Back to Kompasiana
Artikel

Luar Negeri

Fredy Purba

berakar Batak | pengamat politik prematur | The Blues Chelsea | jazz & hip-hop musiknya | tinggal di Medan

HUBUNGAN INTERNASIONAL SISTEM, INTERAKSI dan PERILAKU

REP | 15 October 2012 | 12:16 Dibaca: 748   Komentar: 0   0

Politik internasional sangat berbeda dengan politik lokal seperti yang telah kita pelajari. Politik lokal secara umum terjadi dalam kedaulatan kesatuan atau yang biasa kita sebeut dengan negara. Sangat banyak teori, di dalam kajiannya tapi tidak menjelaskan secara keseluruhan. Hanya karena negara mengatur kedaulatan secara legal tidak berarti mengatur semunya secara keseluruhan. Di Lebanon sebagai contoh pada tahun 1980an, teritori negara diserang oleh kekuatan dari luar. Pemerintahan yang lemah dimanfaatkan oleh kekuatan dari kerjasama negara (Amerika, Perancis, dan Itali).

Dalam Kedaulatan kesatuan, cepat atau lambat mengarah kepada hukum. Jika kamu memiliki keluhan terhadap seseorang, kamu tidak bisa membuat hukum sendiri dari tanganmu. Kamu akan membawa dia ke pengadilan. Di dalam hubungan internasional, hampir berlawanan berlaku, pengambilan hukum berada di tangan anda dengan mengggunakan ancaman atau kekuatan militer adalah hal yang wajar. Sering tidak ada jalan lain dari itu.

Kekuatan dan Kepentingan Negara

Kedaulatan kurang berlaku dari kebanyakan situasi lokal, hubungan internasional bergantung kepada banyaknya suatu kekuatan dalam sebuah negara. Hans Morgenthau membuat kekuatan yang berdasar pada elemen politik internasional dan Idealis itu menjauhkan mereka dari bahaya. Tanpa adanya kekuatan yang besar, sebuah negara tidak dapat bertahan, apalagi menang dan menggemparkan dunia. Di situasi ini negara sebaiknya secara umum mengejar “kepentingan mereka” yang sangan dibutuhkan di dalam urusan dunia. Ini membuat politik internasional terlihat individualis. Negara sebaiknya berlatih kemurahan hati dan kebersamaan, ini meningkatkan kekuatan internasional dan prestise suatu negara.

Kepentingan negara mungkin dapat dibagi kedalam kebutuhan utama lawan cadangan, terapan lawan permanen, spesifik lawan umum, dan komplementer melawan pertentangan. Ketika sebuah negara merasakan sebuah ancaman, biasanya akan terjadi perang. Kepentingan kedua biasanya lebih tidak dihiraukan dan tidak terlalu penting.

Perang Dingin

Dimulai sekitar tahun 1946, Perang dingin sudah menjadi tensi militer dan perang ketidak percayaan antara Uni Soviet dan Amerika Serika. Perang dingin dimulai setelah dan langsung dari konsekuensi perang dunia ke II. Tentara merah Stalin telah bergabung dengan tentara NAZY di Eropa timur dan Stalin tidak ingin mnyerah kepada Amerika setelah kehilangan 20 juta warga negaranya. Stalin menjadikan Eropa Timur sebagai kawasan basis perlindungannya. Negara ini bertahan sampai runtuhnya tembok Berlin tahun 1991. Di barat dipimpin oleh Amerika Serikat, dan melihat Stalin sebagai sebuah alarm ancaman. Stalin seperti Hittler, diktator dalam mempengaruhi negara di dunia dan Amerika Serikat mengambil langkah untuk menghentikan itu.

Di dalam puncak perang dingin, dunia terlihat seperti kedalam dua kubu. Satu dimpin oleh Washing dan yang lain oleh Moskow. Kondisi ini dinamakan “bipolar”. Beberapa melihat sistem bipolar terlihat lebih stabil dan nyaman dan kamu tahu dimana kamu berdiri. Argumen lain menyatakan ini adalah sistem yang berbahaya di masukan kedalam “kekosongan” mental yang mendorong negara super power ke dalam posisi yang sulit di negara dunia ketiga. Setiap tempat di bumi ini terlihat seperti strategis dan meicu peperangan. Amerika Serikat sebagaia contoh mengintervensi Iran, Guatemala, Indonesia, Libanon, Kongo, Republik Dominika dan tempat-tempat lain yang mencurigakan yang jika tidak di amankan akan dikuasai oleh negara Uni Soviet.

Dengan kejadian 1990, kebanyakan pengamat percaya dunia digerakan oleh Sistem Bipolar dari perang dingin. Moskow menyerahkan Eropa Timur dan tidak lama mengehtikan invansi mereka ke Eropa Barat. Rusia sendiri, dengan determinasi ekonomi yang buruk, mencoba meminta bantuan teknologi dan investasi ke barat.

Di saat yang sama, Eropa barat telah bergerak mendekati ke Persatuan Uni Eropa. Segala hambatan di antara kelima belas anggota uni eropa menghilang, mengahasilkan sebuah ekonomi yang tunggal, tetapi belum dalam satu kedaulatan. Menyebrang ke pasifik, Jepang telah menjadi kekuatan ekonmi yang besar di dunia. Setelah lama menjadi acuan Asia, “4 macan” Korea Selatan, Hongkong, Taiwan dan Singapura selalu menikmati pertumbuhan ekonomi.

Amerika Serikat, seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, telah mengalami beberapa masalah ekonomi. Defisit pasar besar-besaran diikuti oleh defisit bujet besar-besaran. Perusahaan asing membeli semua permuahan real estate Amerika Serikat, pabrik, dan pertanian. Amerika Serikat secara sederhana tidak mempunyai ekonomi yang dominan.

Ditambahakan lagi, beberapa pengamat merasakan akan terjadinya perubahan “sistem internasional”. Internasional sistem memiliki banyak komponen yang saling berhubungan satu sama lain. Sistem ini berganti terus dengan munculnya terus kekuatan baru, teknologi baru, dan aliansi baru. Melihat ke beberapa abad lalu, para sarjana percaya bahwa paling sedikit ada 4 sistem internasional, yang saling beroperasi dengan beberapacara dan logika yang berbeda.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Melihat Lagi Fenomena Jokowi di Bentara …

Hendra Wardhana | | 25 October 2014 | 05:13

Terpaksa Olahraga di KLIA 2 …

Yayat | | 25 October 2014 | 02:17

Mejikuhibiniu: Perlukah Menghapal Itu? …

Ken Terate | | 25 October 2014 | 06:48

Pengabdi …

Rahab Ganendra | | 24 October 2014 | 22:49

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25


TRENDING ARTICLES

Kursi Gubernur Ahok dan Ambisi Mantan Napi …

Zulfikar Akbar | 7 jam lalu

Jangan Musuhi TVOne, Saya Suka Tendangan …

Erwin Alwazir | 8 jam lalu

Jokowi Ajak Sakit-sakit Dulu, Mulai dari …

Rahmad Agus Koto | 8 jam lalu

Gayatri, Mahir Belasan Bahasa? …

Aditya Halim | 12 jam lalu

Romantisme Senja di Inya Lake, Yangon …

Rahmat Hadi | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Sejarah Munculnya Lagu Bunuh Diri Dari …

Raditya Rizky | 8 jam lalu

Membuat Bunga Cantik dari Kantong Plastik …

Asyik Belajar Di Ru... | 9 jam lalu

Benalu di Taman Kantor Walikota …

Hendi Setiawan | 9 jam lalu

Jokowi Bentuk Kabinet Senin dan Pembicaraan …

Ninoy N Karundeng | 9 jam lalu

Bosan Dengan Kegiatan Pramuka di Sekolah? …

Ahmad Imam Satriya | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: