Back to Kompasiana
Artikel

Luar Negeri

Yeano Andhika

Abdi Allah | Mahasiswa Ekonomi | Pemerhati Sosial dan Politik | Mencoba Berjuang Lewat Pena

Bersama Vatikan Menegakkan Ekonomi Islam

OPINI | 17 May 2013 | 16:55 Dibaca: 354   Komentar: 0   2

Bapa suci umat Katolik sedunia, Paus Fransiskus sebagaimana dikutip dari  kontan online (17/05) begitu berapi-api dalam menyampaikan pidatonya.Beliau mengutuk dengan keras kapitalisme yang semakin tidak terkendali dan sikap mengultuskan uang dewasa ini.Paus menyebut diperlukannya reformasi etis dari sistem finansial, agar dapat menciptakan masyarakat yang lebih humanis.Beliau menyerukan para politisi untuk mengetahui akar permasalahan krisis ekonomi yang terus berkelanjutan, lebih lanjut Paus asal Argentina ini menganggap bahwa masyarakat modern dewasa ini melihat uang lebih berkuasa daripada orang dan masyarakt itu sendiri.

Kapitalisme telah membuat ketimpangan yang besar di dalam masyarakat, lebih lanjut beliau menyatakan hal ini bisa terjadi karena ideologi yang mengedepankan otonomi absolut dari pasar dan spekulasi finansial, sehingga orang-orang bisa menafikan kontrol yang  dilakukan negara. Padahal di sisi lain, negaralah yang bertugas untuk menyediakan aturan untuk kebaikan bersama.Selama menjadi Pator di ibukota Buenos Aires, pria bernama asli Jorge Mario Bergoglio ini menyaksikan sendiri bagaimana krisis finansial menghantam negaranya.Etika menurut beliau juga seringkali telah dihilangkan termasuk dalam kegiatan ekonomi, sehingga diperlukan reformasi finansial yang sejalan dengan etika dan menghasilkan reformasi ekonomi untuk semua.Sehingga uang bersifat melayani bukan sebagai penguasa.

Pidato Paus Fransiskus tentu saja menggembirakan, karena memang kapitalisme telah merenggut hajat kebahagiaan hidup orang banyak.Kapitalisme telah ‘memperkosa’ kehormatan manusia dalam hal ekonomi, tak peduli apa agamanya, apa bangsanya, semua direnggut dengan paksa oleh kapitalis-kapitalis bejat.Kapitalisme telah membuat pemilik uang berkuasa dan semakin berkuasa, tetapi membuat si miskin menderita dan semakin menderita.Disparitas antara si kaya dan si miskin tidak ubahnya hanya menjadi pemanis ekonomi, yang ada para kapitalis duduk di singgasana bertahtakan harta sedang si miskin dibiarkan menderita tanpa tahu bagaimana mereka keluar dari jurang kemiskinannya.Diharapkan seruan-seruan Paus Fransiskus dapat menggerakkan umat Katolik yang jumlahnya satu milyar lebih di seluruh dunia, untuk bersama-sama menegakkan ekonomi yang adil bagi semua.

Sosialisme, kapitalisme dan sistem ekonomi lain terbukti telah gagal membuat si kaya dan si miskin mendekat, tentu saja ini tidak boleh dibiarkan.Perbaikan ekonomi dunia harus menyentuh semua, bukan mengangkat satu golongan dan menjerumuskan golongan yang lain.Ini tentu saja sejalan dengan prinsip ekonomi Islam yang ingin menghadirkan keadilan ekonomi untuk semua, melintasi benua, suku bangsa dan agama karena pada dasarnya kesejahteraan harus diperoleh oleh semua.

Mungkin karena sejalan dengan visi misi Vatikan itulah surat kabar resmi Vatikan Osservatore Romano dalam artikelnya pernah menulis bahwa  Prinsip-prinsip etis yang mendasari keuangan Islam dapat membawa bank-bank lebih dekat dengan klien mereka dan kepada semangat sejati yang seharusnya menandai setiap layanan keuangan.Editor Osservatore editor, Giovanni Maria Vian, mengatakan bahwa agama-agama besar selalu punya perhatian yang sama bagi dimensi kemanusiaan atas ekonomi.

Menyimpulkan dari pernyataan Vatikan di atas, Islam dan Katolik seharusnya bersinergi untuk membagun ekonomi dunia yang lebih baik dengan gabungan dua ummat yang begitu besar jumlahnya.Sistem ekonomi Islam yang mengandung nilai-nilai sebagaimana yang diinginkan Paus Fransiskus untuk membenahi ekonomi dunia harus diterapkan karena sifatnya yang universal.Toh, salah satu pasal utama ekonomi Islam yakni penghapusan riba juga merupakan hal yang diserukan dalam ajaran Katolik.

“Tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan dengan tidak mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat.”(Lukas:6:35)

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Ada Kain Benang Emas dan Ulos Gendongan Bayi …

Piere Barutu | | 24 April 2014 | 22:40

Lost in Translation …

Eddy Roesdiono | | 24 April 2014 | 22:52

PLN Gagap Online …

Andiko Setyo | | 24 April 2014 | 23:40

Drawing AFC Cup U-19: Timnas U-19 Berpotensi …

Primata Euroasia | | 24 April 2014 | 21:28

Mengenal Infrastruktur PU Lewat Perpustakaan …

Kompasiana | | 21 April 2014 | 15:12


TRENDING ARTICLES

Di Mana Sebenarnya MH370? Waspada Link …

Michael Sendow | 14 jam lalu

Bila Separuh Gaji Karyawan Memang untuk …

Agung Soni | 17 jam lalu

Demam Masha and Bear, Lagi-lagi Film Animasi …

Heru Andika | 21 jam lalu

Senayan, Panggung Baru Para Artis… …

Iswanto Junior | 22 jam lalu

Nasib Capres ARB (Ical Bakrie) dan Prabowo …

Mania Telo | 23 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: