Back to Kompasiana
Artikel

Luar Negeri

Muhammad Nurdin

sebagai guru sejarah dan sosiologi di SMA di kota Bandung tentu saja perlu berwawasan luas,karenanya selengkapnya

Raja Abdullah Gulirkan Reformasi Arab Saudi

HL | 13 January 2013 | 20:36 Dibaca: 955   Komentar: 0   1

1358099957933848108

Ilustrasi/Admin (Shutterstock)

Raja Abdullah kembali melakukan suatu gebrakan besar di kerajaan Arab Saudi ,dengan menunjuk 30 orang perempuan untuk menduduki sebagai anggota Majilis Syura yang sebelumnya dikuasai ,di dominasi oleh  laki-laki. langkah ini memang bukanlah yang pertama sekali dilakukan oleh raja Abudllah,tetapi seblumnya jua sudah dilakukannya dengan mengijinkan  wanita  memilih dan dipilih di tingkat pemilu lokal di negara kaya enerji dunia itu.

Kebijakan Raja Abdullah tersebut dilakukan untuk meredam indikasi gejala-gejala gerakan aksi sosial yang sedang melanda Timur Tengah agar tidak merambah kenegerinya.Raja Abdullah berupaya  mereformasinya dengan tahapan-tahapan tertentu dalam batasan tertentu pula sehingga tidak akan melengserkannya dari singgasana yang di bangun oleh leluhurnya Dinasty Saudiah.

Karenanya daripada  lenyap semuanya,maka lebih baik raja Abdullah memberi sedikit keleluasaan kepada warganya terutama  kepada  wanita yang sebelumnya terkesan terpinggirkan dalam berbagai aspek di Arab Saudi.Selain itu kebijakan Raja Abdullah  tersebut juga sebagai upaya untuk mementahkan berbagai kritikan dari para aktifis hak asasi manusia terhadap perlakuannya terhadap  perempuan selama ini.

Raja Abdullah mengharapkan dengan berbagai kebijakannya terhadap wanita sekarang,terutama dengan pemberian hak bersuara bagi wanita  dan juga penunjukan 30 orang wanita  untuk menduduki Majlis Syura sejajar dengan laki-laki bisa meredam kritikan pedas tersebut.Reformasi ini dilakukan sebagai strategi politik untuk menghambat merembesnya”Arab Spring”yang bisa saja mengancam singgasananya.

Kebijakan itu mendapat restu dari AS,yang tidak menghendaki negara Arab Saudi dan  negara-negara mini Teluk lainnya  jatuh kepada pihak oposisi yang kebanyakannya pro Republik Islam Iran.Dalam konteks ini  Washington sangat berhati-hati terhadap reformasi di Riyad tersebut,AS tidak mau mengusik Saudi Arabia sebagai pasar potensial bagi berbagai mesin perang AS dan sekutunya.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Manajemen Mudik …

Farida Chandra | | 25 July 2014 | 14:25

Quo Vadis Jakarta Baru? …

Shendy Adam | | 25 July 2014 | 14:41

Sensasi Rafting di Kali Oyo Gunungkidul …

Tri Lokon | | 25 July 2014 | 15:27

Keras, Tegas dan Tajam Suara Politik di …

Hendrik Riyanto | | 25 July 2014 | 12:45

Ikuti Lomba Resensi Buku Tanoto Foundation! …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:12


TRENDING ARTICLES

Dilema MK …

Akhmad Yunianto | 7 jam lalu

Kunjungan Clinton ke Aceh, Misi Kemanusiaan …

Rafli Hasan | 11 jam lalu

Demokrasi ala SBY Jadi Perhatian Pakar Dunia …

Solehuddin Dori | 12 jam lalu

Kebijakan Obama yang Bikin Ciut Nyali Orang …

Andi Firmansyah | 13 jam lalu

Mengapa Harus Jokowi yang Terpilih? …

Ryan Perdana | 14 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: