Back to Kompasiana
Artikel

Luar Negeri

Muhammad Nurdin

sebagai guru sejarah dan sosiologi di SMA di kota Bandung tentu saja perlu berwawasan luas,karenanya selengkapnya

Tiongkok: Sistem Ekonomi Baru Tidak Mesti Berpusat di AS

REP | 17 October 2013 | 08:26 Dibaca: 222   Komentar: 2   0

13819701601982944498

Gambar:Reuters

Raksasa  ekonomi dunia saat ini memang  masih dianggap AS ,meskipun sekaligus juga pengutang terbesar dunia .Bisa dipahami  jika Tiongkok yang paling resah  terhadap penolakan Kongres AS untuk menaikkan pagu hutang yang diajukan Barack Obama,meskipun kini sudah terjadi kesepakatan antara Demokrat dan Republik di DPR AS terkait hal tersebut.Jika  hal itu masih juga ditolak oleh mayoritas Republik di Kongres, AS akan melanjutkan penghentian operasi pemerintahannya karena ketiadaan dana, sangat memalukan lagi Paman Sam takkan mampu membayar hutangnya yanag  sangat besar itu kepada Tiongkok.

Karena tarik ulur  masalah itulah sehingga Kantor Berita Tiongkok,Xinhua dengan geram menyerukan supaya sistem perekonomian baru tidak  berpusat di AS.Hal ini tentunya juga menyebabkan posisi mata uang dolar AS akan terimbas pula .Dan beberapa negara sebenarnya sudah melaksanakannya,terutama  Tiongkok,Jepang,Republik Islam Iran dalam  sistem perekonomian mereka sudah mulai menyingkirkan dolar AS secara bertahap dengan mata uangnya sendiri.

Seruan Xinhua itu tentu saja tidak dikehendaki AS,karenanya  Kongres AS kelihatannya akan mengabulkan permintaan Barack Obama yang juga  sangat menguntungkan  Beijing  sebagai negara kreditor terbesar kepada AS.Meskiun demikian seruan Xinhua perlu mendapat suatu pertimbangan khusus bagi negara lain  yang selama ini “mendewakan”AS sebagaai  adi daya,tetapi  nyatanya juga penghutang terbesar dunia saat ini.

Republik Rakyat Tiongkok dengan  rasa khawatir menunggu perdebatan di Kongres AS yang batas akhirnya  hari Kmais 17 Oktober 2013,karenanya berbagai  peringatan keras dari Beijing  memerahkan telinga Washington .Akan melemparkan”Bom Nuklir Eknomi”yang akan menghancurkan pasar saham  sampai  masalah itu terpecahkan,demikiana peringatan keras Tiongkok kepada AS.Namun demikian tajuk Kantor berita resmi Tiongkok Xinhua ,yang menyerukan supaya sistem ekonomi baru tidak berpusat pada AS yang dampaknya sanagat luas itu.Seruan ini teuntunya tidak diinginkan AS,tetapi apa daya sekarang Gedung Putih sedang terbelit hutang karena ulahnya sendiri.Tuntutlah ilmu meskipun kenegeri China,yang sudah dikemukakan Rasulullah SAW lebih  15 abad silam ,karenanya kedepan hal itu akan terwujud secara kongkrit. Suatu pembelajaran dari China bagi Indnesia.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

14 April, Awal Menentukan Langkah Timnas di …

Achmad Suwefi | | 06 March 2015 | 21:43

Menyelesaikan Cinta Masa Lalu …

Gunawan Sri Haryono | | 06 March 2015 | 18:07

Indonesia Darurat Migas: Analisis Dampak dan …

Erwin Suryadi | | 06 March 2015 | 15:09

[Cerita Dari Manado] Mall dan Kesadaran yang …

Subronto Aji | | 06 March 2015 | 19:05

Kompasiana Drive&Ride: ”Be Youthful, …

Kompasiana | | 26 February 2015 | 22:29


TRENDING ARTICLES

Menghina Lulung Menghina Warga Jakarta …

Abest | 7 jam lalu

Jawaban Edi Abdullah Atas Artikel bantahan …

Edi Abdullah | 9 jam lalu

Gaya Komunikasi Ahok …

Mas Badiyo | 10 jam lalu

Bantahan atas tulisan Edi Abdullah: Niat …

Hendra Budiman | 10 jam lalu

Lulung The Godfather …

Bayu Ertanto | 17 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: