Back to Kompasiana
Artikel

Luar Negeri

Sebastian Burhanuddin

Analis di MFXAcademy. Institusi independen dalam edukasi perdagangan berjangka Khususnya Forex.

Masalah Baru di Benua Biru

REP | 19 March 2013 | 00:31 Dibaca: 283   Komentar: 0   2

a href=”fb.me/Euh1BlFr”>Masalah Siprus bisa jadi bom waktu

em>Pajak deposito dapat percikan kekhawatiran

Pajak deposito dapat percikan kekhawatiran

Siprus yang berjanji menjadi titik terang terhadap krisis di Eropa euro meskipun ukurannya yang kecil, namun pejabat Brussels telah mengubahnya menjadi situasi yang eksplosif dengan upaya baik mereka untuk menjamin penabung kecil untuk menyelamatkan bank bermasalah di Negara tersebut.

Keputusan untuk memberlakukan “pajak stabilitas” yang belum pernah terjadi sebelumnya pada deposito bank sebagai syarat untuk memberikan dana talangan menimbulan risiko perbankan di Siprus dan kemungkinan akan terus berjangkit ke seluruh Eropa selatan.

Untuk menyelamatkan bank-bank yang terlalu berat, Siprus membutuhkan dana penyelamatan yang sama dengan produk domestik bruto tahunan, tapi jumlah itu - sekitar $ 22 miliar - seharusnya merupakan porsi yang relatif kecil mengingat dari dana bantuan perekonomian keseluruhan Uni Eropa senilai $17 triliun.

Dari $22 miliar yang dibutuhkan, Uni Eropa hanya bersedia menyediakan $13 milyar, dengan sisanya berasal dari pajak deposito dan langkah-langkah lainnya.

Yang mempersulit masalah ini adalah bahwa sekitar seperlima dari deposito di bank Siprus berasal dari Rusia, dan pejabat Jerman pada khususnya telah menolak keras penyelamatan yang menalangi deposan asing.

Besarnya pajak untuk penabung kecil - 6,75% untuk deposito di bawah 100.000 euro - sangat mengejutkan pejabat Siprus, yang sebelumnya menerima tingkat sekitar 3%. Pada saat yang sama, pemerintah Siprus tidak ingin memungut pajak lebih dari 10% pada deposito di atas 100.000 Euro karena takut rekening yang berasal dari luar negeri angkat kaki dari Negara tersebut.

Akibatnya, Nicosia sudah menghadapi reaksi politik yang parah dan potensi masal perbankan, yang telah memaksa pemerintah untuk menunda pemungutan suara pada paket bailout yang awalnya dijadwalkan pada hari Minggu karena merasa tidak yakin anggota parlemen akan menyetujuinya.

Perbankan di Siprus tutup pada hari Senin karena hari libur dan akan tetap ditutup sampai Kamis karena pemerintah mencoba untuk mendapatkan syarat yang lebih dapat diterima untuk paket bailout tersebut.[Mw/Mfx/SB]

/p>

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Mengintip Penambangan Batu Mulia Indocrase …

Syukri Muhammad Syu... | | 01 February 2015 | 11:47

Bedanya Menyisihkan dengan Menyisakan (Uang) …

Rokhmah Nurhayati S... | | 01 February 2015 | 09:26

Telisik Dirilah saat Anak Membangkang! …

Muhammad Armand | | 01 February 2015 | 14:14

Mengejar Jodoh Ala Anak Muda Saudi …

Mariam Umm | | 31 January 2015 | 19:56

Catatan Kecil untuk Kinan …

Swazta Priemahardik... | | 01 February 2015 | 02:38


TRENDING ARTICLES

Mantan Penyidik KPK Akan Ungkap Borok …

Sang Pujangga | 6 jam lalu

Mitologi Jawa dalam Kepemimpinan Jokowi …

Musri Nauli | 19 jam lalu

Sebab Senyapnya KMP di Kegaduhan …

Pebriano Bagindo | 20 jam lalu

Titik Temu, Catatan Kritis untuk Mata Najwa …

Mahi Baswati | 31 January 2015 16:22

Siapa Adu Domba Jokowi dan Megawati? …

Nusantara Link | 31 January 2015 15:16


Subscribe and Follow Kompasiana: