Back to Kompasiana
Artikel

Luar Negeri

Adie Sachs

I'm Smart and Handsome and Happy and Succesfull… AMIN. #Warning: zoom-in PP dapat membuat anda selengkapnya

Perang Korea: Memahami Tujuan Amerika

OPINI | 07 April 2013 | 09:36 Dibaca: 4892   Komentar: 0   0

13652768581626769641

Photo: Wordpress.com

Jumat lalu, pemimpin Korea Utara Kim Jong-un dilaporkan memerintahkan unit rudal jarak jauh bersiap untuk menyerang Amerika Serikat dan Korea Selatan. Amerika Serikat merespon dengan mengirimkan dua pesawat siluman B-2 bombers menuju Pangkalan Udara Osan yang berjarak sekitar 50 km sebelah selatan dari zona demiliterisasi (kira kira jarak Jakarta, Istana - Depok).

Sekilas, ini seperti bentuk lain dalam permainan kucing dan tikus, dimana Amerika Serikat dan Korea Utara telah terlibat perselisihan sejak Kim Il-sung mengambil alih Republik Demokrasi Rakyat Korea (Korea Utara) pada tahun 1948, dan semakin jengkel oleh Kim Jong-il ketika ia memangku jabatan pada 1994.

Hal ini  memberikan kita gambaran yang baik untuk mengenal lebih dekat alasan konflik kedua negara, terutama soal pandangan politik Korut dan bagaimana Kim Jong-un meneruskan tradisi perselisihan ini dengan Korea Selatan sebagai boneka AS sekaligus tembok diantara mereka.

Secara naluriah, Korea Selatan bukanlah target penghancuran Korut, bagaimanapun, Korsel adalah saudara sedarah sebagaimana kakak-adik yang sering bertikai. Keberadaan AS di Selatan ibarat bentuk lain yang sulit digambarkan bagi kedua Korea.

AS menggunakan Korsel sebagai sekutu untuk menghapuskan Korea Utara, sementara Korsel menggunakan AS sebagai Sahabat sehidup semati, dan Korea Utara memandang AS sebagai halangan yang membuat unifikasi Utara - Selatan menjadi tidak mungkin (Utara berharap Korea bersatu tanpa keterlibatan AS).

Selain keterlibatan Militer AS dalam latihan perang dengan Korsel, kegelisahan Korea Utara bukan hanya karena provokasi permainan perang di Selatan, tapi juga kebijakan AS yang oleh Obama dikenal dengan “Poros ke  Asia”. Peran AS di Asia semakin meningkat setelah China, ASEAN dan India menggeliat sementara sekutu AS di Eropa sedang lunglai.

Perselisihan Korut dan AS sejak perang Korea mereda (secara teknis masih dalam keadaan perang), maka reaksi pemimpin muda Kim Jong-un atas segala embargo dan resolusi PBB untuk negaranya bukanlah hal yang mengejutkan.

Obama boleh dikatakan gagal total dam kebijakannya terhadap Utara, apapun yang dilakukan AS selalu berhasil dianggap sebagai angin lalu oleh Pyongyang  karena tidak menjauhkan negara itu dari ambisi Nuklir bahkan semakin jauh, Kim Jong-un berhasil meraih mimpi ayahandanya dengan mengirim roket ke orbit.

Tanda yang menegaskan bahwa Korea Utara mampu menjangkau Amerika (terutama negara-negara bagian di pantai Barat).

Pemimpin muda seperti Kim Jong-un teramat mudah untuk “digelitik” baik harga diri, ego, dan jiwa mudanya. Dan Amerika sejauh ini secara terbuka telah mengusik harga dirinya dengan latihan militer yang massive dengan Selatan.

Menggoyang ego-nya yang ingin lebih besar dari nama ayahnya dan kakeknya (Kim Jong-il, Kim Il Sung). dan Jiwa mudan seorang Kim Jong-un buka untuk dipermainkan ketika dia memegang kekuasaan yang besar atas segala sumber daya militer, senjata dan nuklir negaranya. Proyek instalasi nuklir Yongbyon yang diaktifkan kembali adalah bukti jiwa muda dan ego seorang Kim telah terusik dengan paksa oleh AS dan Korsel.

Kim Jong-un mungki orang gila dan semenjana yang tidak diperhitungkan oleh mereka yang memgang kendali di Gedung Putih maupun Pentagon. Tapi keberanian AS meremehkan kapasitas anak muda PyongYang adalah bentuk kepercayaan diri yang terlalu tinggi.

Itu bisa menjadi mimpi buruk AS kelak, ketika mereka juga pada saat yang sama mencoba mempermainkan Korea Selatan yang dipimpin oleh seorang wanita untuk pertama kalinya.

Benar,

Utara dipimpin anak muda ingusan, dan Selatan dipimpin seorang perempuan, maka AS sedang bermain perang perangan… Ini adalah kesempatan emas mereka (AS) untuk  menguasai Selatan secara mutlak dan melumpuhkan Utara selamanya.

Tujuan akhirnya?

Berhadapan langsung dengan China atau sedekat mungkin dengannya!!!

Jadi?

Buka Korea Utara yang ingin berperang, tapi Amerika yang sedang kehausan (perang), untuk meringankan beban dari kewajiban menumbuhkan ekonomi yang krisis dan menyelamatkan hegemoni mereka atas Asia. Dan yang paling malang adalah Korea Selatan, kenapa harus ada diantara mereka?

.

.

=SachsTM=

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Laporan dari Kupang, Sambutan Sederhana …

Opa Jappy | | 20 December 2014 | 16:29

Pendekar Tongkat Emas, Karya Anak Bangsa …

Murda Sulistya | | 20 December 2014 | 15:53

5 Alasan Berhenti Menggunakan Styrofoam, …

Gede Surya Marteda | | 20 December 2014 | 12:17

Be a Role Model : Do it Now and Start From …

Fifin Nurdiyana | | 20 December 2014 | 14:14

Blog Competition Coca-Cola Sampai Akhir …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Konyol, @estiningsihdwi Bantah Sanggahannya …

Gatot Swandito | 12 jam lalu

Jangan Nodai Sukacita Natal Kami dengan …

Sahroha Lumbanraja | 14 jam lalu

Presiden Jokowi-Wapres JK Atasi Korban …

Musni Umar | 14 jam lalu

Dihina “Kampret”, Pilot Garuda …

Felix | 15 jam lalu

Salahkah Menteri Rini Menjual Gedung BUMN? …

Daniel Setiawan | 15 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: