Back to Kompasiana
Artikel

Luar Negeri

Sapto Nugroho

baru mulai berbagi cerita dan mulai mengumpulkan cerita di http://tulisan.pilihan.net

“Buang Sial” ala Jepang, bagus disimak!

REP | 05 February 2013 | 17:43 Dibaca: 1895   Komentar: 0   0

Adat atau upacara “buang sial” rupanya tidak hanya ada di Indonesia. Untung dan Sial adalah dua sisi yang selalu ada dalam kehidupan manusia, tidak perduli di negara manapun.

Upacara “buang sial” ala Jepang ini dilakukan setiap tahun tanggal 3 Februari. Upacara ini sangat erat dengan pergantian musim dari musim dingin ke musim semi. Tradisi ini disebut “Setsubun” ( Setsu : musim, Bun : bagian / pemisahan ), yang secara harafiah berarti pergantian musim.

Apa yang dilakukan orang Jepang dalam hari pergantian musim ini adalah dengan “melempar kacang kedelai”.  Oleh karena itu upacara ini disebut juga dalam bahasa Jepang sebagai “MameMaki” ( mame : kacang , maki : melempar )

Tidak hanya “sial” tetapi “prilaku buruk” juga dibuang ..

Kacang kedelai yang dilempar bukan yang mentah tetapi direbus dulu,  sehingga dimakan juga bisa. Kacang kedelai ini disebut “kacang keberuntungan” (fuku mame ), seperti foto yang saya sertakan di tulisan ini. Di gambar ada tulisan kanji yang berbunyi “Fuku Mame”.

Dalam melempar kacang ini ada satu kalimat yang sangat penting dan mungkin bagus kita tiru. Sambil melempar kacang kedelai itu mereka mengatakan kalimat berikut : “Oni wa soto!  Fuku wa uchi”. Kalimat itu berarti “Yang jahat harus dikeluarkan/dibuang diluar , sedangkan Anugrah/keberuntungan yang baik masuk ke dalam”.

Kata “Oni” berarti yang jahat (devil), oleh karena itu bukan hanya “sial” tetapi sikap buruk atau jahat juga sebaiknya dibuang atau dikeluarkan dari rumah. Awalnya memang orang Jepang melakukan ini semua di rumah mereka masing, jadi kacang dilempar ke luar rumah dan juga ke ruangan di dalam rumah. Akhir2 ini

upacara ini dilakukan di temple atau jinja.

Tradisi ini bagus kita simak dan bahkan mungkin bisa dijadikan “keharusan” atau semacam janji sebelum pelantikan pejabat di negri kita entah Presiden, Mentri, Anggota DPR atau petinggi Partai.  Seandainya para petinggi di negara kita itu sadar bahwa mereka harus mementingkan negara dan bukan mementingkan pribadi maka “mereka harus membuang jauh2 prilaku buruk”.  Harapannya adalah akan berkurangnya tindak korupsi atau bahkan akan hilang.

Sudah dimulai !!

Langkah “buang sial” ini secara tidak langsung sudah dimulai oleh Gubernur Jakarta. Saya sempat baca bahwa ada “sistem lelang jabatan”.  Menurut saya ini adalah salah satu cara “buang sial”, artinya membuang orang2 yang kurang  baik dan mencari orang2 yang betul2 mau bekerja keras untuk kebaikan banyak orang. Implementasi atau penerapan “buang sial” ini banyak caranya.

Intinya sama yaitu, menghilangkan prilaku buruk dan memasukan prilaku baik. Dengan cara itu maka Indonesia juga akan mendapat berkat atau “fuku” dan rakyatpun ikut menikmati anugrah itu, dan bukan justru semakin dipersulit hidupnya oleh pejabat yang berlaku sebagai “Oni” ( makluk jahat ).

Semoga tahun ini, “Sial” banyak terbuang dari Indonesia.

136005939347663876

salah satu

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kerbau Disembelih, Tanduknya Jadi Sumber …

Leonardo | | 31 July 2014 | 14:24

5 Jam Menuju Museum Angkut, Batu-Malang …

Find Leilla | | 31 July 2014 | 18:39

Kecoa, Orthoptera yang Berkhasiat …

Mariatul Qibtiah | | 31 July 2014 | 23:15

Punya Pengalaman Kredit Mobil? Bagikan di …

Kompasiana | | 12 June 2014 | 14:56

Menjenguk Blowhole Sebuah Pesona Alam yang …

Roselina Tjiptadina... | | 31 July 2014 | 20:35


TRENDING ARTICLES

Perbedaan Sindonews dengan Kompasiana …

Mike Reyssent | 9 jam lalu

Lubang Raksasa Ada Danau Es di Bawahnya? …

Lidia Putri | 13 jam lalu

Jangan Tulis Dulu Soal Wikileaks dan …

Bang Pilot | 17 jam lalu

Tipe Karyawan yang Perlu Diwaspadai di …

Henri Gontar | 21 jam lalu

Evaluasi LP Nusa Kambangan dan …

Sutomo Paguci | 22 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: