Back to Kompasiana
Artikel

Luar Negeri

Benny Kalakoe

Homo floresensis yang melanglang buana di Amerika Selatan.

Ketika Indonesia Ber-Bhineka Tunggal Ika dengan Negara-negara Lain di San Isidro, Lima, Peru

HL | 08 May 2013 | 05:04 Dibaca: 1033   Komentar: 26   8

¿Qué es eso? (Apa itu?) , tanya Josua Cesar. Cesar ingin tahu bambu-bambu yang berjejer  di stand Indonesia. Setelah dijelaskan bahwa itu alat musik terbuat dari bambu yang dinamakan angklung, Cesar menjadi sadar. Selama ini dia hanya mengenal kegunaan bambu dalam bidang lain. Ternyata di Indonesia bambu juga bisa dijadikan alat musik. Setelah dia melihat penampilan angklung dari Indonesia yang dibawakan ibu-ibu dan bapak-bapak dari KBRI dia kembali ke stand Indonesia untuk mencoba memainkan angklung. Lalu dia bilang, “Quiero tocar el angklung!” (Saya ingin main angklung!).

13679629701484297881367963104753153190

Itulah yang terjadi dengan seorang pengunjung stand Indonesia. Keingintahuan masyarakat Lima Peru tentang Indonesia, yang jauh di belahan bumi lain dari Peru, seakan-akan hadir nyata di tengah mereka. Stand Indonesia yang kali ini lumayan besar menampilkan beberapa keunikan Indonesia seperti angklung, batik, gamelan, wayang kulit dan wayang orang, serta beberapa patung dan karya seni lainnya dari seluruh Indonesia.

136796320518770232741367963299570204055

Setiap tahun Distrik San Isidro, di mana sebagian besar Kedutaan Besar di Peru berada, merayakan HUT Distrik dengan mengundang semua kedutaan yang ada di wilayahnya untuk memperkenalkan negaranya masing-masing. Acara yang diberi nama “San Isidro Abre Sus Puertas Al Mundo” (San Isidro membuka pintunya bagi dunia) dihadiri oleh kurang lebih 46 negara. Negara-negara dari Asia yang terlibat antara lain, Cina, Jepang, Korea, India, Indonesia, Malaysia, dan Tailand. Dalam kata sambutannya, Dubes Indonesia, Yosef Berty Fernandez, mengucapkan selamat kepada Distrik San Isidro yang memberikan kesempatan kepada semua negara untuk berpartisipasi dan melakukan dialog hidup dengan semua negara yang ada di dunia. Dia berharap semoga acara ini bisa mengembangkan wawasan warga Distrik San Isidro, terutama anak-anak sekola di wilayah ini, supaya semakin mengenal dunia lain dan suatu saat mampu mengembangkan kerjasama bilateral dalam berbagai hal dengan negara mana saja di dunia ini. Dia juga mengundang warga Distrik San Isidro untuk mampir di stand Indonesia untuk mengenal Indonesia.

13679634079754208601367963463718952572

Kali ini Stand Indonesia memperkenalkan beberapa hal menarik buat siapa saja yang mau mengenal Indonesia. Misalnya memperkenalkan cara membuat batik tulis. Pak Tantan yang sudah mempelajari cara membuat batik di Yogyakarta Indonesia, menebarkan cara pembuatan batik kepada para pengunjung. Mereka sangat tertarik untuk ikut membatik, karena daya seni yang digunakan cukup tinggi dan menuntut ketekunan dalam melakukannya. Anak-anak menjadi semakin senang ketika mereka ikut membatik (seperti terlihat dalam foto di atas).

136796356413466075901367963627803269514

Indonesia juga memperkenalkan berbagai alat musik tradisional, seperti Angklung dan Gamelan. Musik angklung yang dibawakan KBRI menjadi satu-satunya musik tradisional yang membuat panggung San Isidro terasa lain. Lagu “El Condor Pasa” yang menjadi lagu kebanggaan masyarakat Peru, didendangkan dengan begitu indahnya, mendapat sambutan hangat para penonton. Keingintahuan mereka untuk memainkan angklung juga terpenuhi saat mereka memainkan angklung di stand KBRI.

1367963707324616001367963750497389154

Para pengunjung khususnya anak-anak, juga sangat menyukai gamelan. Bunyi gamelan yang khas membuat mereka bertanya tentang alat musik ini dan memainkannya. Bahkan mereka berjanji untuk membuka dan mencari tahu di youtube bagaimana gamelan  dimainkan dalam sebuan ensemble di Indonesia. (Lihat di foto anak-anak mencoba memainkan gamelan).

136796384443723549413679639151166908010

Hal lain yang menarik para pengunjung adalah wayang kulit dan wayang orang. Setelah mereka mengetahui apa itu wayang kulit dan wayang orang mereka tertarik untuk membelinya. Tetapi kedutaan tidak menjual Wayang Orang atau Kulit yang ada. Mereka meminta kalau bisa suatu saat kalau ada pertunjukkan lagi mereka ingin membeli wayang kulit atau wayang orang, karena begitu menarik untuk dijadikan hiasan di rumah.

136796400094656303213679640521738958905

KBRI Lima-Peru juga memperkenalkan website dan Facebook KBRI kepada para pengunjung. Setiap pengunjung yang memasuki Facebook KBRI dan memberi klik “me gusta” (like/suka) akan mendapat hadiah, berupa tas yang bergambarkan wayang kulit. Hal ini membuat stand KBRI dipenuhi antrean para pengunjung karena mereka ingin mendapat tas kecil khas Indonesia.

Hal yang sangat menarik adalah, para pengunjung ingin mengambil foto dengan para penari Indonesia. KBRI mempersembahkan tarian “Rejang Dewa” dari Bali. Tarian ini membuat suasana panggung menjadi sangat khas Bali. Musik gamelan yang mengiringi tarian tersebut membuat para penonton seakan terbawa ke dunia lain, dunia yang jauh dari Peru. Video Indonesia yang melatarbelakangi tarian tersebut menunjukkan Indonesia yang “wonderful”. Para penonton sangat puas dengan tarian tersebut dan mereka meminta supaya para penarinya mengambil foto bareng dengan mereka. Tidak hanya itu Indonesia juga memperkenalkan tarian “Tari Bulu Gila” yakni tarian dari Ambon. Musik khas ambon yang begitu gembira dibandingkan dengan musik gamelan dari Bali yang begitu sakral menunjukkan keanekaragaman budaya Indonesia. Para penonton sangat puas dengan persembahan tarian dari Indonesia karena membawa suasana khas Indonesia di tengah-tengah pesta San Isidro.

13679641391274639922

Hal yang tidak kalah menariknya adalah, acara ini juga menjadi ajang untuk berkenalan dengan negara-negara lain. Stand Indonesia yang berdampingan dengan India dan Israel menjadi sangat menarik. Israel yang tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Indonesia, menyatakan bahwa di sini kita semua sama, menunjukkan kepada dunia bahwa dalam kebhinekaan itu dunia ini indah. Demikian juga dengan stand Palestina yang berseberangan dengan dengan Stand Indonesia memberikan warna yang sama. Dalam kebhinekaan setiap negara  ternyata dunia itu semakin indah. Banyak pengunjung dari mancanegara yang mengunjungi Stand Indonesia menyatakan bahwa mereka sudah mengunjungi Indonesia yang begitu indah. Sementara mereka yang belum indah berjanji untuk suatu saat berkunjung ke Indonesia.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Menebar Rimpang Jahe Menuai Rupiah Sebuah …

Singgih Swasono | | 16 April 2014 | 09:28

Perang Saudara Kian Dekati Timur Eropa …

Adie Sachs | | 16 April 2014 | 17:51

Pelecehan Anak TK di Jakarta International …

Sahroha Lumbanraja | | 16 April 2014 | 13:53

Cinta Nggak Cinta Itu Bisa Dijelaskan, …

Gilang Parahita | | 16 April 2014 | 14:49

Kompasianer Mengawal Pemilu 2014 …

Kompasiana | | 09 April 2014 | 04:17


TRENDING ARTICLES

Memalukan! Kapten Persebaya dan Pelatih …

Ethan Hunt | 8 jam lalu

Tolak Mahfud MD atau Cak Imin, PDIP Duetkan …

Ninoy N Karundeng | 9 jam lalu

Benarkah ‘Bertemu Dubes AS, Jokowi …

Kosmas Lawa Bagho | 10 jam lalu

ILC dan Rakyat yang Mata Duitan …

Jonny Hutahaean | 10 jam lalu

Belum Semua Kartu Jokowi Terbuka …

Hanny Setiawan | 18 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: