Back to Kompasiana
Artikel

Luar Negeri

Budi Arifvianto

Saya adalah salah satu di antara sekian banyak orang Indonesia yang tertarik belajar dan mendalami selengkapnya

Cerita Lebaran Kami di Delft

HL | 09 August 2013 | 04:44 Dibaca: 836   Komentar: 8   2

Di negeri kami, Indonesia, Idul Fitri merupakan sebuah fenomena tersendiri. Lebaran, begitu orang-orang menyebut hari raya itu, adalah sebuah momentum penting yang telah menjadi tradisi masyarakat Indonesia. Libur panjang, mudik, silaturahim, bertemu kembali dengan keluarga, sanak saudara dan kawan lama di kampung halaman, adalah sebagian dari banyak hal yang menggambarkan apa itu lebaran. Tentu saja, kebahagiaan dan suasana riang gembira tersirat di dalamnya. Sungguh berbeda dengan apa yang terjadi di negeri seberang, dimana lebaran bukanlah suatu hal yang spesial, bahkan tidak dikenal dan tidak dimengerti secara luas oleh warga setempat di negara tersebut. Sebut saja Belanda salah satunya. Tidak ada ‘tanggal merah’ bagi yang merayakan lebaran, apalagi cuti bersama. Mudik ke Indonesia untuk bertemu dengan keluarga dan merayakan lebaran bersama juga bukan hal yang mudah dilakukan. Selain tidak ada libur nasional, ongkos untuk terbang menuju Indonesia pun tidak murah. Jadilah, tidak ada pilihan bagi sebagian masyarakat Indonesia yang sedang studi atau bekerja di Belanda, kecuali menikmati lebaran dengan segala ‘keterbatasan’ yang ada. Namun, kami punya sebuah cerita, cerita tentang lebaran kami di Delft, sebuah kota yang tidak besar tetapi menjadi salah satu tempat studi paling favorit bagi banyak mahasiswa Indonesia di Belanda.

Pada hari lebaran tahun ini, yang bertepatan dengan 8 Agustus 2013, Kota Delft tidak ubahnya seperti hari-hari biasanya. Warga setempat menjalani aktivitas rutin dan pekerjaan hariannya. Hanya saja, kehidupan di kampus dan sekolah masih sepi, karena liburan musim panas baru akan berakhir di penghujung Agustus nanti. Cuaca di pagi harinya cukup cerah dan sejuk dengan temperatur bertengger di angka 16 derajat celcius. Lebaran bagi warga masyarakat Indonesia di Kota Delft, yang mayoritas adalah pelajar Indonesia di Technische Universiteit Delft (TU Delft) dan UNESCO-IHE Institute for Water Education, diisi dengan mengadakan sholat Ied bersama dan serangkaian acara keakraban. Kegiatan yang diprakarsai oleh Keluarga Muslim Delft (KMD) tersebut diselenggarakan dengan menyewa sebuah gelanggang olahraga yang terletak di kawasan Aart van der Leewlaan, Delft. Oleh panitia, gelanggang tersebut ‘disulap’ menjadi sebuah tempat sholat dan tempat silaturahim yang nyaman. Tidak hanya para pelajar Indonesia, para alumni serta masyarakat Indonesia yang bekerja maupun berdomisili di Kota Delft dan sekitarnya juga hadir mengikuti acara tersebut.

13759970001663286517

Takbir bersama sebelum sholat Ied dimulai (Foto: dok. pribadi)

13759973161729630391

Ustadz Winarna sedang memberikan khutbah Idul Fitri (Foto: dok. pribadi)

Seperti lazimnya sholat Ied dilakukan di Indonesia, acara didahului dengan takbir bersama sembari menunggu khotib dan panitia mempersiapkan pelaksanaannya. Imam dan khotib dalam sholat Ied ini adalah Ustadz Winarna. Dalam khutbahnya usai sholat Ied, Ustadz Winarna mengajak para hadirin untuk mengevaluasi diri atas apa yang telah dikerjakan selama Ramadhan yang baru saja berlalu. Bulan Ramadhan, seperti penuturan Ustadz Winarna, adalah bulan pendidikan untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Dan, pendidikan dalam keluarga adalah hal pertama yang harus dilakukan. Seusai rangkaian sholat Ied dijalankan, acara berlanjut dengan halal-bil-halal dan ramah tamah.

137599752181360428

Suasana ramah tamah seusai sholat Ied (Foto: dok. pribadi)

13759976002059790347

Suasana meriah saat acara santap hidangan bersama (Foto: dok. pribadi)

1375997720778904663

Pertunjukan kreasi murid TPQ Tulip (Foto: dok. pribadi)

Lebaran bersama seperti ini tidak saja membuat suasana Idul Fitri di Delft ini meriah, tetapi juga menjadi obat rindu masakan tanah air yang tentu saja sesuatu yang langka di negeri oranye ini. Berbagai hidangan dengan menu Indonesia dipersiapkan oleh ibu-ibu yang tergabung dalam KMD, seperti rendang, opor ayam, sayur lontong, telur balado, sambal goreng kentang, ayam kari dan sebagainya. Menutup rangkaian acara lebaran bersama ini, digelar pertunjukan kreasi murid Taman Pendidikan Al-Quran (TPQ) Tulip yang juga diasuh oleh KMD untuk memfasilitasi pendidikan agama bagi anak-anak Indonesia di Delft dan sekitarnya. Meski digelar di atas panggung yang sederhana, semangat anak-anak tidak surut dalam melantunkan hafalan surat-surat pendek dalam Al-Quran dan lagu-lagu Islami, seperti InsyaAllah dan Assalamu’alaikum. Sekitar pukul 12 siang acara lebaran bersama ini ditutup. Inilah cerita lebaran kami di Delft.

Delft, 1 Syawal 1434H/8 Agustus 2013

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kalau Bisa Beli, Kenapa Ambil yang Gratis?! …

Tjiptadinata Effend... | | 01 November 2014 | 14:03

Sebagai Tersangka Kasus Pornografi, Akankah …

Gatot Swandito | | 01 November 2014 | 12:06

Danau Toba, Masihkah Destinasi Wisata? …

Mory Yana Gultom | | 01 November 2014 | 10:13

Traveling Sekaligus Mendidik Anak …

Majawati Oen | | 01 November 2014 | 08:40

Ayo Wujudkan Rencana Kegiatan Sosialmu …

Kompasiana | | 31 October 2014 | 10:19


TRENDING ARTICLES

MA si Tukang Sate Ciptakan Rekor Muri …

Ervipi | 5 jam lalu

Jokowi Kelolosan Sudirman Said, Mafia Migas …

Ninoy N Karundeng | 5 jam lalu

Pramono Anung Sindir Koalisi Indonesia Hebat …

Kuki Maruki | 6 jam lalu

Keputusan MK Tentang MD3 Membuat DPR Hancur …

Madeteling | 7 jam lalu

Karena Jokowi, Fadli Zon …

Sahroha Lumbanraja | 8 jam lalu


HIGHLIGHT

Film Hollywood Terbaru ‘ Interstellar …

Djarwopapua | 8 jam lalu

Selfie Produk: Narsisme membangun Branding …

Yudhi Hertanto | 8 jam lalu

Masa Kecil yang Berkesan di Lingkungan …

Amirsyah | 8 jam lalu

Kisruh Parlemen, Presiden Perlu Segera …

Stephanus Jakaria | 8 jam lalu

Kalau Bisa Beli, Kenapa Ambil yang Gratis?! …

Tjiptadinata Effend... | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: