Back to Kompasiana
Artikel

Luar Negeri

Belajar Berdemo dari Masyarakat Hong Kong

HL | 27 January 2013 | 18:57 Dibaca: 842   Komentar: 13   17

Menjadi seorang pemimpin memang tidak mudah. Apalagi jika yang dipimpin merupakan masyarakat luas dalam suatu negeri. Satu kesalahan saja yang dibuat dan diketahui masyarakat, maka protes bisa dipastikan bermunculan. Seperti yang terjadi di Hong Kong, sejak diangkatnya Leung Chun Ying menjadi Chief Executive, banyak terjadi unjuk rasa protes terhadap Leung. Menuntut Leung agar segera mundur dari jabatannnya, karena Leung dinilai telah melakukan kebohongan publik tentang pembangunan proyek ilegal didekat rumah mewahnya.

Protes dan unjuk rasa masyarakat Hong Kong sudah sering saya saksikan lewat saluran televisi maupun koran. Namun, hari ini ketika saya melewati daerah Causeway Bay, tepatnya didekat MTR exit E atau bersebelahan dengan Sogo, saya melihat kerumunan orang yang sangat ramai memadati jalanan. Dan setelah mendengar pengumuman seorang speaker dari salah satu saluran televisi, barulah saya tahu mereka akan mengadakan aksi demo. Saya yang belum pernah menyaksikan demo masyarakat Hong Kong secara live, merasa tertarik untuk mendekat. Sangat sesak, saya harus berdesakan dengan para reporter, warga Hong Kong serta polisi yang berjaga-jaga.

13592836171599549994
siap-siap dengan spanduk (dok. pribadi)

Hampir saja saya tak dapat mengambil gambar karena ada beberapa wartawan yang menggunakan tangga untuk meliput aksi demo dan tentunya sangat mengganggu bagi saya yang bertubuh pendek (jujur). Tapi untunglah, tiba-tiba ada seorang wartawan dari @tv datang mendekat, mungkin kasihan pada saya yang membawa-bawa camera tapi tidak bisa menjepret sama sekali,”just follow me and take your camera,” katanya dengan mimik serius dan sambil menenteng cameranya yang lumayan besar. Akhirnya saya dapat menerobos kerumunan orang dengan bantuan wartawan ini dan bisa mengambil beberapa gambar persiapan para pendemo.

13592839131601793265
salah satu wartawan yang membuat saya susah menerobos masuk (dok. pribadi)

Terdengar teriakan berupa himbauan dari seorang orator yang mengatakan bahwa aksi demo ini bertujuan menuntut agar Leung mengundurkan diri. Ditambahkan pula pada orasi tersebut bahwa Leung selama ini tidak bekerja untuk rakyat dengan serius dan Leung pantas untuk lengser dari jabatannya.

13592837591862212585
massa sudah siap sedia ( dok. pribadi)

Terlihat beberapa gambar CE Leung Chun Ying dengan hidung panjangnya mirip pinokio, sebagai gambaran bahwa Leung adalah penipu yang telah membohongi rakyat. Ada juga gambar karikatur Leung yang di beri cat merah pada bagian mukanya, seperti darah segar yang mengalir dari mulutnya sebagai gambaran bahwa Leung adalah pemimpin seperti serigala yang haus darah. Serta terdapat pula beberapa spanduk yang dipegang oleh para pendemo bertuliskan huruf Cina (saya tidak paham).

1359284265824013591
gambar karikatur Leung, sebelum dan setelah di cat dengan warna merah (dok. pribadi)

Para pendemo yang berjumlah ribuan itu bukan hanya para pria saja, para wanita pun turut andil melakukan aksi. Tak kalah semangat para wanita meneriakan tuntutannya. Ada juga orang tua dan remaja yang ikut berdemo hari ini.

1359284094468104707
semangat wanita (dok. pribadi)

Para polisi yang bertugas pun cukup banyak, berjaga-jaga mengantisipasi hal-hal buruk yang mungkin dapat terjadi. Namun, mereka (para polisi) sangat kooperatif dengan para pendemo, jadi tidak ada yang namanya tembakan gas air mata atau apapun. Pada para wartawan peliput pun mereka sangat ramah, dalam kerumunan itu saya sempat melihat polisi tersenyum pada pendemo dan wartawan (termasuk pada saya juga, hehe).

135928753514902110
polisi yang berjaga-jaga (dok. pribadi)

Para wartawan dari berbagai media yang meliput pun tak kalah semangat dalam mengambil gambar dan melakukan wawancara. Jadi tahu juga bagaimana reporter tv Hong Kong menyiarkan laporannya dari lapangan. Pemandangan yang terasa sangat unik dan menarik bagi saya yang berasal dari desa pelosok.

1359284451312385354
wartawan memotret gambar Leung yang diletakan dijalanan (dok. pribadi)

Setelah cukup mengambil gambar, saya pun berusaha keluar menerobos para pendemo dengan dibantu oleh wartawan tadi. Akhirnya saya bisa bernafas lega, terlepas dari berdesakan dengan para pendemo dan dari bisingnya suara speaker. Pengalaman yang baru pertama kali saya alami selama hidup, berada ditengah-tengah para pendemo, para wartawan dan seorang legislator hebat. Ya, ada seorang legislator yang ikut berorasi dalam demo tersebut, legislator yang terkenal keras tetapi sangat membela hak-hak rakyat.

13592846231594013994
seorang legislator/wakil rakyat sedang berorasi (dok. pribadi)

Saya hanya bisa membayangkan seandainya ada legislator di Indonesia yang seperti beliau, berorasi bergabung bersama warga. Menuntut keadilan dan tanggungjawab pemimpin. Seandainya juga jika di Indonesia dalam melakukan aksi demo seperti ini, tak ada kekerasan yang terjadi. Polisi, warga, masyarakat dan juga termasuk warga asing bebas membaur bersama. Tak ada pemukulan, tak ada tembakan gas air mata, tak ada pelemparan batu, semua berjalan damai tetapi orasi tersampaikan.

Dari persiapan demo ini, saya mengambil kesimpulan walaupun Hong Kong mungkin terkenal sebagai negeri yang bebas, tetapi tetap dalam kebebasan yang bertanggungjawab. Saya juga dapat melihat betapa akrabnya wakil rakyat dengan rakyatnya, tak segan melempar wajah pemimpin demi membela hak rakyat. Ya, saya sering melihat dalam rapat yang disiarkan oleh televisi, anggota legislatif itu melempar CE dengan gulungan kertas. Walaupun akibatnya, pasti akan ditarik paksa oleh petugas keamanan dalam rapat tersebut. Tapi, bukankah itu yang disebut wakil rakyat? Berani membela rakyat, bukan membela pemimpin.

Dan, sekian catatan dari Hong Kong.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Ada Kain Benang Emas dan Ulos Gendongan Bayi …

Piere Barutu | | 24 April 2014 | 22:40

Lost in Translation …

Eddy Roesdiono | | 24 April 2014 | 22:52

PLN Gagap Online …

Andiko Setyo | | 24 April 2014 | 23:40

Drawing AFC Cup U-19: Timnas U-19 Berpotensi …

Primata Euroasia | | 24 April 2014 | 21:28

Mengenal Infrastruktur PU Lewat Perpustakaan …

Kompasiana | | 21 April 2014 | 15:12


TRENDING ARTICLES

Di Mana Sebenarnya MH370? Waspada Link …

Michael Sendow | 14 jam lalu

Bila Separuh Gaji Karyawan Memang untuk …

Agung Soni | 17 jam lalu

Demam Masha and Bear, Lagi-lagi Film Animasi …

Heru Andika | 21 jam lalu

Senayan, Panggung Baru Para Artis… …

Iswanto Junior | 22 jam lalu

Nasib Capres ARB (Ical Bakrie) dan Prabowo …

Mania Telo | 23 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: