Back to Kompasiana
Artikel

Luar Negeri

Iswekke

Membaca dengan bertualang untuk belajar mencintai Indonesia...

Tokyo: Ibukota Asia

REP | 08 November 2012 | 16:45 Dibaca: 439   Komentar: 0   0

Untuk urusan olimpiade, Jepang pertama kali di Asia yang jadi tuan rumah. Walaupun ketika tuan rumah Piala Dunia sepak bola, Korea Selatan menduduki tempat keempat. Jepang hanya sampai putaran kedua. Namun, setelah itu Jepang tetap memantapkan eksistensinya di dunia sepak bola. Connecting flight dari Asia, bahkan dari Singapura kerap melalui Jepang. Maka, Jepang sudah menjadi penghubung antara Amerika dan Asia. Perkembangan berikutnya diikuti dengan bertambah eksisnya Incheon, sebagai alternatif pilihan.

Universitas Tokyo menjadi universitas dengan rangking teratas dalam penilaian THES (Times Higher Education Suplement) yang berbasis di Inggris Raya. Padahal kelas-kelas yang dijalankan di Todai, sebutan populer Universitas Tokyo bagi orang Jepang, dalam bahasa Jepang. Bukan bahasa Inggris. Ini dapat berarti bahwa pengembangan sebuah lembaga pendidikan jika ingin berskala internasional dan mendapat pengakuan dunia, bukan dengan pengembangan bilingualisme. Perbaikan kurikulum, kompetensi dan juga kemampuan lulusan dalam hal bermasyarakat lebih dipentingkan daripada hanya sekedar mengetahui bahasa Inggris namun miskin kompetensi keilmuan.

Siang ini saya berada di salah satu universitas terkemuka Jepang, Waseda University. Universitas ini adalah universitas swasta dengan kapasitas mahasiswa sekitar 50.000 orang. Untuk matakuliah bahasa Inggris diasuh langsung oleh penutur asli. Walaupun demikian, mahasiswa Jepang kadang menyatakan diri tidak lancar berbahasa Inggris. Ini mungkin karena mereka diajar penutur asli. Selalu ingin membandingkan dirinya dengan kemampuan penutur-penutur asli tersebut. Mahasiswa masing-masing sibuk dengan urusan belajar. Ada juga yang bersantai di taman tetapi tetap dengan buku dan juga ada kelompok-kelompok diskusi. Kampus menyediakan internet tetapi untuk akses facebook diperlambat. Ini dilakukan dengan pertimbangan akses Facebook tetap boleh namun tidak dominan. Mahasiswa asing di universitas ini mencapai angka 5.000 orang, termasuk dari Indonesia.

Dosen-dosen yang saya temui di Waseda, umumnya rendah hati. Ketika berjalan bersama ke kantin kampus, saya melihat dosen menyapa mahasiswa. Bahkan sang dosen berhenti sesaat untuk berbicara dengan mahasiswa. Kampus yang bersih berkat partisipasi mahasiswa dan civitas akademik yang tidak membuang sampah secara sembarangan. Dosen-dosenpun menikmati perjalanan ke dan dari kampus dengan hanya naik kereta. Bukan dengan mobil pribadi. Ini karena sistem transportasi yang memadai, serta mahalnya biaya parkir untuk kendaraan. Begitu pula dengan pajak mobil yang naik setiap tahun. Hanya di tahun pertama ketika mobil itu dibeli didapatkan pajak yang rendah. Setelahnya akan membayar pajak progresif. Ketika berada selama kurang lebih 6 jam di kampus, saya mendapati 1 orang yang naik mobil. Itupun saya menduga warga high class yang datang ke kampus. Bukan dosen dan apalagi mahasiswa.

Fasilitas kampus memudahkan para dosen berkarya. Masing-masing diberikan ruangan, dengan perlengakpan komputer serta rak buku yang memadai. Di lantai yang sama disediakan ruangan dapur. Sehingga untuk memanaskan makanan, membuat minuman, dapat dilakukan di dapur kecil ini. Biasanya jika tidak ke kantin, maka dosen membawa makan siang yang disebut bento. Tipikal kampus seperti ini memberikan kesempatan berkarya. Maka, saya melihat dosen-dosen Waseda dengan kualifikasi yang memenuhi standar internasional. Termasuk publikasi yang mendunia, dijadikan rujukan serta diterbitkan lembaga terkemuka.

Dalam dunia teknologi Jepang sudah mendunia. Ilmu pengetahun juga demikian. Maka, secara umum ketika menyebut Asia, maka tidak lengkap kalau merujuk ke Jepang. Kalau sajapembacaan yang kurang, maka dia akan menyebut ibukota Asia terletak di Jepang.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Forest Mind: Menikmati Lukisan di Tengah …

Didik Djunaedi | | 22 October 2014 | 22:20

“Yes, I’m Indonesian” …

Rahmat Hadi | | 22 October 2014 | 10:24

Ayo, Tunjukkan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24

Presiden Jokowi Melanggar Hukum? …

Hendra Budiman | | 22 October 2014 | 17:46

Apakah Kamu Pelari? Ceritakan di Sini! …

Kompasiana | | 25 September 2014 | 11:05


TRENDING ARTICLES

Ketika Ruhut Meng-Kick Kwik …

Ali Mustahib Elyas | 9 jam lalu

Antrian di Serobot, Piye Perasaanmu Jal? …

Goezfadli | 9 jam lalu

Mengapa Saya Berkolaborasi Puisi …

Dinda Pertiwi | 10 jam lalu

MH370 Hampir Pasti akan Ditemukan …

Tjiptadinata Effend... | 10 jam lalu

Waspada Scammer di Linkedin, Temanku Salah …

Fey Down | 10 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: