Back to Kompasiana
Artikel

Luar Negeri

Syasya

Seorang Istri dan ibu dengan 2 putri. Mencoba menuliskan pengalaman hidup tentang indahnya Indonesia, serta selengkapnya

Di China, Polusi Suara Menjelang Imlek

HL | 10 February 2013 | 11:48 Dibaca: 713   Komentar: 0   4

Beginilah cara orang China meluapkan kegembiraanya, dari petang hingga pagi tadi suara kembang api bersahut-sahut tiada henti. Dan pagi ini rumah-rumah ramai dikunjungi tamu yang datang. Sementara jalanan begitu lenggang gak banyak kendaraan yang berlalu lalang, bahkan sangat sulit sekali mencari taksi hari ini.

Menghidupkan kembang api menjelang imlek merupakan tradisi dan budaya orang China. Rasanya setiap orang China wajib menghidupkan kembang api menyambut tahun baru bagi mereka. Jadilah petang tadi hingga pagi menjelang suara kembang api tiada henti bersahut-sahutan. Belum habis suara kembang api disini sudah dihidupkan lagi yang disana, belum habis suara yang disana sudah hidup lagi kembang api yang disananya begitu seterusnya sampai memekakan telinga. Saya berfikir apakah orang China gak sakit ya kupingnya mendengar kembang api seperti itu, soalnya mereka gak merasa terganggu  dengan suara kembang api yang tiada henti seperti itu.

Sempat terpikir oleh saya bagaimana jadinya jika setiap orang China di Shandong menghidupkan kembang api secara bersamaan. Mungkin suara yang keluar bakalan seperti bom nuklir kali ya hehhehehhe. Jujur bagi saya yang tidak biasa mendengar suara seperti itu sampai sakit kuping mendengarnya. Belum  lagi ditambah suara alarem kendaraan yang ikut-ikutan bunyi. Sebenarnya setiap hari minggu saya juga  sering dengar suara kembang api dan suara alarem kendaraan yang ikut-ikutan bunyi dari pesta pernikahan orang tapi tak seramai kembang api saat imlek ini.

Pertama kali tinggal di Shandong saya sempat kaget dengan bunyi seperti itu (kembang api + alarem kendaraan) dulu saya pikir terjadi ledakan kebakaran dan bunyi larem kendaraan adalah suara sirene mobil pemadam kebakaran hehheheh. Saya sudah takut bukan kepalang dengar suara yang bersahut-sahutan tiada henti tapi tak kala saya lihat keluar jendela saya lihat kembang api yang berwarna warni jadinya tepok jidat deh hehehehehe.

Sebenarnya kembang api atau petasan tidak dijual bebas oleh para pedagang jika ingin membelinya ada tempat khusus yang memiliki ijin untuk menjual kembang api dan petasan tersebut. Menurut saya menghidupkan kembang api atau petasan hanya untuk menambah semarak kemeriahan imlek sunggguh bagaikan pedang bermata dua karena menghidupkan kembang api juga dapat menimbulkan masalah keamanan. Walau selama saya tinggal di Shandong  saya belum pernah lihat ada kecelakaan orang akibat menghidupkan kembang api tapi tidak menutup kemungkinan hal itu pernah terjadi.

13604719952090584828

lampion dimalam hari, foto pribadi

Kemeriahaan imlek juga diwarnai dengan lampion yang dipasang didepan rumah ataupun dijalan-jalan. Sungguh meriah banget, apalagi saat imlek semua para pekerja libur hingga 7 hari. Bagi yang punya kampung mereka pasti mudik untuk merayakan imlek bersama keluarga seperti halnya ditanah air saat merayakan hari raya idul fitri.

Mudik atau pulang kampung ternyata telah menjadi tradisi orang China dalam merayakan tahun baru imlek. Bahkan mudik bukan hanya pakai pesawat, kereta api, bus atau mobil pribadi tetapi mudik pakai motor juga banyak dilakukan oleh orang China dibeberapa daerah. Seperti berita-berita yang saya lihat dari TV yang menyairkan kegiatan pulang kampung mereka. Bandara, stasiun dan terminal banyak berjejalan orang-orang yang hendak pulang kampung. Karenanya biasanya banyak perusahaan yang memberi fasilitas kepada para karyawanya untuk pulang kampung bersama menggunakan bus yang disediakan oleh perusahaan tempat mereka bekerja.

1360471919174553320

lampion dipagi hari, foto pribadi

Mungkin kemeriahan imlek ditanah air juga dirasakan banyak orang ya hehehhehe bukan cuma orang keturunan China tetapi orang pribumi juga merasakannya. Pastinya banyak lampion yang dipasang juga ya?

Salam Sya, Shandong (RRC) 2013.02.10

Tags: freez

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Fatimah Hutabarat, Derita di Penjara …

Leonardo | | 01 October 2014 | 12:26

Saya Ingin Pilkada Langsung, Tapi Saya Benci …

Maulana Syuhada | | 01 October 2014 | 14:50

BKKBN dan Kompasiana Nangkring Hadir di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 10:37

Ayo Menjadi Peneliti di Dunia Kompasiana …

Felix | | 01 October 2014 | 11:29

Ikuti Blog Competition “Aku dan …

Kompasiana | | 30 September 2014 | 20:15


TRENDING ARTICLES

Unik, Sapi Dilelang Secara Online …

Tjiptadinata Effend... | 5 jam lalu

Pemerintahan Jokowi-JK Terancam …

Pan Bhiandra | 7 jam lalu

Demi Demokrasi, Koalisi Jokowi Harus Dukung …

Aqila Muhammad | 7 jam lalu

Tanpa Ibra, PSG Permalukan Barca …

Mike Reyssent | 14 jam lalu

Benefit of Doubt: Perpu dari SBY …

Budiman Tanjung | 16 jam lalu


HIGHLIGHT

“Happy” Andien Fashionable di La Fayette …

Irvan Sjafari | 10 jam lalu

Perpustakaan adalah Surga …

A Fahrizal Aziz | 10 jam lalu

Tinjauan dari Sisi Lain: Keluarga Pejabat …

Rumahkayu | 10 jam lalu

Memandangmu, Tanpa Kata …

Ryan. S.. | 10 jam lalu

Pilkada Tak Langsung Lebih Baik Daripada …

Anna Muawannah | 10 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: