Back to Kompasiana
Artikel

Luar Negeri

Triadi Brebes

Mining Project Development Expert, Yakin Usaha Sampai connection, Transcontinent traveler, UI-Alumni Tinggal di Paramaribo,Suriname

Kisah Para Pencari Emas Indonesia di Padang Pasir Saudi Arabia

HL | 23 January 2013 | 09:33 Dibaca: 2862   Komentar: 0   3

Ada pemandangan yang berbeda dalam dua tahun terakhir ini di bandara King Abdul Aziz, Jeddah,  Saudi Arabia. Ada sekelompok orang Indonesia yang mondar mandir  tiap bulan (Jakarta-Jeddah) untuk  menuju Gunung (Jabal) Sayyid di dekat Madinah. Setibanya dari Jakarta mereka menuju bus yang disediakan di terminal kedatangan untuk menuju lokasi pertambangan tembaga dan emas di dekat Madinah.

Yah, mereka adalah pekerja tambang dari Indonesia yang sebagian besar pernah bekerja untuk Papua, Sumbawa, dan Halmahera dari operator, teknisi dan engineer. Barrick, produsen terbesar emas di dunia yang pusatnya di Canada mempercayakan  operasi tambang tanah nya kepada lebih dari 50 orang pekerja tambang dari Indonesia. Buat para pekerja rotasi ( Fly in Fly Out/FIFO) lokasi kerja bukanlah suatu pertimbangan utama  tapi schedule kerja lah yang menjadi pertimbangan sehingga banyak yang memutuskan untuk meninggalkan tanah dan bekerja ke Saudi Arabia dan tentunya karena paket yang di tawarkan jauh di atas yang di berikan perusahaan tambang emas di tanah air ( sayang yah padahal hasilnya sama sama emas).

Fenomena boomingnya industry pertambangan dunia dalam 5 tahun terakhir banyak dinikmati oleh banyak professional tambang Indonesia.  Saat ini mereka tersebar ke Australia, Africa Barat, Canada dan Amerika Selatan.

Saudi Arabia, sebagai salah satu penghasil minyak terbesar dunia saat ini sedang mengembangkan industry tambang sebagai pilar ketiga industry mereka setelah minyak dan petrochemical. Dalam kurun 10 terakhir ini Negara itu gencar melakukan eksplorasi dan exploitasi potensi tambang mereka. Proyek multi billion dolar sepert Phosphate dan Aluminium saat ini sudah memasuki tahapan produksi. Raksasa aluminium dunia, Alcoa yang berbasis di Amerika menjalin kerja sama dengan  Saudi Arabian Mining Company (Ma’aden), BUMN milik pemerintah Saudi yang  awalnya diberikan tugas untuk mengelola pertambangan di seluruh wilayah kerjaan Saudi. Saat ini keran investasi di buka lebar untuk perusahaan tambang asing untuk invest di sector pertambangan dengan minimal bagi hasil 25% dari net income untuk pemerintah Saudi. Terbuka juga kesempatan untuk berinvestasi buatkontraktor kontraktor pertambangan dari Indonesia untuk berekspansi bisnis kesana.

Banyak nya proyek baru yang segera di buka merupakan potensi besar bagi pekerja Indonesia untuk bekerja disana. Setidaknya satu orang  bisa menggantikan 30-75 ( tergantung skill dan pengalaman)  potensi devisa yang hilang selama moratorium TKI sektor non formal yang bekerja di sektor domestik sebagai penata laksana rumah tangga (PRT). Memiliki pengalaman adalah syarat utama untuk bekerja di sektor formal di Saudi Arabia. Saat ini pemerintah kerajaan itu gencar untuk melakukan proses Saudisasi beberapa sektor industry. Untuk fresh graduate di syaratkan untuk warga Saudi.

“ Perusahaan tambang di Saudi menyadari bahwa Indonesia memiliki potensi besar untuk memasok tenaga kerja ke proyek-proyek mereka, terutama untuk tenaga skill berpengalaman yang saat ini bekerja di tambang-tambang yang beroperasi disana”  ujar Triadi, pioner pekerja tambang Indonesia di Saudi yang telah empat tahun bekerja untuk Saudi Arabian Mining Company (Maaden).

“Saya terlibat dalam design dua pabrik pengolahan emas baru yang sekarang dalam tahap konstruksi dan saat ini sibuk untuk melakukan study kelayakan untuk tiga tambang baru. Jika semua proyek ini selesai akan di butuhkan mining, geologist, metallurgist, operator dan tekhnisi dalam jumlah yang banyak. Mudah-mudahan akan banyak diisi oleh pekerja dari dari Indonesia. Bekerja di Saudi Arabia tidak harus beragama Islam. Banyak professional non muslim dari Indonesia sekarang bekerja di Saudi Arabia di sector IT. Salah satu daya tariknya juga adalah Tax-free income dan bisa membawa keluarga untuk tinggal di Jeddah.

13589080581962424410
Bersama orang orang badui

Salah satu penyebab sulitnya para engineer Indonesia kemari adalah keterbatasan quota visa untuk Indonesia dari pemerintah Saudi” untuk skilled labor. Hal itu tantangan besar buat  Depnakertrans ataupun BNP2TKI untuk bisa melobi pemerintah Saudi untuk menambah quota visa untuk skill labor buat pekerja dari tanah air.

Triadi juga menambahkan  dalam 10 tahun terakhir  professional2 muda tanah air yang yang mulai mengisi kebutuhan manpower untuk sektor sektor telekomuniksi, otomotif , perbankan (IDB), IT, perminyakan dan juga tentunya ahli-ahli pengolahan makanan yang telah lama banyak bekerja di Indomie Saudia Arabia. Banyaknya professional di berbagai bidang tersebut sedikit banyak mengubah image tentang TKI dari Indonesia yang identic dengan PRT dan supir perumahan.

Bambang Yuwono dan Omar Syarief, keduanya geologist jebolan dari ITB memilih pindah ke Saudi setelah berpetualang diberbagai negara hingga kepulauan Solomon. Bekerja dekat dengan tanah suci salah satu pertimbangan mereka. Keduanya bergabung dengan Barick untuk Jabal Sayid Copper and Gold project.

Banyak kekhawatiran tentang kehidupan di Saudi buat para ibu ibu pekerja Indonesia sebelum mereka datang ke Saudi. Namun jika anda membaca blog dari ibu-ibu muda istri para pekerja di sektor formal di Jeddah dapat memberikan gambaran aktivitas dan kehidupan disana.

13589220792097611180
Menghabiskan weekend dengan bermain dan berenang di Laut Merah

Blog http://ceritajeddah.wordpress.com/ dapat menjadi referensi yang menarik untuk menyusuri kota kehidupan di Saudi dan segala pernak- pernik kehidupan ibu ibu istri para pekerja Indonesia di sana. Jadi buat ibu ibu muda Indonesia jangan takut untuk mendampingi suami yang memperoleh penawaran kerja di Saudi.

Life is an adventure. Buat miners yang ingin berpetualang dan menapakai jejak langkah para nabi, bias diliat peluang peluang di www.maaden.com.sa dan www.barrick.com

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Bertemu Dua Pustakawan Berprestasi Terbaik …

Gapey Sandy | | 30 October 2014 | 17:18

Asiknya Berbagi Cerita Wisata di Kompasiana …

Agoeng Widodo | | 30 October 2014 | 15:40

[YOGYAKARTA] Daftar Online Nangkring bersama …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 11:06

Paling Tidak Inilah Kenapa Orangutan …

Petrus Kanisius | | 30 October 2014 | 14:40

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40


TRENDING ARTICLES

Pramono Anung Menjadi Satu-satunya Anggota …

Sang Pujangga | 4 jam lalu

Mba, Pengungsi Sinabung Tak Butuh …

Rizal Amri | 7 jam lalu

Muhammad Arsyad Tukang Sate Luar Biasa, Maka …

Opa Jappy | 10 jam lalu

DPR Memalukan dan Menjijikan Kabinet Kerja …

Sang Pujangga | 10 jam lalu

Pemerintahan Para Saudagar …

Isk_harun | 11 jam lalu


HIGHLIGHT

Pengalaman Belajar Sosiologi Bersama Pak …

Rachel Firlia | 8 jam lalu

Rokok atau Calon Istri? …

Gusti Ayu Putu Resk... | 8 jam lalu

Dampak Moratorium PNS …

Kadir Ruslan | 8 jam lalu

Membudayakan Menilik Orang Bukan Dari …

Wisnu Aj | 8 jam lalu

Hilangnya Kodok Pak Lurah …

Muhammad Nasrul Dj | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: