Back to Kompasiana
Artikel

Luar Negeri

Ninoy N Karundeng

Wakil Presiden Penyair Indonesia. Filsuf penemu konsep "I am the mother of words - Saya selengkapnya

Syria: Simalakama Israel, NATO, dan Amerika Serikat

OPINI | 19 June 2013 | 07:02 Dibaca: 857   Komentar: 6   2

Korban perang saudara di Syria mencapai 90,000 orang. Pengungsi sebanyak 1,6 juta jiwa. Penderitaan yang amat memilukan hati. Namun konflik tak akan segera berakhir. Berlanjutnya konflik di Syria dan pergeseran geopolitik pasca jatuhnya Saddam Hussein - dengan Iraq yag baru - menyebabkan perimbangan kekuatan militer di Tiimur Tengah. Kini Iran dan Iraq menuju sekutu abadi terkait berkuasanya Syiah di Iraq.

Konflik dan perang saudara di Syria menjadi ajang pembuktian perebutan kekuasaan berdasarkan aliran agama. Campur tangan langsung Hezbollah telah memerkuat posisi Assad. Pasukan pemberontak di Syria mulai kehilangan kekuatan akibat campur tangannya Hezbollah, dukungan Iraq-Iran, dan tentu dukungan Russia dan China.

Skenario penjatuhan Rezim Assad seperti terhadap Qaddafi ternyata menimbulkan konsekuensi negatif. Libya tak sepenuhnya tunduk kepada Barat (AS) - walaupun secara ekonomi Libya harus membayar hutang sebagai akibat pembebasan militer NATO dalam jangka panjang yang ditandatangani oleh Dewan Nasional Libya (LNC) selama konflik.

Syria menjadi kasus yang unik akibat pergeseran perjuangan kelompok garis keras anggota teroris Al Qaeda yang banyak kehilangan ‘pekerjaan’. Kini para teroris pengangguran itu berbondong ke Syria. Inilah yang mencemaskan Israel. Bahkan Israel awal bulan ini melakukan serangan udara ke Syria untuk menghantam posisi aliansi pasukan pemberontak yang diyakini berafiliasi dengan Al Qaeda.

Seperti yang telah dituliskan dalam tulisan terdahulu bahwa bersatunya Iraq-Iran menyebabkan (1) kekhawatiran luar biasa Israel untuk jangka panjang. Dua Negara ini akan mampu (2) menyaingi kekuatan militer Israel. Konflik Syria menjadi contoh betapa Iran - Hezbollah yang mendukung Assad telah melumpuhkan dan merebut kota-kota strategis di perbatasan, termasuk Quneitra di Dataran Tinggi Golan yang dikuasai Israel. Kini, Israel punya kepentigan agar Assad jatuh demi untuk (4) membuat Syria lemah dan akan tak akan mampu merebut kembali Dataran Tinggi Golan yang diduduki Israel.

Namun akibat pergeseran geopolitik dan militer di Timur Tengah dan masuknya para teroris yang bergabung mendukung pemberontak telah menyebabkan keraguan luar biasa Israel dan AS terhadap para pemberontak. Siapapun yang memenangkan perang saudara di Syria, tetap saja akan merugikan Israel. Pasukan pemberontak Syria yang mendapat dukungan Al Qaeda tentu suatu saat akan menjadikan Syria sebagai negara baru proyek Al Qaeda setelah kegagalan di Iraq, Mali, Nigeria dan tentu Afghanistan. Syria baru nanti di bawah pemberontak justru akan menjadi ancaman langsung bagi keamanan Israel terkait pendudukan Dataran Tinggi Golan.

Pun Syria di bawah Assad juga akan semakin kuat dan menggugat Golan kembali ke pangkuan Syria. Satu-satunya alasan Syria tidak melakukan perang melawan Israel - meski secara teknis Israel dan Syria masih berstatus perang sejak 1967 dengan direbutnya Golan oleh Israel - adalah Syria lebih memilih kehidupan normal seperti Mesir. Namun kini Syria telah porak-poranda. Dan, pilihan terbaik adalah berjuang membebaskan Golan dari pendudukan Israel.

Itulah sebabnya NATO, Israel dan Amerika Serikat ragu-ragu melakukan serangan atau membantu pemberontak Syria - di samping dukungan kuat Russia, China, Iran-Iraq, dan Hezbollah. Syria adalah simalakama bagi Israel dan Barat. Hal ini disebabkan campur tangannya Al Qaeda dengan mendukung pemberontak. Barat, AS telah belajar dari kasus Libya dan akan sedikit menahan diri campur tangan membantu pemberontak Syria karena terkait kepentingan Israel terhadap Dataran Tinggi Golan.

Jadi konflik Assad dengan pasukan pemberontak di Syria yang telah menewaskan 90,000 dan menyebabkan 1,8 juta pengungsi itu tetap akan berlanjut. Israel dan AS menghitung siapa yang akan berkuasa dan memenangi perang adalah yang paling lemah dengan harapan rezim baru tidak memiliki kekuatan untuk melawan Israel.

Namun masuknya dukungan Hezbollah bagi Assad dan Al Qaeda untuk pemberontak telah membuat Israel dan AS makan buah simalakama. Fakta ini lebih didukung lagi kenyataan bahwa Negara-negara Arab yang pada awalnya berjanji membantu pemberontak ternyata tidak mencairkan dananya yang sudah dijanjikan. Negara-negara Arab pimpinan Arab Saudi juga meyakini jatuhnya Syria kepada pemberontak atau kemenangan Assad akan semakin membuat Iran-Iraq lebih dominan. Tak ada alasan yang memberi keuntungan dukungan kepada pemberontak. Terlebih lagi, siapapun yang memenangi perang di Syria, mereka akan berjuang melawan pendudukan Israel di Golan.

Salam bahagia ala saya.

Tags: freez israel

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kamar Operasi (OK) : Mengamati Sepenuh Hati …

Rinta Wulandari | | 17 April 2014 | 21:30

Baru Capres, JKW Sudah Banyak yang Demo …

Abah Pitung | | 17 April 2014 | 22:13

Curhat Dinda dan Jihad Perempuan …

Faatima Seven | | 17 April 2014 | 23:11

Sandal Kelom, Sandal Buatan Indonesia …

Acik Mdy | | 18 April 2014 | 00:40

Inilah Pemenang Kompasiana - ISIC 2014 Blog …

Kompasiana | | 17 April 2014 | 15:52


TRENDING ARTICLES

Manuver Amien Rais Menjegal Jokowi? …

Pecel Tempe | 9 jam lalu

Demo Jokowi di ITB Salah Sasaran dan …

Rahmat Sahid | 15 jam lalu

Jokowi di Demo di ITB, Wajarkah? …

Gunawan | 18 jam lalu

Pernyataan Pedas Jokowi Selama Nyapres …

Mustafa Kamal | 19 jam lalu

Meski Tak Punya Ijin, JIS Berani Menolak …

Ira Oemar | 20 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: