Back to Kompasiana
Artikel

Luar Negeri

Jielun Han

Aku yang dilahirkan di tanah Parahyangan, selalu berdo'a agar Indonesia menjadi negeri yang aman makmur selengkapnya

Ramadhan di Beijing

REP | 21 July 2012 | 08:53 Dibaca: 497   Komentar: 3   4

13428174131528505540

Suasana Sholat tarawih di mesjid Niujie Beijing (Dokumen Pribadi)

Seminggu sebelum tanggal 20 Juli 2012, CIA (China Islamic Association) sudah mengumumkan bahwa awal Ramadhan tahun ini jatuh pada hari Jumat. Edaran telah disebarkan di mesjid Niujie Beijing dan beberapa Mesjid di kota Beijing yang berjumlah 18 buah mesjid, tak luput pula Mesjid yang berada di kawasan kedutaan seperti kedutaan Pakistan dan kedutaan Sudan.

Ber-puasa di Beijing tentunya perlu perjuangan ekstra apalagi sedang musim panas dengan suhu berkisar antara 35-38 derajat celsius, bayangkan saja bahwa Subuh jam 03.06 dini hari dan Magrib jam 19.40 malam sehingga praktis hampir 17 jam umat muslim China berpuasa setiap hari-nya.

Namun ketaqwaan dan kerelaan mereka memeluk Islam terpancar dari denyut kehidupan yang praktis tidak berubah dari hari-hari biasa di sekitar masjid Niujie wilayah Xuanwu District yang merupakan kawasan muslim berpopulasi 200.000 jiwa di kota Beijing. Perbedaan yang mencolok dari hari-hari biasa adalah ramainya mesjid Niujie yang luar biasa dibandingkan hari-hari selain Ramadhan.

Kekuatan beribadah diwaktu yang panjang durasi puasanya justru melahirkan kegembiraan dan keceriaan begitu menyambut saat-saat buka Puasa. Di Indonesia, saat-saat menyambut buka puasa biasanya dilakukan melalui tradisi ngabuburit (menunggu buka puasa). Hampir mirip memang hakikatnya, namun penduduk kota Beijing yang muslim menghabiskan waktu sore menjelang buka puasa dengan tetap bekerja yang nyaris tidak ada perubahan waktu kerja dari hari-hari seperti biasa karena tentunya pemerintah China tidak menerapkan diskon waktu kerja seperti di Indonesia. Yang nampak bahwa memang ada kegiatan ngabuburit adalah antrian panjang ibu-ibu yang sedang mengantri membeli makanan untuk buka puasa sekitar Mesjid yang menggelar beraneka jenis makanan khas kota Beijing yang akan dihidangkan sebagai menu buka puasa.

Aanak-anak kecil berkumpul dipelataran mesjid sambil menenteng alquran juz’ama selepas mendapat pelajaran dari para ustadz dan ustadzah, sedangkan para remaja duduk diselasar mesjid bergerombol sambil sesekali memperhatikan ibu-ibu yang sedang mengantri beli makanan. Sebagian diantara mereka ada yang mengenakan kerudung sebagian lagi tidak mengenakan kerudung larut dalam keceriaan menunggu buka puasa.

Di pintu gerbang utama mesjid terpampang pengumuman jadwal puasa yang mengutip informasi dari CIA yang merupakan rujukan utama muslim China dalam menjalankan ibadah, tidak nampak keributan dan kebingungan kapan mulai puasa di Beijing karena 2 minggu sebelumnya telah diumumkan bahwa puasa akan dimulai pada hari Jumat tanggal 20 Juli 2012. Demikian juga bahwa Lebaran sudah ditetapkan pada tanggal 19 Agustus 2012.

Berbincang dengan Bakir salah satu jemaah Mesjid Niujie, terungkap bahwa umat muslim China dianggap superman oleh teman-temannya di tempat pekerjaannya karena sanggup tidak makan siang namun tetap bekerja seperti biasa. Seperti diketahui bahwa ritual makan siang dan makan malam adalah kegiatan yang selalu dipatuhi dengan tepat waktu oleh masyarakat China sebagai sebuah tradisi. Sehingga kegiatan puasa yang menghilangkan waktu makan siang dan menunda makan malam adalah sesuatu yang melawan tradisi dan dipandang mengagumkan. Banyak yang bertanya dengan wajah terheran-heran, Neng bu neng si? (Apakah tidak akan mati?).

Nyaris tidak ada beda dalam ritme bekerja selama bulan puasa demikian pendapat Bakir, meski siang hari bekerja dengan perut lapar dan malam hari begadang menjalankan ibadah malam di bulan ramadhan. Justru kami semakin akrab dengan keluarga karena saur dan buka puasa selalu dilakukan bersama dengan keluarga yang dalam hari-hari biasa, acara makan bersama tersebut jarang dilakukan karena umumnya suami istri sama-sama bekerja.

Keramaian di masjid Niujie selepas jam 24.00 berangsur-angsur senyap karena ada peraturan pemerintah bahwa mesjid harus menghentikan kegiatannya sampai batas waktu jam 24 setiap malamnya. Lampu yang semarak dipelataran mesjid sepanjang sore tersebut mulai dipadamkan, hening malam ramadhan tidaklah hening dihati umat muslim kota Beijing, gemuruh zikir dan tadarus alquran masih bisa kita dengar via iphone ditangan para jemaah yang diputar dan ditempelkan ke kepala mereka mengiringi langkah mereka meninggalkan mesjid untuk beristirahat malam itu.

Tags: ngeblogsahur

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Inilah (Bocoran) Kunci Jawaban UN SMA 2014! …

Mohammad Ihsan | | 17 April 2014 | 09:28

Warga Kecam Pemogokan Panitera …

Sutomo Paguci | | 17 April 2014 | 08:56

Fenomena Simon Santoso: Penerapan Teori XY? …

Yuniandono Achmad | | 17 April 2014 | 08:18

Sudah Dikompres tapi Masih Demam, Salahkah? …

Widhi Handayani | | 16 April 2014 | 21:59

Yuk, Ikuti Kompasiana Nangkring bareng …

Kompasiana | | 15 April 2014 | 20:47


TRENDING ARTICLES

Agar Tidak Menyusahkan di Masa Tua …

Ifani | 7 jam lalu

Menguji Nyali Jokowi; “Say No to …

Ellen Maringka | 7 jam lalu

Dinda, Are You Okay? …

Dewi Nurbaiti | 7 jam lalu

Pelajaran Mengenai Komentar Pedas Dinda …

Meyliska Padondan | 8 jam lalu

Menakar Pasangan Ideal Capres - Cawapres …

Afdhal Ramadhan | 14 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: