Back to Kompasiana
Artikel

Luar Negeri

Sapto Nugroho

baru mulai berbagi cerita dan mulai mengumpulkan cerita di http://tulisan.pilihan.net

“Buang Sial” ala Jepang, bagus disimak!

REP | 05 February 2013 | 17:43 Dibaca: 1930   Komentar: 0   0

Adat atau upacara “buang sial” rupanya tidak hanya ada di Indonesia. Untung dan Sial adalah dua sisi yang selalu ada dalam kehidupan manusia, tidak perduli di negara manapun.

Upacara “buang sial” ala Jepang ini dilakukan setiap tahun tanggal 3 Februari. Upacara ini sangat erat dengan pergantian musim dari musim dingin ke musim semi. Tradisi ini disebut “Setsubun” ( Setsu : musim, Bun : bagian / pemisahan ), yang secara harafiah berarti pergantian musim.

Apa yang dilakukan orang Jepang dalam hari pergantian musim ini adalah dengan “melempar kacang kedelai”.  Oleh karena itu upacara ini disebut juga dalam bahasa Jepang sebagai “MameMaki” ( mame : kacang , maki : melempar )

Tidak hanya “sial” tetapi “prilaku buruk” juga dibuang ..

Kacang kedelai yang dilempar bukan yang mentah tetapi direbus dulu,  sehingga dimakan juga bisa. Kacang kedelai ini disebut “kacang keberuntungan” (fuku mame ), seperti foto yang saya sertakan di tulisan ini. Di gambar ada tulisan kanji yang berbunyi “Fuku Mame”.

Dalam melempar kacang ini ada satu kalimat yang sangat penting dan mungkin bagus kita tiru. Sambil melempar kacang kedelai itu mereka mengatakan kalimat berikut : “Oni wa soto!  Fuku wa uchi”. Kalimat itu berarti “Yang jahat harus dikeluarkan/dibuang diluar , sedangkan Anugrah/keberuntungan yang baik masuk ke dalam”.

Kata “Oni” berarti yang jahat (devil), oleh karena itu bukan hanya “sial” tetapi sikap buruk atau jahat juga sebaiknya dibuang atau dikeluarkan dari rumah. Awalnya memang orang Jepang melakukan ini semua di rumah mereka masing, jadi kacang dilempar ke luar rumah dan juga ke ruangan di dalam rumah. Akhir2 ini

upacara ini dilakukan di temple atau jinja.

Tradisi ini bagus kita simak dan bahkan mungkin bisa dijadikan “keharusan” atau semacam janji sebelum pelantikan pejabat di negri kita entah Presiden, Mentri, Anggota DPR atau petinggi Partai.  Seandainya para petinggi di negara kita itu sadar bahwa mereka harus mementingkan negara dan bukan mementingkan pribadi maka “mereka harus membuang jauh2 prilaku buruk”.  Harapannya adalah akan berkurangnya tindak korupsi atau bahkan akan hilang.

Sudah dimulai !!

Langkah “buang sial” ini secara tidak langsung sudah dimulai oleh Gubernur Jakarta. Saya sempat baca bahwa ada “sistem lelang jabatan”.  Menurut saya ini adalah salah satu cara “buang sial”, artinya membuang orang2 yang kurang  baik dan mencari orang2 yang betul2 mau bekerja keras untuk kebaikan banyak orang. Implementasi atau penerapan “buang sial” ini banyak caranya.

Intinya sama yaitu, menghilangkan prilaku buruk dan memasukan prilaku baik. Dengan cara itu maka Indonesia juga akan mendapat berkat atau “fuku” dan rakyatpun ikut menikmati anugrah itu, dan bukan justru semakin dipersulit hidupnya oleh pejabat yang berlaku sebagai “Oni” ( makluk jahat ).

Semoga tahun ini, “Sial” banyak terbuang dari Indonesia.

136005939347663876

salah satu

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Sukses sebagai Pengusaha Telur Asin …

Tjiptadinata Effend... | | 21 December 2014 | 11:54

Cegah Lintah Darat Merajalela dengan GNNT …

Agung Soni | | 21 December 2014 | 11:16

Rahasia Keberhasilan Pariwisata: Jangan …

Jimmy Haryanto | | 21 December 2014 | 08:18

[Langit Terbelah Dua] Pohon Malaikat …

Loganue Saputra Jr ... | | 21 December 2014 | 16:39

Waspada Komplotan Penipu Mengaku Dari …

Fey Down | | 21 December 2014 | 23:23


TRENDING ARTICLES

Fenomena Prostitusi Online sebagai Efek …

Gholal Pustika Widi... | 6 jam lalu

Sensasi Singkong Rebus Menteri Yuddy …

Andi Harianto | 7 jam lalu

Ketika Tulisanmu Dihargai Jutaan Rupiah …

Wijaya Kusumah | 7 jam lalu

Sekilas Wajah Pak Menteri Anies Mirip …

Agus Oloan | 7 jam lalu

Campur Tangan Joko Widodo dalam Konflik di …

Imam Kodri | 12 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: