Back to Kompasiana
Artikel

Luar Negeri

Poernamasyae

dibilang panasbung sama pasukan nasi bungkus (beneran) yang tak terverifikasi di kompasiana hahahahaha

Tradisi Rokok di Cina

REP | 21 January 2013 | 17:30 Dibaca: 515   Komentar: 0   0

Lain negara lain kebijakan. Budaya merokok masyarakat Cina, sepanjang pengamatan penulis di kota Wuhan, lumayan akut. Mereka suka merokok dimana saja dan kapan saja. Bahkan di sekolah dasar saat menjemput anak. Namun itu berlaku pada generasi tua, kalau generasi muda terlihat cukup sedikit yang merokok. Mungkin karena harga rokok yang mahal dan persaingan hidup yang semakin ketat.

Rokok sudah menjadi tradisi. Salahsatu tradisi unik terkait dengan rokok adalah pada saat pendaftaran siswa baru di sekolah dasar. Anak saya bersekolah di sekolah untuk orang Wuhan. Jadi setelah memperoleh surat rekomendasi dari kantor, saya ikut mengantri bersama orangtua siswa lainnya di Panitia Penerimaan Siswa Baru. Saat di meja pendaftaran, para orangtua memberikan rokok kepada panitia. Yang diberikan adalah satu batangan rokok. Jadi di meja itu ada beberapa rokok dengan berbagai macam merek.

Harga rokok memang mahal disini. Sepertinya setiap provinsi memiliki rokok khas masing-masing, tidak seperti di Indonesia yang didominasi oleh pabrik rokok dari Jawa. Perdagangan rokok didukung oleh negara, maka bisa kita lihat di bandara Baiyun Wuhan dan bandara Guangzhou, merek rokok yang dijual berbeda. Rokok dijual sebagai souvenir. Harga rokok mulai dari dibawah sepuluh Yuan sampai ratusan Yuan. Para professor dikampus merokoknya yang mahal itu. Salahsatu rokok merk lokal di Wuhan bernama Huanghe Lou, merujuk kepada nama satu pagoda yang menjadi ikon kota Wuhan.

Televisi tidak pernah saya lihat menyiarkan iklan rokok. Kalau iklan minuman beralkohol malah banyak. Namun perilaku merokok bebas diperlihatkan pada berbagai film dan sinetron. Menurut pribadi saya, iklan di televisi banyak mendorong munculnya perokok muda, karena yang dijual adalah gambaran bawah sadar. Merokok itu ‘pemberani’, ‘ekslusif’, ‘koboy’, ‘trendi’, ‘gaul’ dan seterusnya dan seterusnya. Didukung oleh kreatifitas tukang iklan dan dana promosi yang besar mereka membangun citra positif di masyarakat. Bersyukur sekarang sudah mulai menguat gerakan anti bahaya merokok di tanah air. Faktanya para petinggi perusahaan rokok tidak merokok, dan kebanyakan pecandu rokok adalah kalangan bawah masyarakat.

Sebagai mantan perokok, saya juga merasakan bagaimana susahnya berhenti merokok, yang utama adalah niat dari diri sendiri.

Wuhan, 2013-01-18

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Hasil SPP2013: Nasib Petani Tanaman Pangan …

Kadir Ruslan | | 24 July 2014 | 05:48

Topan Lain Akan Memasuki Filipina (Topan …

Enny Soepardjono | | 24 July 2014 | 08:53

Muda Kaya dan Bahagia …

Radixx Nugraha | | 24 July 2014 | 03:25

Dunia Prostitusi ‘De Wallen’ …

Christie Damayanti | | 24 July 2014 | 11:40

Ikuti Lomba Resensi Buku Tanoto Foundation! …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:12


TRENDING ARTICLES

Sengketa Pilpres 2014 Akhirnya Berujung di …

Mawalu | 9 jam lalu

Inilah Salah Satu Warisan Terbaik Pak Beye …

Raisa Atmadja | 10 jam lalu

Timnas U-19 Batal Tampil di Spanyol …

Achmad Suwefi | 12 jam lalu

Akhirnya Prabowo-Hatta Melangkah ke MK …

Bang Pilot | 17 jam lalu

Jokowi “Penyebar Virus” kepada …

Hendrik Riyanto | 18 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: