Back to Kompasiana
Artikel

Luar Negeri

Dirga Zabrian

studies islamic culutural and philosophy at Al Alzhar univ. Cairo egypt .

Kampung Melayu di Tengah Padang Pasir

REP | 04 April 2012 | 14:04 Dibaca: 345   Komentar: 2   1

13335481541688490428Meskipun dari letak dan jarak geografis yang tentunya berbeda antara ras meloid dan Arab, tapi kebanyakan mahasiswa/pelajar asia tenggara yang ada di Mesir tidak terlalu acuh dengan keadaan tersebut. ASEAN atau asia tenggara banyak mengirim delegasinya untuk mengenyam pendidikan disini. Sebut saja Malaysia, Indonesia, Thailand, Singapura, Brunai Darussalam, Laos, Kamboja, dan Filipina. nominasi negeara-negara ini kebanyakan mengutus beberapa pelajar yang berbasik Agama islam  dan sebagian kecil pada bidang akademis yang berbasis pada ilmu medis (kedokteran). kita hidup seakan dalam satu rumpun meskipun satu sama lain tidak saling kenal. Mengapa? karena dari beberapa tahun lamanya ada salah sebuah lokasi di kawasan nasr city provinsi kairo yang dulunya bahkan sampai sekarang dijuluki perkampungan Melayu.

Selain jumlah populasi masyakat rasis melayu disni, tempat-tempat kuliner asli melayu banyak di jajakan. mulai dari masakan padang, warung bakso, rumah makan lesehan, soto kudus, bahkan coto makassar ada tersedia di bumi kinanah ini. Dan pastinya merupakan tempat berlabuh rindu bagi segenap mahasiswa dan pemukim asal melayu khususnya indonesia yang tercatat lebih banyak pendatang yang membuka rumah -rumah makan disini. Selain indonesia juga Malaysia dan Thailind tidak kala menariknya dalam penyajian masakan khas negaranya meskipun tidak selues dan sebanyak Indonesia.

Baru saja sehabis kuliah saya mampir di sebuah restoran masakan padang yang terletak dekat dari kampus Al Azhar. Sedikit heran dan terkejut karena yang menyajikan dan melayani bukan orang padang. Hal itu biasa, toh di indonesia pun banyak juga orang luar  sumtera bahkan padang yang mendirikan rumah makan yang asli pedas dan meggoyang lidah tersbut. Tapi, justru yang menggelitik mata soalnya yang di dalam restoran tersebut semuanya adalah orang Arab. Membuatku sedikit tersungkur dan menahan senyum haru akan bangga, pelayannya menyambut tamu dan menanyakan menu dengan bahasa indonesia ikut logat padangnya lagi. hahaha,aneh tapi nyata.

setelah interview ternyata pendiri restoran itu adalah orang Mesir yang pernah belajar kedokteran di padang. Karena tertarik akan masakan-masakan di indonesia akhirnya dia turut menyajikan masakan indonesias di kairo, bahkan yang masak juga dia. Meskipun rasa dan pemyajian tidak seperti yang ada di indonesia tentunya. tetapi, hal ini sudah mengobati sebagian rindu para pelajar dan pemuklim disini. Juga banyak keadaaan sehari-hari dan kegiatan rutin para mahasiswa indonesia yang bisa menjadi pengobat rindu. Seperti di dalam flat terus menggunakan bahasa daerah dan masakan yang sehari-hari dimasak sama denagan masakana di rumah. Berbada denagan yang tinggal di asarama delegasi Azhar yang menunya semua serba Arab.

Demi pelestarian budaya juga senat perkumpulan mahasiswa Minang dan Sulawesi sebentar lagi akan mengadakan pameranke budayaan bekerjasamadengan KBRI. Di dalamnya di tampilkan berbagi lagu dan tarian khas masing-masing daerah, dan menu-menu tradisonal asal kedua kekeluarggan akan disajakan dengan ciri khas yang tentunya ala minang dan bugis makassar atau semua yang berhubungan antar minang dan sulawesi. Di samping itu upaya-upaya pelestarian dan penyabaran bahasa indonesia sedikitnya telah dirintis oleh par duta bangsa umtuk Mesir. Diantaranya, berbagai kursus terbuka bahassa indonesia, dan jurusan resmi bahasa indonesia sudah resmi dibuka pada lembaga-lembaga pendidikan yang ada pada Negri Mubarak ini.

Indonesia adalah negara yang kaya akan budaya dan keberagaman. Merupaka suatu hal yang afsah bila dimana para pribumi yang meninggalkan tanah airnya menyebar luaskan, dan ikut mempromosikan nilai-nilai luhur yang ada pada ibu pertiwi. Melihat kondisi Negri disana yang terdengar banyak pergejolakan politik, demonstarn dimana-dimana, kebijakan -kebijakan pemerintah yang tidak dapat dicerna oleh masyarakat. seakan mengingatkan saya pada kejadian mesir yang mana juga dalam hawa atmosfer perpolitikannya belum stabil. Berharap dua Negara bersahabat ini cepat-cepat mengakhiri masa-masa kritisnya and road to the better country.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Produksi Murah Jualnya Mahalan …

Gaganawati | | 23 October 2014 | 16:43

Pak Jokowi, Rakyat Cuma Ingin Bahagia… …

Eddy Mesakh | | 23 October 2014 | 19:57

[BALIKPAPAN] Daftar Online Nangkring bersama …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 11:00

”Inspirasi Pendidikan” dari Berau …

Rustan Ambo Asse | | 23 October 2014 | 18:22

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40


TRENDING ARTICLES

Akankah Pemkot Solo Berani Menyatakan Tidak …

Agus Maryono | 4 jam lalu

Jokowi-JK Tak Kompak, Langkah Buruk bagi …

Erwin Alwazir | 5 jam lalu

Jonru Si Pencinta Jokowi …

Nur Isdah | 7 jam lalu

Pak Presiden, Kok Sederhana Banget, Sih! …

Fitri Restiana | 7 jam lalu

Acara Soimah Menelan Korban …

Dean Ridone | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

Wih, Sekarang Abdi Rakyat Bakalan Keteteran …

Ridha Harwan | 7 jam lalu

Antara Aku, Kompasiana dan Keindahan …

Rahmat Hadi | 7 jam lalu

Sejarah Qatar, Juara Piala Asia U-19! …

Achmad Suwefi | 8 jam lalu

Makna Kegagalan …

Hanif Amin | 8 jam lalu

Ketika Islam Dianaktirikan Penganutnya …

Anni Muhammad | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: