Back to Kompasiana
Artikel

Luar Negeri

Dewa Gilang

Single Fighter!

Mereka Membidik Iran, dan Bukan Suriah

OPINI | 09 May 2013 | 07:41 Dibaca: 2307   Komentar: 19   7

Ada kebingungan yang hinggap ketika menyimak berita bahwa Israel telah ikut campur dalam perang yang berkecamuk di Suriah. Pada Minggu, 5/5/2013, militer Israel menyerang tiga fasilitas militer Suriah di Damaskus.

Atas kepentingan apa Israel turut serta menggempur Suriah bersama para pasukan pemberontak yang mengaku sebagai “mujahidin”?

Sebab, Suriah jelas bukan suatu ancaman yang serius, baik bagi Israel maupun negara-negara tetangga lainnya. Anggaran pertahanan Suriah kurang dari satu perlima dari anggaran pertahanan yang dipunyai oleh Israel.

Angkatan darat serta angkatan udaranya pun sama sekali tidak istimewa. Sehingga Israel Defense Force (IDF) akan dengan mudah menggulungnya andai perang konvensional yang serius sungguh terjadi. Hal ini membuat Suriah akan berpikir dua sampai tiga kali untuk memancing kemarahan Israel.

Dari sini patut diduga bahwa bukan Suriah yang menjadi bidikan Israel dan juga Amerika yang berada di balik layar para pemberontak “mujahilin”, melainkan Iran yang merupakan karib terdekat dari Suriah. Dengan jatuhnya Suriah ke tangan “pemimpin boneka” akan membuat rencana mereka untuk menghabisi Iran, sebagai negara satu-satunya yang belum “takluk”, akan lebih mudah.

Strategi “Memancing Ular Keluar dari Sarangnya” juga patut diduga diterapkan oleh Israel pada serangan ke Suriah kali ini. Mereka berharap Iran akan turut serta dalam perang konvensional yang terjadi di Suriah. Dan bila ini terjadi, maka akan bertambah satu alasan untuk menyerang negeri para “Mullah” tersebut.

Mengapa Iran dan bukan Suriah?

Mengutip John J. Mearsheimer, Iran adalah negara berazaskan Islam yang paling kuat di Teluk Persia dan memiliki peluang untuk mendominasi kawasan kaya minyak itu, dan makin bertambah kuat.

Iran yang makin kuat jelas tidak baik bagi Amerika, yang sudah lama berusaha mencegah negara manapun mendirikan hegemoni di Teluk Persia. Prinsip dasar ini menjelaskan mengapa pemerintahan Reagan pernah mendukung Saddam di tahun 1980-an, ketika Iran tampaknya akan mengalahkan Irak.

Israel pun sama resahnya ketika menyaksikan Iran mendominasi Teluk, sebab sebuah “regional powerhouse” semacam itu dapat menjadi sebuah ancaman strategis jangka panjang.

Keresahan Israel belum lagi ditambah dengan sikap pemimpin Iran yang kerap melontarkan pernyataan-pernyataan tajam perihal negara tersebut.

Akan tetapi bukan hanya AS dan Israel saja yang merasa “galau” oleh Iran, melainkan juga negara-negara Arab muslim tetangga Iran. Mereka agak curiga kepada Iran, karena negara itu negara Persia, bukan Arab. Juga karena sentimen Sunni-Syiah yang telah lama menjadi beban sejarah.

Dalam hal ini AS, Israel, dan negara-negara Arab sekutu keduanya, memiliki minat tersendiri untuk membuat Iran bertambah kuat dan mencegahnya menjadi negara paling berkuasa di kawasan itu.

Dari sini kita dapat memahami mengapa para pemberontak suatu negara (di Suriah-pen) justru mendapatkan sokongan dari AS. Karena bukan negara itu yang menjadi target bidikan, melainkan Iran.

Di sini juga kita dapat memahami mengapa negara-negara Wahabi mendukung pemberontak di Suriah, baik melalui fatwa-fatwa maupun tenaga para “mujahilin” untuk membantu pemberontak menumbangkan pemerintahan yang sah di Suriah.

Walhasil dengan tumbangnya Suriah, maka “kaki” Iran otomatis akan lumpuh. Tinggal kaki satunya yang berpijak di Lebanon (Hizbullah-pen). Sementara Hammas, yang selama ini mendapat dukungan penuh dari Iran dan Suriah, justru telah melupakan “kebaikkan” kedua negara tersebut.

Percaya atau tidak, sebenarnya Iran-lah yang berada dalam titik sasaran dan bukan Suriah. Setelah Iran runtuh, maka otomotis seluruh negara-negara Teluk dan Arab telah jatuh ke dalam genggaman AS dan sekutunya. Dan kita hanya akan melihat “para boneka” di sana.

Gitu aja koq repot!

Ditulis sebagai tanggapan atas serangan Israel terhadap Suriah.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Mau Ribut di Jerman? Sudah Ijin Tetangga …

Gaganawati | | 24 October 2014 | 13:44

Pesan Peristiwa Gembira 20 Oktober untuk …

Felix | | 24 October 2014 | 13:22

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39

Pelayanan Sertifikasi Lebih Optimal Produk …

Nyayu Fatimah Zahro... | | 24 October 2014 | 07:31

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40


TRENDING ARTICLES

Pak Jokowi, Kemana Pak Dahlan Iskan? …

Reo | 9 jam lalu

Akankah Jokowi Korupsi? Ini Tanggapan Dari …

Rizqi Akbarsyah | 14 jam lalu

Jokowi Berani Ungkap Suap BCA ke Hadi …

Amarul Pradana | 15 jam lalu

Gerindra dapat Posisi Menteri Kabinet Jokowi …

Axtea 99 | 17 jam lalu

Nurul Dibully? …

Dean Ridone | 17 jam lalu


HIGHLIGHT

Kursi Gubernur Ahok dan Ambisi Mantan Napi …

Zulfikar Akbar | 8 jam lalu

Dosen Muda, Mana Semangatmu? …

Budi Arifvianto | 8 jam lalu

Aku Berteduh di Damai Kasih-Mu …

Puri Areta | 8 jam lalu

Pengembangan Mutu Akademis Berbasis Digital …

Nararya | 9 jam lalu

Jangan Musuhi TVOne, Saya Suka Tendangan …

Erwin Alwazir | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: