Back to Kompasiana
Artikel

Luar Negeri

Junanto Herdiawan

Pecinta ekonomi dan traveling. Penulis empat buku, Flying Traveler, Shocking Japan, Shocking Korea, dan Japan selengkapnya

Lewat Dolanan Anak, Niken Tembus Jepang

HL | 30 March 2012 | 10:58 Dibaca: 1206   Komentar: 35   4

13330610401013868807

Lukisan

Kapan terakhir kali kita melihat anak-anak di Indonesia bermain conglak, petak umpet, atau gobak sodor? Pertanyaan itu diajukan oleh Niken Larasati, pelukis dari Yogyakarta, kepada saya saat bertemu dengannya di Graha Budaya Indonesia, Shinjuku, Tokyo beberapa hari lalu.

Niken datang ke Tokyo dalam rangka pameran tunggal lukisannya yang bertema “Dolanan Bocah Tradisional Indonesia”. Pameran tersebut diadakan hingga 16 Juni 2012, didukung oleh Jakarta Shimbun serta Graha Budaya Indonesia yang dimotori oleh Seiichi Okawa, jurnalis Jepang yang memiliki kepedulian terhadap budaya Indonesia.

Saya sempat tertegun dengan pertanyaan dari Niken soal dolanan anak tadi. Permainan tradisional anak-anak memang sudah nyaris punah. Tak pernah lagi saya melihat anak-anak main petak umpet dan congklak. Anak-anak saya sendiri bahkan lebih banyak bermain dengan game elektronik, handphone, ataupun bergaul secara online dengan rekan-rekannya di berbagai belahan dunia.

Pertanyaan dan kegelisahan Niken tentu sangat valid. Permainan anak tradisional bukan sekedar permainan saja, tapi memiliki filosofi yang dalam dan penuh makna. “Lukisan saya menggambarkan bagaimana anak-anak dulu masih bermain dengan manusia dan alam, sementara anak-anak sekarang bermain dengan mesin”, demikian kata Niken.

Niken merasakan kegalauan yang luar biasa saat permainan tradisional semakin terpinggirkan dan nyaris hilang ditelan zaman. Hal inilah yang mendorongnya untuk mengangkat dolanan anak tradisional sebagai tema lukisannya.

Permainan tradisional memang memiliki banyak keunggulan dibanding permainan anak sekarang. Permainan tradisional melibatkan aktivitas fisik yang lebih banyak sehingga membangun kematangan fisik seorang anak. Berlari, melompat, melempar bola, adalah contoh aktivitas tersebut.

Bermain memang sebuah hal yang terpenting bagi anak-anak. Lewat bermain, seorang anak memperoleh banyak pelajaran dan kesempatan besar melihat berbagai hal dalam hidup. Lewat dolanan tradisional, anak-anak terlibat dalam interaksi sosial dan emosi dengan teman bermainnya. Di situlah terjadi pembelajaran tenggang rasa, tahu aturan, pengembangan kognitif, hingga kemampuan menerima perbedaan.

Anak-anak yang aktif bermain dengan kawan-kawannya biasanya lebih matang dalam menerima perbedaan. Namun anak yang dibesarkan dalam kesendirian, jarang bergaul, dan hanya bermain dengan mesin, kerap selalu merasa dirinya benar dan sulit menerima perbedaan. Padahal dalam kehidupan ini, kita dihadapkan pada banyak perbedaan.

Niken juga mengatakan bahwa pada permainan tradisional masa lalu, anak-anak bisa bermain tanpa melihat perbedaan, seperti ayahnya siapa, agamanya apa, sukunya apa. Kita bermain bersama dengan segala perbedaan, meski teman-teman kita berasal dari beragam suku bangsa dan agama.

Hal itu benar sekali. Saya ingat betul saat kecil dulu masih sering melakukan permainan seperti petak umpet dengan berbagai jenis kawan. Ada teman dari Maluku, Nusa Tenggara, Sulawesi, Sumatera. Ada yang beragama Islam, Kristen, Hindu, Buddha. Semua bermain bersama tanpa prejudice.

Ada sekitar 22 permainan anak-anak yang ditampilkan dalam pameran lukisan Niken di Tokyo. Atmosfer tradisional dikesankan di lukisan Niken dengan nuansa kemben dan batik pada anak-anak yang sedang melakukan permainan. Batik yang dilukiskan juga perpaduan dari berbagai jenis batik. Hal itu untuk menggambarkan perbedaan-perbedaan.

Ciri khas lain dari lukisan Niken adalah pola titik-titik yang berbentuk lingkaran sebagai dasar dari lukisannnya. Menurutnya, itu adalah gambaran kehidupan yang terus berputar dari satu titik ke titik lainnya, dan kita tak bisa kembali lagi ke titik awal. Selain lukisan, Niken juga menampilkan dolanan anak-anak di tas kulit buatan tangannya sendiri. Ragam tas kulit tersebut juga ikut ditampilkan di Jepang.

1333061213786563653

Dolanan Boneka / photo Junanto

13330612501744157776

Dolanan Jamuran / photo Junanto

Niken Larasati hanya seorang ibu rumah tangga. Ia tinggal di rumah kecilnya yang terletak di tengah sawah. Ia juga bukan pelukis besar dengan modal kuat. Sebelum melukis, Niken bekerja di pabrik kulit sepeninggal mendiang ayahnya. Ia kemudian melanjutkan pendidikan di Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) dan menempa terus kemampuan melukisnya.

Tak pernah terbayangkan oleh Niken akan mampu melakukan pameran tunggal di Tokyo. Prosesnya menuju Tokyo bukan sebuah jalan mudah. Niken melukis awalnya hanya sebagai sebuah hobi. Ia lalu memajang berbagai lukisannya di dinding facebook-nya.

Suatu hari, Seiichi Okawa melihat lukisan-lukisan Niken di facebook.Tertarik dengan keunikan lukisannya, Seiichi Okawa menghubungi Niken dan bahkan berkunjung ke Yogya untuk melihat secara langsung lukisan-lukisannya. Ia menawarkan Niken untuk melakukan pameran di Tokyo. Tapi, dukungan pemerintah sangat sulit didapat. Apalagi Niken hanyalah seorang pelukis dari desa.

Berkat keteguhan dan ketekunan hati, Niken berhasil mendapat dukungan dari Gubernur DI Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono X. Bermodal tabungannya sendiri, dukungan Graha Budaya Indonesia di Jepang, dan beberapa perusahaan lain, iapun akhirnya pergi ke Jepang.

Di Jepang, Niken mendapat sambutan yang luar biasa. Animo masyarakat Jepang pada lukisannya cukup tinggi. Puluhan media lokal meliput pamerannya dan Niken muncul di halaman media-media berbahasa Jepang.

Niken juga didapuk menjadi pembicara dalam diskusi di depan warga Jepang di Tokyo, yang bertema tentang “Menjadi Pelukis, Ibu, dan Istri”, pada tanggal 31 Maret 2012. Ia juga mengajarkan beberapa kosa kata bahasa Jawa pada orang Jepang.

Kegigihan dan ketekunan Niken ini perlu kita apresiasi. Di tengah munculnya komersialisasi pada karya seni, termasuk lukisan, Niken masih mampu tampil dengan membawa sebuah prinsip dan idealisme. Ia juga menunjukkan bahwa karya seni Indonesia mampu tampil di manca negara tanpa harus bergantung banyak pada pemerintah.

Niatnya hanya satu. Ia ingin mewariskan sebuah nilai, yang berasal dari permainan tradisional khas Indonesia, pada generasi penerusnya, dan juga memperkenalkan budaya Indonesia pada dunia. Sebuah cita-cita yang sederhana tapi mulia.

Salam dari Tokyo.

13330612851065248667

Bersama Niken Larasati dan Seiichi Okawa di Graha Budaya Indonesia, Tokyo

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Membuat KTP Baru, Bisa Jadi Dalam Sehari! …

Seneng | | 22 October 2014 | 10:00

Bola Lampu Pijar, 135 Tahun Penemuan yang …

Necholas David | | 22 October 2014 | 08:19

Nangkring “Special” bersama Bank …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:44

FFI, Hajat Insan Film yang Tersandera Tender …

Herman Wijaya | | 22 October 2014 | 14:35

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40


TRENDING ARTICLES

Calon Menteri yang Gagal Lolos …

Mafruhin | 7 jam lalu

3 Calon Menteri Jokowi Diduga Terlibat Kasus …

Rolas Jakson | 7 jam lalu

Suksesi Indonesia Bikin Iri Negeri Tetangga …

Solehuddin Dori | 7 jam lalu

Bocor, Surat Penolakan Calon Menteri …

Felix | 8 jam lalu

Fadli Zon dan Hak Prerogatif Presiden …

Phadli Hasyim Harah... | 8 jam lalu


HIGHLIGHT

Bukti Handphone Mahal itu Nggak Awet …

Ervipi | 8 jam lalu

V2 a.k.a Voynich Virus (part 30) …

Ando Ajo | 8 jam lalu

Indonesia Itu Pluralis Bukan Agamis …

Abdul Haris | 8 jam lalu

Rahasia Tulisan Jadi Headline …

Mauliah Mulkin | 8 jam lalu

Mengapa Jokowi Minta Pertimbangan KPK? …

Slamet Dunia Akhira... | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: