8 jam lalu

People Power Menolak Penghapusan Pilihan …

Daniel Setiawan | 9 jam lalu

Hobi Berbahaya Anak Muda di Saudi …

Umm Mariam | 10 jam lalu

Inilah Cara SBY Membatalkan UU Pilkada …

Rullysyah | 11 jam lalu


HIGHLIGHT

Layanan Kesehatan Harus Ramah dan Terbuka …

Baihaqi | 7 jam lalu

Bogor Islamic Book Fair 2014 …

Adi Setiadi | 7 jam lalu

“Indonesia Tanah Air Beta”, Kata …

Elvini Effendi | 7 jam lalu

Layakkah Menteri Agama RI menetapkan Iedul …

Ibnu Dawam Aziz | 7 jam lalu

Orang Indonesia Itu Baik-baik Semua …

Den Bhaghoese | 7 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: