Back to Kompasiana
Artikel

Luar Negeri

Bang Nasr

Bangnasr. Masih belajar pada kehidupan, dan memungut hikmah yang berserakan. Mantan TKI. Ikut kompasiana ingin selengkapnya

Siapa Sebenarnya yang Memerintah Syria? Ternyata Presiden Assad Cuma Boneka

REP | 21 November 2012 | 06:41 Dibaca: 3445   Komentar: 14   4

Bila kita ditanya, siapakah Penguasa Syria saat ini? Tentunya kita sepakat akan menjawab adalah Presiden Bashar Al-Assad. Karena semua orang tahu bahwa dialah Presiden Syria saat ini yang sedang dilanda Arab Spring untuk digulingkan. Berbagai skenariopun ditawarkan sebagai formula. Diantara formula yang paling dapat diterima adalah model ‘Yaman’ sebagaimana yang terjadi terhadap mantan Presiden Ali Abdullah Saleh yang lengser namun tidak diusik kehidupannya. Tidak seperti negara Arab Spring lainnya seperti Tunisia, Mesir dan Libya yang melengserkan dan menghukum bahkan membunuh mantan pemimpinnya.

Ternyata ‘orang kuat’ yang berada di belakang Presiden Assad dan selama ini yang menjadi ‘the real’ penguasa adalah paman Assad dari pihak ibunya yaitu Muhamad Makhluf. Inilah sosok ‘penguasa sebenarnya’ di Syria. Makhluf konon dikabarkan akan mereview semua kebijakan Assad sebelum naik tidur menemui istrinya. Apabila ada diantara kebijakannya tadi siang yang tidak disetujui oleh Makhluf, maka dia harus rela membatalkannya saking kuatnya kekuasaan Sang Paman ini.

Sebagai gambaran betapa kekuatan Makhluf antara lain adalah dia yang berhasil menyingkirkan orang kuat Syria semasa mendiang Presiden Hafez, Abdul Halim Khaddam, mantan Wakil Presiden Syria di masa ayah Bashar Al-Assad. Khaddam sejak awal sudah digadang-gadang sebagai calon penerus Hafez. Ketika terjadi pergantian pemimpin, justru yang dimunculkan adalah putranya Bashar yang memang sebelumnya tidak dikenal publik. Disinilah peran Makhluf yang memainkan kartu truf, yang boleh jadi tentu sangat menentukan jalan bagi Basher menjadi penguasa di Syria. Boleh jadi dengan begitu, Bashar bagaikan kerbau yang dicocok hidungnya sehingga tidak dapat banyak berbuat kecuali atas restu Sang Paman. Dan Khaddampun marah sehingga dia memilih meminta suaka politik di Perancis dan saat ini sebagai pelarian politik disana.

Makhluf (80 tahun) namun kondisi kesehatannya masih baik, juga menguasai berbagai sektor ekonomi negara lewat penguasaan terhadap sektor telekomunikasi, migas, perbankan dan pasar bebas. Lewat putranya, Rami Makhluf keluarga ini dan keluarga Assad juga menguasai transportasi dan properti. Wakil dari keluarga Assad adalah adik Presiden Assad yaitu Maher Assad. Konon, pemerintahan Syria dibawah dinasti Assad dan besannya ini bagaikan sebuah perusahaan besar dimana negara hampir seluruhnya dikuasai oleh keluarga besar tersebut.

Bagaimana keluarga Makhluf bisa membuat semuanya itu? Karena konon asal usul mendiang Presiden Hafez Assad dari keluarga miskin dan sederhana. Berkat pernikahan dengan keluarga Makhluf ini yang membuat – akhirnya – keluarga ini menguasai kepemimpinan di Syria. Sebagai balas jasa, akhirnya seperti apa yang terjadi sebagaimana diungkapkan oleh surat kabar Al-Arab (19 Nopember 2012) bahwa yang berkuasa penuh atas kebijakan negara adalah Sang Paman yang merupakan saudara ipar dari mendiang Presiden Hafez dan notebene adalah Paman Sang Presiden sekarang Bashar. Begitulah, bila negara diperintah oleh ‘keluarga’. Hampir di semua negara Arab di Timur Tengah dimiliki oleh keluarga seperti Arab Saudi yang jelas-jelas menamakan negaranya ‘Alu Saud’ (keluarga Saud), dan negara-negara lainnya yang berbentuk kerajaan di komunitas GCC (Gulf Countries Cooperation), maupun negara lainnya yang walaupun bersistem republik namun tidak beda dengan system ‘keluarga’ dimana anak-keponakan Sang Presiden yang menguasai berbagai sektor publik, khususnya ekonomi dan bisnis. Baru setelah ‘Arab Spring’ terjadi perubahan angin segar dimana negara menjadi milik rakyat. Itupun masih dalam taraf ‘bagaikan orang baru bangun tidur’ (maksudnya masih sempoyongan), masih banyak aspek yang harus dibenahi sehingga menjadi negara milik rakyat yang demokratis.

Salam damai,

Sumber: Al-Arab, 19 Nopember 2012.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Wukuf di Arafah Puncak Ibadah Haji …

Aljohan | | 02 October 2014 | 15:27

2 Oktober, Mari Populerkan Hari …

Khairunisa Maslichu... | | 02 October 2014 | 15:38

Kopi Tambora Warisan Belanda …

Ahyar Rosyidi Ros | | 02 October 2014 | 14:18

Membuat Photo Story …

Rizqa Lahuddin | | 02 October 2014 | 13:28

[DAFTAR ONLINE] Nangkring bersama Bank …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:52


TRENDING ARTICLES

Ternyata, Anang Tidak Tahu Tugas dan Haknya …

Daniel H.t. | 2 jam lalu

“Saya Iptu Chandra Kurniawan, Anak Ibu …

Mba Adhe Retno Hudo... | 6 jam lalu

KMP: Lahirnya “Diktator …

Jimmy Haryanto | 7 jam lalu

Liverpool Dipecundangi Basel …

Mike Reyssent | 12 jam lalu

Merananya Fasilitas Bersama …

Agung Han | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Kenalkan Ini Batik Khas Bekasi …

Ahmad Syaikhu | 8 jam lalu

Pengembangan Migas Indonesia: Perlukah Peran …

Fahmi Idris | 8 jam lalu

Ka’bah dan Haji Itu Arafah …

Rini Nainggolan | 8 jam lalu

Celana Dalam Anti Grepe-grepe …

Mawalu | 8 jam lalu

Bioskop Buaran Tinggal Kenangan …

Rolas Tri Ganda | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: