Back to Kompasiana
Artikel

Luar Negeri

Ansara

Suka Musik, Sejarah dan Fotografi FB Annie Sabri, Twitter @4nsar4

Benarkah Ada Jihad Seks atau Jihad al Nikah di Syria?

OPINI | 21 September 2013 | 23:18 Dibaca: 6881   Komentar: 262   30

Seorang wanita yang mengaku pernah berjihad sex di Syria foto alalam.com

Seorang wanita yang mengaku pernah berjihad sex di Syria foto alalam.com

Seumur hidup sebagai muslimah, baru sekarang saya dengar ada istilah Jihad Sex atau Jihad al Nikah untuk meringankan beban para pemberontak yang menentang rezim Bashar Al Assad di Syria. Konon fatwa Jihad nikah ini dikeluarkan oleh seorang ulama Islam Militan yang mengizinkan para muslimah membantu perjuangan para pemberontak disana dengan cara melayani kebutuhan sex mereka. Para wanita ini dinikahkan dan diceraikan dihari yang sama. Entah aliran Islam apa yang menghalalkan pengorbanan para wanita ini demi perang suci atau Jihad.

Sekitar 200 pemuda Tunisia ikut berjihad di Syria membantu para pemberontak itu dan menurut mentri dalam negri Tunisia, Lofti Ben Jeddou ada juga muslimah Tunisia yang membantu perjuangan mereka dengan cara Jihad al Nikah. Seorang gadis bisa melayani hingga puluhan prajurit. Masalah Jihad al Nikah ini tercium setelah beberapa gadis Tunisia pulang dalam keadaan hamil dari Syria.

Sang mentri tidak menyebutkan angka yang pasti berapa wanita Tunisia yang pergi ke Syria tapi menurut beberapa media lokal Tunisia, lebih dari seratus muslimah Tunisia pergi berjihad nikah ke Syria. Pemerintah Tunisia sendiri sudah mendengar soal Jihad al Nikah ini sejak bulan Maret dan berusaha memperketat izin bepergian ke Syria dan hingga saat ini Tunisia sudah melarang sekitar 6000 orang Tunisia yang akan pergi ke Syria. (Beritanya bisa baca disini dan disini )

Membaca berbagai berita tentang Jihad al Nikah ini diberbagai media termasuk Youtube membuat saya bergidik haruskah seorang muslimah berkorban sedemikian besar mengobral kehormatannya atas nama Jihad? Apakah para wanita ini sedemikian polosnya hingga mudah dicuci otaknya dengan harapan menggapai surga dengan Jihad al Nikah? Kalau ingin menggapai surga masih banyak cara selain Jihad di medan perang, kenapa harus menempuh jalan seperti ini?

Setelah ‘berjihad’ di Syria seorang gadis Tunisia pulang dalam keadaan hamil, siapa yang mau tanggung jawab? Mungkin saja dia sudah melayani puluhan pria, siapa ayahnya tidak diketahui kecuali diuji dengan test DNA. Apa tidak kasihan dengan masa depan bayi dalam kandungan itu?  Jika Jihad al Nikah ini benar terjadi dan bukan hanya propaganda semata, betapa tega ulama yang mengeluarkan fatwa Jihad al Nikah ini karena secara tak langsung dia telah meracuni pikiran para wanita itu.

Para wanita itu mengira apa yang dilakukan adalah demi perang suci tapi tak disadari masa depan suram terbentang didepan mata, tak hanya mengandung anak haram, masih adakah pria yang mau menikahi mereka kelak? Pria mana yang ikhlas menikahi wanita yang sudah digilir puluhan orang walaupun atas nama Jihad? Sungguh menyedihkan, para wanita ini berharap meraih surga apa daya merana di dunia bahkan belum tentu masuk surga…

*Baca artikel lain ►

Pilih Transportasi Massal atau Mobil Murah

Kenapa Venezuela Bisa Menyediakan Transportasi Massal Termurah di Dunia?

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Menghadiri Japan Halal Expo 2014 di Makuhari …

Weedy Koshino | | 27 November 2014 | 16:39

Bu Susi, Bagaimana dengan Kualitas Ikan di …

Ilyani Sudardjat | | 27 November 2014 | 16:38

Saya Ibu Bekerja, Kurang Setuju Rencana …

Popy Indriana | | 27 November 2014 | 16:16

Peningkatan Ketahanan Air Minum di DKI …

Humas Pam Jaya | | 27 November 2014 | 10:30

“Share Your Dreams” dengan Paket …

Kompasiana | | 26 November 2014 | 11:24



HIGHLIGHT

Keuntungan Minum Air Mineral di Pagi Hari …

Vitalis Vito Pradip... | 11 jam lalu

Perbandingan Cerita Rakyat Ande-ande Lumut …

Kinanthi Nur Lifie | 11 jam lalu

Kalau Nggak Macet, Bukan Jakarta Namanya …

Seneng Utami | 11 jam lalu

Merdeka Tapi Mati! …

Engly Ndaomanu | 11 jam lalu

‘Jujur dan Benar dalam Pola …

Asep Rizal | 11 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: