Back to Kompasiana
Artikel

Luar Negeri

Aang Suherman

Petani-TKI-Jalan-jalan- Ekspresi apa adanya,semoga bermanfaat.

BMI Riyadh Potret Buruh yang Sesungguhnya

REP | 01 May 2013 | 18:42 Dibaca: 911   Komentar: 45   14

13674074991025554040

Demi anak isteri terus sekolah dan hidup di tanah air,kami rela jauh dari sanak keluarga.(Foto :dokpri;Aang S & H.Misdin)

BMI atau TKI Informal di Riyadh ,sesungguhnya adalah buruh yang berarti kuli,yaitu mendapatkan gaji dari seorang Majikan dan bekerja hasil dari benar-benar harus keluar keringat.Sebagian besar pekerjaannya menggunakan atau hasil dari otot bukan dari otak.

Jenis pekerjaan ini sering disebut TKI informal,seperti TKI PRT,TKI Sopir,Penjaga Rumah atau kebun dan penjaga Toko.Di Riyadh,sejumlah TKI Informal atau semi informal masih berkondisi ‘buruh ‘ dalam arti kuli.Yaitu ada istilah majikan dan TKi yang seperti “budak’.

Kondisi perbudakan yang sangat nampak adalah,ketakutan kepada majikan yang kadang berlebihan.Dipaksa bekerja bukan di peruntukkannya.Misalnya jam kerja yang harus siap (ready 24 jam), tanpa ada hari libur mingguan atau bulanan.Bekerja sepanjang tahun.

TKI Sopir kadang harus bekerja ekstra,selain mengemudi mobil bagi keperluan majikannya,juga dipekerjakan harus membersihkan halaman,mencuci pagar atau mengurus taman tanpa dibayar tambahan sebagaimana Perjanjian Kerja bahwa bekerja sebagai Driver (Sopir) saja.

Kedua,bila ada kesalahan bisa terjadi adanya ketidakadilan,karena faktor bahasa,lalu faktor teknis tidak bisa terjangkau secara cepat oleh satgas TKI,dan jika bermasalah dengan majikan pada umumnya mereka selalu berada di pihak yang salah (atau kalah).

Moratorium pengiriman TKW PRT dan sekaligus TKI Informal pria saat ini,semoga menjadi jalan keluar dari segala masalah TKI Saudi. Dan pemerintah mendapat kesempatan untuk menata lagi sistem pengiriman TKI informal ke Saudi.Agar hak-hak dan kewajiban antara kedua belah pihak bisa ditata kembali dengan lebih “berperikemanusiaan dan menghormati Hak Azasi Manusia”.

Memanusiakan TKI,agar tidak dianggap TKI PRT atau Sopir adalah sebagai bangsa budak

Tidak dapat dipungkiri,lowongan kerja sektor PRT dan Sopir pribadi plus Penjaga Toko dan sejenisnya di Saudi,hampir 20 tahun sudah menyumbang besar kepada devisa negara.Serta secara individual telah menjadi jalan instan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat bawah Republik Indonesia.

Dengan melihat manfaat yang langsung bisa dirasakan,sebagai lowongan kerja yang instan dan bisa segera dirasakan,dengan syarat keahlian yang tidak selalu harus berpendidikan tinggi,dan warga Saudi sudah cocok dengan TKI,maka kemungkinan dibuka kembali layak dipertimbangkan.Namun dengan catatan.

Catatan yang dimaksud,pemerintah dalam hal ini Menakertrans atau BNP2TKI,jika,sekali lagi jika akan membuka lagi pengiriman TKI informal ke Saudi.Tolong buat peraturan yang bisa menghormati “harkat derajat kami kaum TKI /BMI sebagai Manusia,bukan sebagai Budak’.

Jika pemerintah kedua belah pihak tidak menjamin kondisi yang demikian,Memanusiakan kami kaum buruh TKI Saudi,kami kira jangan buka pengiriman TKI Informal sampai kapanpun.Karena “perbudakan’ yang sudah terjadi kepada kaum TKI Informal Saudi,diawali dari Jakarta.Berawal dari kebijakan Jakarta di waktu-waktu yang lalu.

Salam selamat hari buruh buat semua teman buruh informal maupun buruh formal.Semoga ibadah bekerja kita mendapat keridlaan dari Tuhan yang Maha Esa dan rezeki yang kita dapat diberkahkan oleh-Nya.

13674076191934447040

TKI Sopir Senior di Riyadh.Putra-putri mereka ada yang sudah jadi Sarjana,hasil jadi budak di Saudi (foto dokpri;Aang & H.Misdin)

13674076911506551180

Sebagian rekan TKI PRT yang berjuang demi keluarga jadi

1367407923947847135

TKI PRT tetap paling diminati oleh Warga Saudi (foto;dok.Aang S & H.Misdin)

13674080701879123804

Beberapa Warga Saudi ada yang sangat akrab selalu bergaul di komunitas kami TKI Riyadh (foto:dokpri;AS & H.Misdin)

13674248352072916724

Saat bersama teman TKI di Toko Indonesia,sejenak terobati kerinduan ke keluarga di tanah air.(dokpri:Ang S & H.Misdin)

Tags: mayday

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

(Foto Essai) Menyambut Presiden Baru …

Agung Han | | 20 October 2014 | 20:54

Menilai Pidato Kenegaraan Jokowi …

Ashwin Pulungan | | 21 October 2014 | 08:19

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Najwa Shihab Jadi Menteri? She Is A Visual …

Winny Gunarti | | 21 October 2014 | 07:08

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39


TRENDING ARTICLES

20 Oktober yang Lucu, Unik dan Haru …

Alan Budiman | 6 jam lalu

Tangisan Salim Said & Jokowi’s …

Iwan Permadi | 8 jam lalu

Off to Jogja! …

Kilian Reil | 9 jam lalu

Antusiasme WNI di Jenewa Atas Pelantikan …

Hedi Priamajar | 12 jam lalu

Ini Kata Koran Malaysia Mengenai Jokowi …

Mustafa Kamal | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

Dunia Intuisi …

Fawwaz Ibrahim | 7 jam lalu

Presiden Baru, Harapan Baru …

Eka Putra | 7 jam lalu

Jokowi Membuatku Menangis …

Fidiawati | 8 jam lalu

Jokowi Sebuah Harapan Baru? …

Ardi Winangun | 8 jam lalu

Potret Utang Luar Negeri Indonesia …

Roby Rushandie | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: