Back to Kompasiana
Artikel

Luar Negeri

Muhammad Kunta Biddinika

Warga Yogyakarta, Indonesia. Sedang tinggal di Yokohama, Jepang. Menyukai berbagai hal tentang nuklir.

Dua PNS Jepang yang Dikirim Ke Lokasi Gempa-Tsunami Bunuh Diri Karena Merasa Tidak Memberi Banyak Manfaat Disana

REP | 07 March 2013 | 08:12 Dibaca: 858   Komentar: 0   0

Pada tanggal 3 Januari 2013 lalu, seorang pegawai pemerintah daerah di Jepang yang sedang ditugaskan ke daerah bekas terkena tsunami ditemukan gantung diri.

Pegawai yang berasal dari wilayah barat Jepang tersebut ditugaskan di kota Otsuchi, Prefektur Iwate dan sehari-hari tinggal di perumahan sementara (temporary housing) tempat dimana jasadnya ditemukan tergantung bersama dengan sebuah catatan kecil di dekatnya.

“Terima kasih semuanya. Otsuchi adalah kota yang indah. Tetap semangat, Otsuchi..!” demikian yang tertulis di catatannya.

Sebelumnya, seorang pegawai pemerintah yang ditugaskan ke wilayah yang terkena bencana gempa-tsunami juga mengakhiri hidupnya pada Juli 2012 lalu. Dia berasal dari Morioka, ibukota Prefektur Iwate dan sedang ditugaskan untuk membantu proses rekonstruksi di kota Rikuzentakata.

Kedua pegawai pemerintah tadi merasa ragu apakah keberadaan mereka di lokasi bencana cukup bermanfaat. Soalnya keduanya ditugaskan di posisi di luar bidang keahlian mereka di kantor sebelumnya.

Pihak berwenang di Pemerintahan Kota Otsuchi mengatakan bahwa sang pegawai berusia 45 tahun, berasal dari Takarazuka, Prefektur Hyogo, semestinya bertugas selama 6 bulan sejak Oktober tahun lalu. Dia tinggal di rumah sementara yang berjarak sekitar 30 km dari kota Otsuchi, dan bertugas sebagai chief engineer untuk urusan pertanahan. Dia juga bertugas melakukan negosiasi untuk mendapatkan tanah-tanah di dataran yang lebih tinggi supaya para korban bisa membangun rumahnya kembali di lokasi tersebut.

Meskipun dia bukan yang secara sukarela ditempatkan diri di Otsuchi, tetapi dia saat itu tidak menolak untuk ditempatkan di lokasi bekas bencana. Dia bahkan pernah dimuat di majalah kota pada 1 Desember lalu. Dia bilang “Saya baru saja ditempatkan disini, dan saya tidak tahu apakah nanti akan bisa banyak berkontribusi atau tidak, tetapi saya ingin melakukan yang terbaik untuk Otsuchi.” Di Otsuchi pun dia punya reputasi yang baik sebagai rajin bekerja.

Setelah kematiannya, salah seorang koleganya berkomentar, “Saya tidak menyangka sama sekali bahwa dia sedang mencemaskan sesuatu.” Tetapi saat mudik liburan Natal lalu, dia sempat bilang ke keluarganya “Saya tidak ingin kembali kesana.”

Akhir tahun lalu, Walikota Takarazuka, Tomoko Nakagawa juga telah menelponnya untuk memberikan semangat. Saat itu dia menjawab, “Saya lakukan yang terbaik, tapi saya tidak apakah saya cukup membantu disana.”

Seorang pekerja yang lain, usianya 35 tahun, dikirim dari Morioka ke Rikuzentakata juga ditemukan meninggal di dalam sebuah kendaraan yang diparkir di pinggir jalan pada tanggal 22 Juli tahun lalu. Sebuah catatan kecil di dalam kendaraan itu tertulis, “Saya dengan suka rela mengajukan diri untuk ditempatkan di Rikuzentakata, tapi saya merasa tidak nyaman karena tidak banyak bisa memberikan manfaat.”

Sang pekerja adalah seorang disainer manajemen jalan raya, tetapi penempatannya di lokasi bekas gempa-tsunami di Rikuzentakata sejak April 2012 lalu adalah di Dinas Perikanan Kota. Dia bertugas memperbaiki pelabuhan ikan yang rusak terkena tsunami. Termasuk dalam tugasnya pula memperbaiki dinding penahan tsunami.

Salah seorang yang dekat dengannya menceritakan bahwa tiap akhir pekan, dia pulang menjenguk keluarganya. Saat itu selalu disempatkan ke toko buku untuk mencari buku-buku yang berkaitan dengan industri perikanan. Meskipun pekerjaannya sama-sama sebagai insinyur, tetapi bidang keahliannya selama ini adalah infrastruktur jalan raya. Sama sekali berjauhan dengan industri perikanan. Hal itu membuatnya khawatir dan itu disampaikan ke rekan kerja dan orang tuanya.

Saat orang tuanya bertemu dengan Walikota Rikuzentakata, mereka bilang bahwa anaknya telah melakukan yang terbaik untuk memperbaiki daerah yang terkena bencana, tetapi sepertinya tidak sesuai dengan yang sang anak harapkan, dan dia menyalahkan dirinya untuk itu.

Salah seorang aktivis serikat pekerja yang mewakili para staf pemerintah daerah berkomentar bahwa di tiap pemerintah daerah, jumlah insinyur yang bekerja di konstruksi sipil dan bidang-bidang keteknikan jumlahnya sangat sedikit. Karenanya orang-orang yang bekerja di bidang-bidang itu pun banyak yang merasa tertekan karena bukan dari bidang spesialisasi tersebut.

Mengerjakan pekerjaan yang tidak familiar di dalam lingkungan kerja yang tidak familiar memang menyebabkan stress yang tinggi

*Seperti dilaporkan oleh The Mainichi Japan, 5 Maret 2013

Twitter: @katakatakunta

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Real Madrid 1 – 0 Bayern Muenchen …

Arnold Adoe | | 24 April 2014 | 04:37

Pojok Ngoprek : Tablet Sebagai Pengganti …

Casmogo | | 24 April 2014 | 04:31

Rp 8,6 Milyar Menuju Senayan. Untuk Menjadi …

Pecel Tempe | | 24 April 2014 | 03:28

Sebenarnya, Berapa Sih Jumlah Caleg Gagal di …

Politik 14 | | 23 April 2014 | 14:46

Kompasiana Menjadi Sorotan Pers Dunia …

Nurul | | 22 April 2014 | 19:06


TRENDING ARTICLES

Prabowo Beberkan Peristiwa 1998 …

Alex Palit | 7 jam lalu

Capres Demokrat Tak Sehebat Jokowi, Itu …

Dini Ambarsari | 10 jam lalu

Salah Kasih Uang, Teller Bank Menangis di …

Jonatan Sara | 10 jam lalu

Salah Transfer di Internet Banking …

Ifani | 12 jam lalu

Hotman Paris Hutapea dan Lydia Freyani …

Zal Adri | 21 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: