Back to Kompasiana
Artikel

Luar Negeri

Aang Suherman

Petani-TKI-Jalan-jalan- Ekspresi apa adanya,semoga bermanfaat.

Pasca Insiden KJRI Jeddah, Pelajaran Bagi Pelayanan Publik

HL | 12 June 2013 | 20:07 Dibaca: 808   Komentar: 48   17

Bagaimanapun peristiwa “kerusuhan’ yang terjadi 2 hari yang lalu di KJRI Jeddah sebab utamanya adalah ketidakpuasan dan puncak kekecewaan sebagian TKI yang sedang mengurus dokumen kerjanya kepada pelayanan di lapangan oleh pihak KJRI.

Peristiwa ini bagi Kerajaan Saudi menganggap sebagai sebuah kerusuhan.Menganggu keamanan dan ketertiban di wilayah kedaulatannya,tidak aneh jika selanjutnya pihak keamanan setempat diberitakan menangkapi sejumlah pelaku kerusuhan.Menurut berbagai sumber tidak kurang dari 30 orang TKI ditangkap pasca insiden kerusuhan kemarin,Senin,10 Juni 2013 yang lalu.

Secara hukum mungkin TKI yang tertangkap dan kalau terbukti melakukan insiden kemarin itu bersalah,tetapi pada dasarnya bagi rekan TKI yang sedang mengurus dokumen di sana.mereka semua itu dianggap sebagai “pahlawan”.Menganggap “pahlawan” karena setelah terjadi insiden itu,baru hampir semua pihak membuka mata,walau masih tetap ada pihak yang tak mau menyadari kekurangannya.

Semoga yang diberitakan 30 orang ditangkap polisi Saudi tersebut dapat didampingi bahkan dibantu oleh KBRI,paling tidak hak-hak asasi mereka diperhatikan lalu dideportasi kembali ke tanah air.

Dari pendapat kami kaum TKI Saudi,sepertinya insiden pembakaran pagar dan box plastik pembatas kemarin itu,hanyalah amarah dan insiden sesaat,karena kekecewaan akan lambat dan berbagai kecewa kondisional di lapangan.

Seperti ada seorang teman yang sedang mengurus di sana bagaimana sakit hati dan lelahnya,setelah berjam-jam mengantri,lalu di depan loket (petugas),hanya karena foto copy identitasnya kurang jelas,kertas lalu disobek dan disuruh mengantri lagi di belakang antrian yang mengular…?

Atau,ada TKI yang sejak pagi-pagi naik taksi dari luar kota Jeddah,lalu setelah ngantri habis waktu pelayanannya dan hanya ada pengumuman dari petugas,”..bapak,ibu sodara sekalian,waktu sudah habis,silahkan datang lagi besok hari…’”.

Terbayang bagaimana mereka yang sudah panas-panas di suhu 45 DC,datang dari luar Jeddah,dengan ongkos atau bekal uang menipis,serta belum mendapat kepastian berhasil mendapat SPLP,dan sebagainya.Saya rasa siapapun orangnya pasti akan mudah marah,dan stress lalu mudah ikut-ikutan berbuat anarki.

Dan masih banyak contoh riil seperti ini terjadi pada kenyataan di halaman KJRI saat itu.

Meskipun memang diduga ada semacam provokasi jelek di awalnya,namun sebenarnya pelayanan lambat dan kurang tanggap-lah penyebab kerusuhan (insiden) KJRI pada hari Senin kemarin itu.Yang padahal,jika saja cepat tanggap dan benar sejati memperhatikan mereka ketika waktu ‘darurat’ ,massa membludak seperti pada saat “amnesti’ itu,insiden memalukan seperti kemarin  mungkin tak akan terjadi.

***

Dikabarkan oleh sejumlah teman TKI di Jeddah,pelayanan KJRI hari ini sudah bagus dan berjalan lancar.Mungkinkah jika tidak ada insiden hari Senin kemarin,pelayanan dan kinerja KJRI Jeddah akan seperti hari ini….?

Semoga,budaya pelayanan publik baru berbenah diri dan baik-baik jika sudah ada “rusuh’ itu menjadi perhatian semua pihak.

Jangan menunggu massa atau rakyat marah dulu,baru pelayanan ditingkatkan.Selama ini seperti tak memperhatikan kami TKI,setelah ada rusuh kinerja mulai ditingkatkan.

Apakah harus semua pelayanan publik bangsa ini,baru meningkatkan kinerja setelah terjadi massa mengamuk..?

Amuk massa di KJRI kemarin,menjadi PR semua pihak di tanah air.Kita rakyat tidak mau yang namanya anarki dan amuk massa terjadi.Yang rugi tentu rakyat juga akhirnya.

Pak Kedubes dan yang terkait,tolong dibantu rekan kami yang ditangkapi Polisi Saudi (jika memang benar berita ini terjadi),yakinlah mereka bertindak mengamuk kemarin itu hanyalah,luapan rasa kesal dan marah sesaat,Karena pelayanan kurang memuaskan menurut pandangan kami para TKI di kenyataan.

Mereka adalah lonceng terjujur yang mengingatkan sebuah realitas kekurangan semua pihak terkait.Itupun jika semua pihak itu mau jujur sejujur-jujurnya,bukan malah menyangka ada provokasi yang berlebihan seperti yang disangka beberapa pejabat ke media massa di tanah air.

Insiden Senin kemarin adalah luapan kekecewaan kondisional dan spontan karena “kinerja’ petugas baik teknis maupun non teknis waktu itu,dirasa kurang memuaskan TKI yang memang sebelumnya mereka sudah punya banyak masalah pribadi di kepala-nya masing-masing.

Semoga jadi hal pembelajaran dan pelajaran bagi semua.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Membayar Zakat Fitrah di Masjid Turki, …

Gaganawati | | 27 July 2014 | 22:27

Kiat Menikmati Wisata dengan Kapal Sehari …

Tjiptadinata Effend... | | 27 July 2014 | 19:02

Indahnya Perbedaan :Keluarga Saya yang Dapat …

Thomson Cyrus | | 27 July 2014 | 19:45

Ini Rasanya Lima Jam di Bromo …

Tri Lokon | | 27 July 2014 | 21:50

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

Berlebaran Tetap Gaya dengan Kaos Kompasiana …

Topik Irawan | 4 jam lalu

Temuan KPK: Pemerasaan Pada TKI Capai Rp 325 …

Febrialdi | 26 July 2014 22:14

KPK Lebih Dibutuhkan TKI Ketimbang TNI, …

Fera Nuraini | 26 July 2014 19:21

Taruhan Kali Ini Untuk Jokowi dan Demokrasi …

Hosea Aryo Bimo Wid... | 26 July 2014 19:19

Surat Lebaran untuk Emak …

Akhmad Mukhlis | 26 July 2014 14:40

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: