Back to Kompasiana
Artikel

Luar Negeri

Kusnandar Putra

Adalah guru SMP Islam dan Madrasah Aliyah Tanwirussunnah, Gowa. Diamanahkan "memegang" mata pelajaran IPA, IPS, selengkapnya

Filipina, Jangan Cela Topan Haynan!

OPINI | 14 November 2013 | 04:57 Dibaca: 556   Komentar: 6   0

Bismillahirrohmaanirrohiiim

Berikut ini adalah beberapa intisari dari taklim al-Ustadz Khidir -hafidzahulloh- dari Kitab Tauhid dengan Bab: Dilarang Mencela Angin di Masjid Nurul Bahri, Galangan Kapal, Makassar,

-Rosululloh bersabda, artinya:
“Jangan kalian mencela angin. Jika kalian melihat apa yang kalian benci, ucapkanlah, ‘Ya Alloh, sungguh kami meminta kepada Engkau kebaikannya, kebaikan apa yang ada di dalamnya, dan kebaikan apa yang dengannya ia diperintah dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukannya, keburkan yang ada di dalamnya, dan keburukan apa yang dengannya ia diperintah.’”
(HR. Tirmdzi)

-Bersamaan dengan haromnya (mencela angin), hal ini (yaitu mencela angin) juga termasuk dari kebodohan, kedunguan, kelemahan akal, karena angin diatur, diperintah, ditetapkan arahnya, kekuatannya oleh Alloh subhanahu wa ta’ala, angin berada pada kekuasaan Alloh subhanahu wa ta’ala.

-Jadi, orang yang mencela angin sebenarnya ia mencela kepada yang mengatur angin, yang menentukan angin itu bertiup: yakni Alloh subhanahu wa ta’ala.

-Kenapa mencela sesuatu yang diperintah? Alloh subhanahu wa ta’ala yang perintah! Angin hanya melakukan apa yang diperintahkan Alloh, (angin adalah) makhluk yang tunduk kepada pengaturan Alloh.

-Kengerian angin ini tidak tanggung-tanggung. Tsunami, itu tidak lepas dari (keberadaan) angin, angin (Topan Haynan) yang terjadi di Filipina, yang sudah menewaskan 10 ribu jiwa.

-Mencela angin (selain dari keharomannya dan kelemahan akal), (juga) berarti menganggap angin dengan seenaknya mendatangkan dorot (mencelakakan) dengan sendirinya. Jadi, celaan ini muncul karena ada pikiran syirik, menganggap ada selain Alloh subhanahu wa ta’ala yang menentukan celaka atau selamatnya seseorang. Orang yang bertauhid menjaga lisannya. Maka nabi memberi petunjuk. untuk berucap baik, kita disuruh berdoa,
‘Ya Alloh, sungguh kami meminta kepada Engkau kebaikannya, kebaikan apa yang ada di dalamnya, dan kebaikan apa yang dengannya ia diperintah dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukannya, keburkan yang ada di dalamnya, dan keburukan apa yang dengannya ia diperintah.’
(Bukhori Muslim)

Kebaikan angin itu sendiri: (misalnya bisa menghirup oksigen, manusia bisa menikmati kesejukan).

Kebaikan apa yang ada di dalamnya: misalnya adanya bibit-bibit, timbul pembuahan dari jantan ke betina, (turunnya hujan).

Kebaikan apa yang dengannya ia diperintah: (adanya hujan yang memberi manfaat, membantu nahkoda)

-(Tetapi anehnya justru) banyak yang meminta kepada angin: nelayan, orang padang pasir (ada biasa lagu-lagunya, “Oh Angin!”). Ini kebodohan.

Kita mendapat ilmu bahwa angin itu dicipta dan diperintah (oleh Alloh subhanahu wa ta’ala).

-Sekarang kita lihat apa petunjuk nabi jika melihat yang dibenci pada angin, kita disuruh bertauhid, mengucapkan kalimat baik. Apalagi di dalam doa, diawali dengan “Allohumma…,” doa ini syiarnya ahli tauhid.

-Orang musyrik pun apabila ia berada dalam bahaya (di lautan yang tinggi ombaknya seperti awan), maka ia kembali kepada tauhid. Ia pasti selamat. Karena tauhid adalah penyelamat. Tapi, dasar orang musyrik, tatkala Alloh selamatkan, ia kembali berbuat kesyirikan.

Macam-macam kesyirikannya, (ada yang mengatakan) “Seandainya bukan ini…,” ini termasuk syirik-syirik. Ada juga yang berdoa meminta kepada Nabi Khidir. Ada yang setelah selamat berkata, “Oh ini karena saya a’barzanjia, wattuku ero lampa.”
Aatagfirulloh.

-Sekarang apa yang dipahami orang tentang angin?
“Angin adalah gejolak ini…
Angin adalah kejadian alam…
(Sampai-sampai ada berkata) Angin karena ada naga yang bertiup.”
Astagfirulloh. Naga saja dongeng!

Angin adalah makhluk yang diperintah. Ini petunjuk dari Alloh dan Rosul-Nya.

-Saya teringat sebuah kisah, namanya Samaras, ia punya tim yang khusus meneliti Tornado di Oklatoma, pada tanggal 26 Mei 2013.

Tim ini sudah lebih 30 tahun. Ia mengumumkan kepada masyarakat jika akan ada tornado. Tapi, dia sendiri mengejar tornado pada saat itu. Di waktu malamnya, ia sempat memposting berita, namun keesokan harinya ditemukan Samaras meninggal di dalam mobilnya, putranya (24 tahun) terlempar 800 m dalam keadaan tidak bernyawa.

Diantara perintah angin ini: binasakan orang ini.

-Soal: Jika mencela angin dilarang, bagaimana jika memujinya?

Jawab:
Tetap harom. Hukumnya sama.

Penutup: Hendaknya kita memperbanyak niat baik dalam bermajelis ilmu karena lemahnya niat (menyebabkan kita tidak mendatangi majelis ilmu).

–Tanwirussunnah, 10 Muharrom 1435 H

Tags: freez

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Saat Hari Anak Nasional Terlupakan oleh …

Topik Irawan | | 23 July 2014 | 18:53

Parcel Lebaran Dibuang ke Jalan …

Roti Janggut | | 23 July 2014 | 17:43

Efek Samping Kurikulum “Cepat Saji” …

Ramdhan Hamdani | | 23 July 2014 | 18:46

Mengejar Sunset dan Sunrise di Pantai Slili …

Tri Lokon | | 23 July 2014 | 20:12

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

Kata Ahok, Dapat Jabatan Itu Bukan …

Ilyani Sudardjat | 8 jam lalu

Siapkah Kita di “Revolusi …

Gulardi Nurbintoro | 9 jam lalu

Psikologi Freud dalam Penarikan Diri Prabowo …

Sono Rumekso | 11 jam lalu

Ke Mana Sebaiknya PKS Pascapilpres? …

Aceng Imam | 11 jam lalu

Film: Dawn of The Planet of The Apes …

Umm Mariam | 13 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: