Back to Kompasiana
Artikel

Luar Negeri

Eunice Mariyani

Tulisan lain saya bisa diakses di sini: http://www.triond.com/users/Eunike Saya sarjana teknik industri, namun menulis dan berjualan online selengkapnya

Sekarang Ada Gereja Ateis

REP | 12 November 2013 | 10:05 Dibaca: 746   Komentar: 26   4

Kalau Ateis, orang yang tidak percaya adanya Tuhan, beribadah, mereka beribadah kepada siapa? Lalu apa yang mereka lakukan? Perlukah ini dilakukan? Tetapi kenyataannya gereja-geraja ateis mulai bermunculan di bumi ini terutama di Amerika Serikat dan Australia. Jumlahnya sudah lebih dari 30 ‘gereja’.

Mereka juga ‘beribadah’ pada hari Minggu pagi. Suasana ibadah sama seperti mega gereja yang beribadah setiap hari Minggu. Ada beberapa ratus orang , termasuk keluarga dengan anak-anak kecil , lebih dari satu jam musik meriah dipertunjukkan, ada pembicaraan yang menginspirasi dan beberapa refleksi yang tenang . Satu-satunya hal yang tidak ada adalah Allah .

‘Gereja’ untuk para Ateis ini dimulai di Inggris awal tahun 2013.
Gerakan didorong oleh media sosial dan dipelopori oleh dua komedian Inggris yang terkenal
Sanderson Jones dan Pippa Evans.

13842225421446216617

Suasana ‘ibadah’ di ‘gereja’ ateis. Yang sedang memegang ‘mic’ adalah Sanderson Jone. Foto dari www.guardian.com

‘Ibadah’ pertama di Amerika Serikat dimulai di Los Angeles yang sukses menarik beberapa ratus orang. Pertemuan serupa kemudian dilakukan di San Diego, Nashville , New York dan kota-kota di A.S. telah sukses membina persahabatan para ateis tanpa agama atau ritual. Sang pendiri duo komedian Inggris, mengadakan 40 tur di seluruh Amerika Serikat dan Australia untuk menggalang sumbangan dan membantu peluncuran ‘gereja’ baru. Mereka berharap untuk mendapatkan lebih dari $ 800.000 yang akan membantu ateis meluncurkan jemaat pop - up mereka di seluruh dunia . Sejauh ini , mereka telah mendapat sekitar $ 50.000.

Mereka tidak beriman, tetapi ingin menemukan cara baru untuk bertemu orang-orang yang memilki ‘keyakinan’ sama, terlibat dalam masyarakat dan membuat kehadiran mereka lebih terlihat dalam lanskap yang didominasi oleh kaum beriman.

Sanderson Jones mendapat ide untuk membuat suasana seperti ini saat meninggalkan konser Natal enam tahun lalu.

13842234281488500407
Peserta bermain dengan satu sama lain pada hari Minggu. Foto dari www.yahoo.com

Jones menikmati konser Natal itu, tetapi itu membuatnya malu karena apa yang esensial dari konser itu adalah sesuatu yang tidak dia percaya. Ada lagu-lagu yang hebat di gereja, ada pembicaraan yang menarik , ada dorongan untuk meningkatkan diri sendiri dan membantu orang lain. Dan hal-hal itu akan begitu indah pada sebuah komunitas. Jadi mengapa ateis tidak boleh merasakan suasana yang sama?

The Pew Forum on Religion & Public Life merilis sebuah penelitian tahun lalu yang menemukan 20 persen orang Amerika mengatakan mereka tidak memiliki afiliasi keagamaan , meningkat dari 15 persen dalam lima tahun terakhir. Bagaimanapun peneliti Pew menekankan bahwa kategori juga mencakup mayoritas orang yang mengatakan mereka percaya pada Tuhan tetapi tidak memiliki hubungan dengan agama yang terorganisasi dan orang-orang yang menganggap dirinya ” spiritual ” tetapi tidak ” religius . “

Jadi para ateis merasa mereka harus mengaktualisasi diri. Tetapi kaum Kristen tidak suka mereka memakai istilah gereja. Karena ‘gereja’ artinya adalah tubuh Kristus, dimana Yesus Kristus adalah kepala gereja dan ini tentu sangat berbeda dengan pengertian gereja bagi kaum ateis.

Di A.S. ada sedikit perasaan bahwa jika Anda tidak religius , Anda dianggap tidak patriotik . Kaum sekuler tidak setuju hal ini. Mereka beramal, mereka mengangap diri mereka orang-orang yang baik, orang tua yang baik dan warga negara yang baik. Dan mereka merasa perlu organisasi seperti gereja untuk membuktikannnya. Sebagian mereka dianggap aneh karena meniru tingkah laku kaum beriman, sesuatu yang mereka coba sangkal keberadaanNya, tetapi itu tidak mengurangi kegembiraan mereka dalam acara-acara di auditorium Hollywood yang riuh antara lain diisi dengan live musik , saat-saat refleksi , sebuah  pembicaraan inspirasional dan beberapa stand-up comedy. Selama ‘ibadah’, peserta menghentakkan kaki mereka mengikuti irama musik, bertepuk tangan dan bersorak saat Jones dan Evans memimpin kelompok melalui penafsiran ” Bersandar pada  Saya,  ” Here Comes the Sun “dan hit lainnya yang mengambil tempat sebagai lagu-lagu pujian. Jemaat larut dalam tawa di permainan yang melibatkan tepuk tangan dan menampar tangan orang di sebelah mereka dan bertepuk tangan ketika mendengar anggota berbicara tentang proyek-proyek pelayanan masyarakat yang telah mereka mulai di Los Angeles.

Pada akhirnya, para relawan mengedarkan kardus untuk sumbangan. Sebagian peserta berbaur sambil menikmati kopi dan kue-kue dan anak-anak bermain di lantai. Untuk ateis Elia Senn, pagi hari itu sempurna .

Senn berpikir gambaran orang-orang tentang dirinya asebagai ateis telah runtuh. Dia sangat bersemangat untuk dapat datang bersama-sama dan menunjukkan bahwa ini bukan tentang kehancuran. Ini tentang membuat hal-hal yang lebih baik.  Bagi mereka tidak percaya pada Allah membuat hidup lebih berharga .

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kontroversi Panjat Pinang dan Serunya …

Kompasiana | | 02 September 2014 | 11:15

Si Gagah yang Terlelap …

Findraw | | 03 September 2014 | 09:17

Ini Nilai Ujian Kuliah Politik Pertanian …

Felix | | 03 September 2014 | 08:39

Oase untuk Anak Indonesia …

Agung Han | | 03 September 2014 | 08:10

Ikuti Blog Competition Sun Life dan Raih …

Kompasiana | | 30 August 2014 | 17:59


TRENDING ARTICLES

Oposisi Recehan …

Yasril Faqot | 3 jam lalu

Ini Nilai Ujian Kuliah Politik Pertanian …

Felix | 5 jam lalu

Florence Sihombing Disorot Dunia …

Iswanto Junior | 7 jam lalu

Manuver Hatta Rajasa dan Soliditas Koalisi …

Jusman Dalle | 8 jam lalu

Awasi Jokowi, Kita Bukan Kerbau Dungu …

Mas Wahyu | 8 jam lalu


HIGHLIGHT

Transparansi Pengadaan Alutsista di TNI …

Putra Perkasa | 8 jam lalu

Kontroversi Panjat Pinang dan Serunya …

Kompasiana | 8 jam lalu

Ala Backpacker menuju Negri di Atas Awan …

Wilda Hikmalia | 8 jam lalu

Krisis Kesetiaan …

Blasius Mengkaka | 9 jam lalu

Hadiah Istimewa Dari Pepih Nugraha …

Tur Muzi | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: