Back to Kompasiana
Artikel

Luar Negeri

Poernamasyae

life begins at 40 is a myth, research found that ...

Afrika di China

OPINI | 15 February 2013 | 02:35 Dibaca: 552   Komentar: 0   2

Di Indonesia saat ini banyak orang – orang dari benua Afrika. Mereka berbisnis atau menjadi pemain sepakbola. Beberapa tahun yang lalu, saya pernah ke pusat kulakan pakaian di Jakarta, di pasar itu banyak ditemukan warga negara dari benua Afrika yang membeli pakaian untuk dijual di negaranya. Nelson Mandela, tokoh legendaris Afrika Selatan bahkan sangat menyukai pakaian batik Indonesia, konon pakaian batiknya disuplai khusus dari Indonesia, karena kedekatannya dengan Mantan Presiden Soeharto. Namun bicara tentang Afrika yang lebih parah lagi adalah adanya jaringan sindikat peredaran narkotika internasional yang juga melibatkan warga negara asing dari berbagai benua, diantaranya dari benua Afrika, terkadang mereka menikahi atau memacari perempuan-perempuan Indonesia untuk dijadikan kurir barang haram tersebut.

Dimana ada gula, maka disitu ada semut. Geliat ekonomi Republik Rakyat Tiongkok juga menarik warga Afrika untuk mendatangi Cina. Hubungan Cina dengan Afrika saat ini cukup erat. Cina sudah menanamkan jasa, dengan membangun infrastruktur di banyak negara di benua itu. Maka berduyun-duyun warga Afrika mendatangi Cina. Sebagai pelajar maupun untuk berbisnis. Jumlah mereka lebih banyak daripada di Indonesia. Di Guangzhou saja terdapat puluhan ribu warga Afrika, apalagi di kota-kota lainnya. Cina banyak membuka peluang beasiswa bagi warga Afrika, sebagai hubungan baik selain kerjasama ekonomi. Tidak sulit menemukan orang berkulit hitam bisa berbahasa Cina di negeri ini.

Sebenarnya banyak juga orang bule yang mencari peruntungan disini, paling tidak sebagai guru bahasa Inggris. Krisis berkelanjutan di Eropa dan Amerika Serikat menyebabkan Cina menjadi magnet untuk mencari penghidupan yang lebih baik.

Di Wuhan juga demikian, banyak pelajar dari Afrika yang memperoleh beasiswa dari CSC (China Scholarship Council). Beasiswanya bersyarat, apabila tidak berprestasi baik, ada kemungkinan beasiswanya dikurangi bahkan sampai diberhentikan. Kejadian ini juga menimpa warga Indonesia yang memperoleh beasiswa dari CSC maupun dari Confusius Institute, beasiswa yang menuntut prestasi.

Cina berperan penting dalam membangun infrastruktur di negara-negara Afrika. Negara-negara Afrika lebih suka berpaling ke Cina daripada Eropa atau Amerika Serikat, yang memandang negara-negara Afrika dengan pandangan yang superior. Hillary Clinton yang mengatakan bahwa bantuan Cina di Afrika standarnya rendah. Pandangan imperialistik dan merendahkan. Sistem sosialisme Cina memungkinkan para insinyur Cina dan para pekerja-pekerja Cina dikirim ke Afrika untuk bekerja keras membangun infrastruktur negara-negara Afrika sebagai ‘tugas mulya negara Cina bagi sahabat Afrika’. Selain membangun, Cina juga melakukan alih teknologi, sesuatu yang luput dilakukan Eropa dan Amerika Serikat. Cerita tentang bagaimana pemimpin Cina mengirim para insinyurnya untuk membangun jalan-jalan di Afrika sering diputar di televisi resmi pemerintah Cina, CCTV.

Indonesia berperan penting sebagai penyelenggara Konferensi Asia Afrika di Bandung pada tahun 1955. Namun peran tersebut terputus karena gonjang ganjing politik dalam negeri. Cina juga terlibat KAA, lalu secara berkesinambungan menjalin hubungan dengan negara-negara Afrika sampai sekarang. Sekaranglah masa panen dari jerih payah masa lalu. Hubungan ekonomi Cina dan negara-negara Afrika lebih erat daripada Indonesia.

Wuhan, 2013-02-14

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kisah Haji Warto tentang Lumpur Lapindo …

Windu Andhika | | 17 April 2014 | 14:58

Introspeksi Pascapemilu (Kado buat Caleg …

Nurjanah Nitura | | 17 April 2014 | 11:14

Tahan Nafas di Kereta Gantung Ngong Ping …

Eddy Roesdiono | | 17 April 2014 | 15:42

Parkir Sebabkan PAD Bocor …

Eta Rahayu | | 17 April 2014 | 14:54

Inilah Pemenang Kompasiana - ISIC 2014 Blog …

Kompasiana | | 17 April 2014 | 15:52


TRENDING ARTICLES

Meski Tak Punya Ijin, JIS Berani Menolak …

Ira Oemar | 8 jam lalu

Agar Tidak Menyusahkan di Masa Tua …

Ifani | 16 jam lalu

Menguji Nyali Jokowi; “Say No to …

Ellen Maringka | 16 jam lalu

Dinda, Are You Okay? …

Dewi Nurbaiti | 16 jam lalu

Pelajaran Mengenai Komentar Pedas Dinda …

Meyliska Padondan | 17 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: