Back to Kompasiana
Artikel

Luar Negeri

Isaro Tarabhalaga

Hidup itu adalah Perjuangan.... tapi bukan berjuang dengan jalan mencuri .... ataupun Korupsi...

Dahsyatnya Sodaqoh

REP | 25 February 2012 | 23:43 Dibaca: 1294   Komentar: 8   4

Pada akhir bulan Desember 2011 lalu, kami berbincang-bincang mengenai arti “Sodaqoh” dengan mahasiswa Kenyan dari Afrika yang tinggal di rumah kami dan taat beragama Katholik. Katanya kata Sodaqoh tsb artinya sama seperti dalam bahasa yang dipergunakan sehari-hari di negaranya Kenya. Memberikan pertolongan kepada orang miskin yang tidak mampu baik berupa makanan, pakaian dsb.

Menurut dia, setiap hari Natal Ibunya itu selalu sibuk memasak dengan segala lauk-pauknya, yang spesial disiapkan untuk kemudian dibagikan kepada anak-anak miskin terlantar di negara-nya. Keluarga si mahasiswa sendiri bukan termasuk orang kaya, tapi ini sebagai cara ber-Sodaqoh kebiasaan keluarganya di Hari Natal.

Orang miskin di dunia ini semakin banyak, sedangkan orang-kaya semakin tidak peduli meskipun mereka juga mengaku beragama. Orang kaya di Kenya, pergi ke Gereja yang dekat saja naik mobil yang parkirnya hampir memenuhi seluruh halaman Gereja dan membuat macet jalanan, sehingga sulit untuk para pejalan kaki yang betul-betul mau beribadah di hari bersejarah bagi umat Kristen tsb, ceritanya.

Keheranan dia semakin bertambah, ketika melihat kenyataan di kota-kota besar Australia dan kota besar lainnya di dunia, dimana yang ditonjolkan pada hari Natal itu bukannya lagi soal kemanusiaan, tapi sebuah perayaan yang serba materialistis dan hura-hura, atau malahan pergi ke tempat-tempat wisata yang fasilitasnya serba mewah, sehingga akhirnya Gereja itu - walaupun bangunannya cukup bagus, pengunjung-nya bisa dihitung oleh jari. Apalagi setiap hari Minggu, yang hadir di Gereja rata-rata antara 20-30 orang saja, duduk di kursi-pun tidak sampai lima belas menit – itulah yang selalu diceritakannya kepada kami sepulang dari Gereja.

Kami hanya bisa menjelaskan, bahwa sebetulnya Islam itu adalah penyempurnaan dari agama sebelumnya, makanya salah satu dari ke-imanan Islam adalah percaya kepada Kitab Suci, Zabur, Tauret, dan Injil yang diturunkan oleh Tuhan YME sebelumnya.

Kekayaan dunia yang melupakan segi kemanusiaan pada saat sekarang ini, tidak hanya terjadi di lingkungan kaum Kristiani saja, akan tetapi juga dalam masyarakat Islam di dunia. Maka dari itu bencana-lah yang diturunkan Tuhan sebagai peringatannya kepada manusia.

Baiklah kembali kepada soal Sodaqoh, beberapa bulan lalu ada salah satu teman yang menceritakan dahsyatnya Sodaqoh, melalui e-mail sbb :

Assalamu’alaikum W. W.

Semoga cerita dibawah ini menambah pengetahuan kita lebih dalam tentang sodaqoh.

Tersebutlah kisah nyata seorang kaya raya berkebangsaan Saudi bernama Ra’fat. Ia diwawancarai setelah ia berhasil sembuh dari penyakit liver akut yang ia idap. Pola hidup berlebihan dan mengkonsumsi makanan tak beraturan membuat Ra’fat mengalami penyakit di atas.

Ra’fat berobat untuk mencari kesembuhan. Banyak dokter dan rumah sakit ia kunjungi di Saudi Arabia sebagai ikhtiar. Namun meski sudah menyita banyak waktu, tenaga, pikiran dan biaya, sayangnya penyakit itu tidak kunjung sembuh juga. Ra’fat mulai mengeluh. Badannya bertambah kurus, tak ubahnya seperti seorang pesakitan.

Demi mencari upaya sembuh, maka Ra’fat mengikuti saran dokter untuk berobat ke sebuah rumah sakit terkenal spesialis liver di Guangzhou, China.  Ia berangkat ke sana ditemani oleh keluarga. Penyakit liver semakin bertambah parah. Maka saat Ra’fat diperiksa, dokter mengatakan bahwa harus mengatakan diambil tindakan operasi segera. Ketika Ra’fat menanyakan berapa besar kemungkinan berhasilnya. Dokter menyatakan kemungkinannya adalah fifty-fifty. “50% kalau operasi berhasil maka Anda akan sembuh, 50% bila tidak berhasil mungkin nyawa Anda adalah taruhannya!” jelas sang dokter.

Mendapati bahwa boleh jadi ia bakal mati, maka Ra’fat berkata, “Dokter,  kalau operasi ini gagal dan saya bisa mati, maka izinkan saya untuk kembali ke negara saya untuk berpamitan dengan keluarga, sahabat, kerabat dan orang yang saya kenal. Saya khawatir bila mati menghadap Allah Swt namun saya masih punya banyak kesalahan terhadap orang yang saya kenal.” Ra’fat berkata sedemikian sebab ia takut sekali atas dosa dan kesalahan yang ia perbuat.

Dengan enteng dokter membalas, “Terlalu riskan bagi saya untuk  membiarkan Anda tidak segera mendapatkan penanganan. Penyakit liver ini  sudah begitu akut. Saya tidak berani menjamin keselamatan diri Anda  untuk kembali ke tanah air kecuali dalam 2 hari. Bila Anda lebih dari itu datang kembali ke sini, mungkin Anda akan mendapati dokter lain yang  akan menangani operasi liver Anda.”  Bagi Ra’fat 2 hari itu cukup berarti. Ia pun berjanji akan kembali dalam tempo itu. Serta-merta ia mencari pesawat jet yang bisa disewa dan ia pun pergi berangkat menuju tanah airnya.  Kesempatan itu betul-betul digunakan oleh Ra’fat untuk mendatangi semua  orang yang pernah ia kenal. Satu per satu dari keluarga dan kerabat ia  sambangi untuk meminta maaf dan berpamitan. Kepada mereka Ra’fat  berkata, “Maafkan aku, Ra’fat yang kalian kenal ini sungguh banyak  kesalahan dan dosa… Boleh jadi setelah dua hari dari sekarang saya  sudah tidak lagi panjang umur…”

Itulah yang disampaikan Ra’fat kepada orang-orang. Dan setiap dari mereka menangis sedih atas kabar berita yang mereka dengar dari orang yang mereka cintai dan kagumi ini.

Ra’fat menyambangi satu per satu dari mereka. Meski dengan tubuh yang kurus tak berdaya, ia berniat mendatangi mereka untuk meminta doa dan  berpamitan. Dan kondisi itu membuat Ra’fat menjadi sedih. Ia merasa  menjadi manusia yang paling merana. Ia merasa tak berdaya dan tak berguna. Sering dalam kesedihannya ia membatin, “Ya Allah…. rupanya  keluarga yang mencintai aku…. harta banyak yang aku miliki…perusahaan besar yang aku punya…. semuanya itu tidak ada yang mampu membantuku untuk kembali sembuh dari penyakit ini! Semuanya tak ada guna… semuanya sia-sia!” Rasa emosi batin itu membuat tubuh Ra’fat bertambah lemah. Ia hanya mampu perbanyak istighfar memohon ampunan Tuhannya. Memutar tasbih  sambil berdzikir kini menjadi kegiatan utamanya. Ia masih merasa bahwa  dirinya adalah manusia yang paling merana di dunia. Hingga saat ia sedang berada di mobilnya. duduk di kursi belakang dengan  tangan memutar tasbih seraya berdzikir. Hanya Ra’fat dan supirnya yang  berada di mobil itu.

Mereka melaju berkendara menuju sebuah rumah  kerabat dengan tujuan berpamitan dan minta restu. Saat itulah menjadi  moment spesial yang tak akan terlupakan untuk Ra’fat. Beberapa ratus meter di depan, mata Ra’fat melihat ada seorang wanita berpakaian abaya (pakaian panjang wanita Arab yang serba berwarna hitam) tengah berdiri di depan sebuah toko daging. di sisi wanita tadi ada sebuah karung plastik putih yang biasa menjadi tempat limbah toko tersebut. Wanita tadi mengangkat dengan tangan kirinya sebilah tulang sapi dari karung. Sementara tangan kanannya mengumpil dan mencuil daging-daging sapi yang masih tersisa di pinggiran tulang.   Ra’fat memandang tajam ke arah wanita tersebut dengan pandangan seksama.  Rasa ingin tahu membuncah di hati Ra’fat tentang apa yang sedang dilakukan wanita itu. Begitu mobilnya melintasi sang wanita, sekilas Ra’fat memperhatikan. Maka ia pun menepuk pundak sang sopir dan memintanya untuk menepi.

Saat mobil sudah berhenti, Ra’fat mengamati apa yang dilakukan oleh sang  wanita. Entah apa yang membuat Ra’fat menjadi penasaran. Keingintahuannya membuncah. Ia turun dari mobil. lemah ia membuka pintu, dan ia berjalan tertatih-tatih menuju tempat wanita itu berada.

Dalam jarak beberapa hasta Ra’fat mengucapkan salam kepada wanita tersebut namun salamnya tiada terjawab. Ra’fat pun bertanya kepada wanita tersebut dengan suara lemah, “Ibu…, apa yang sedang kau lakukan?” Rupanya wanita ini sudah terlalu sering diacuhkan orang, hingga ia pun tidak peduli lagi dengan manusia. Meski ada yang bertanya kepadanya, wanita tadi hanya menjawab tanpa menoleh sedikitpun ke arah si penanya. Sambil mengumpil daging wanita itu berkata, “Aku memuji Allah Swt yang telah menuntun langkahku ke tempat ini. Sudah  berhari-hari aku dan 3 orang putriku tidak makan.  Namun hari ini, Dia Swt membawaku ke tempat ini sehingga aku dapati daging limbah yang masih bertengger di sisi tulang sisa. Aku berencana akan membuat kejutan untuk ketiga putriku malam ini. Insya Allah, aku akan  memasakkan sup daging yang lezat buat mereka….”

Subhanallah. …! bergetar hebat relung batin Ra’fat saat mendengar penuturan kisah kemiskinan yang ada di hadapannya. Tidak pernah ia menyangka ada manusia yang melarat seperti ini. Maka serta-merta Ra’fat melangkah ke arah toko daging. Ia panggil salah seorang petugasnya. Lalu ia berkata kepada petugas toko, “Pak…, tolong siapkan untuk ibu itu dan keluarganya 1 kg daging dalam seminggu dan aku akan membayarnya selama setahun!” Kalimat yang meluncur dari mulut Ra’fat membuat wanita tadi menghentikan kegiatannya. Seolah tak percaya, ia angkat wajah dan menoleh ke arah Ra’fat. Kini mata wanita itu menatap dalam mata Ra’fat seolah ia berterima kasih lewat sorot pandang.


Merasa malu ditatap seperti itu, Ra’fat menoleh ke arah petugas toko. Ia  pun berkata, “Pak…, tolong jangan buat 1 kg dalam seminggu, aku rasa  itu tidak cukup. Siapkan 2 kg dalam seminggu dan aku akan membayarnya  untuk setahun penuh!” Serta-merta Ra’fat mengeluarkan beberapa lembar  uang 500-an riyal Saudi lalu ia serahkan kepada petugas tadi. Usai Ra’fat membayar dan hendak meninggalkan toko daging, maka terhentilah langkahnya saat ia menatap wanita tadi tengah menengadah ke langit sambil mengangkat kedua belah tangannya seraya berdoa dengan penuh kesungguhan:


“Allahumma ya Allah… berikanlah kepada tuan ini keberkahan rezeki. Limpahkan karunia-Mu yang banyak kepadanya. Jadikan ia manusia mulia di  dunia dan akhirat. Beri ia kenikmatan seperti yang Engkau berikan kepada  para hamba-Mu yang shalihin. Kabulkan setiap hajatnya dan berilah ia kesehatan lahir dan batin….. dst”


Panjang sekali doa yang dibaca oleh wanita tersebut. Kalimat-kalimat doa itu terjalin indah naik ke langit menuju Allah Swt. Bergetar arsy Allah Swt atas doa yang dibacakan sehingga getaran itu terasa di hati Ra’fat. Ia mulai merasakan ketentraman dan kehangatan. Kedamaian yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Hampir saja Ra’fat menitikkan air mata saat mendengar jalinan indah kalimat doa wanita tersebut. Andai saja ia tidak merasa malu, pastilah buliran air mata hangat sudah membasahi pipinya. Namun bagi Ra’fat pantang menangis…, apalagi dihadapan seorang wanita yang belum ia kenal.

Ra’fat lalu memutuskan untuk meninggalkan wanita tersebut. Ia berjalan tegap dan cepat menuju mobilnya. Dan ia belum juga merasakan keajaiban  itu! Ya, keajaiban yang ditambah saat Ra’fat membuka dan menutup pintu  mobil dengan gagah seperti manusia sehat sediakala!!!….Sungguh doa wanita itu memberi kedamaian pada hati Ra’fat. Sepanjang jalan di atas kendaraan Ra’fat terus tersenyum membayangkan doa yang dibacakan oleh sang wanita tadi. Perjalanan menuju rumah seorang kerabat itu menjadi indah.

Sesampainya di tujuan lalu Ra’fat mengutarakan maksudnya. Ia berpamitan  dan meminta restu. Ia katakan boleh jadi ia tidak lagi berumur panjang  sebab sakit liver akut yang diderita. Anehnya saat mendengar berita itu dari Ra’fat, sang kerabat berkata, “Ra’fat…, janganlah engkau bergurau. Kamu terlihat begitu sehat.Wajahmu ceria. Sedikit pun tidak ada tanda-tanda bahwa engkau sedang sakit.” Awalnya Ra’fat menganggap bahwa kalimat yang diucapkan kerabat tadi hanya untuk menghibur dirinya yang sedang sedih. Namun setelah ia mendatangi saudara dan kerabat yang lain, anehnya semuanya berpendapat serupa.

Dua hari yang dimaksud pun tiba. Ia didampingi oleh istri dan beberapa anaknya kembali datang ke China . Hari yang dimaksud untuk menjalani operasi sudah disiapkan. Sebelum masuk ruang tindakan, beberapa pemeriksaan pun dilakukan. Setelah hasil pemeriksaan itu dipelajari maka
ketua tim dokter pun bertanya keheranan kepada Ra’fat dan keluarga: “Aneh….! dua hari yang lalu kami dapati liver tuan Ra’fat rusak parah  dan harus dilakukan tindakan operasi. Tapi setelah kami teliti, mengapa liver ini menjadi sempurna lagi?!” Kalimat dokter itu membuat Ra’fat dan keluarga menjadi bahagia. Berulangkali terdengar kalimat takbir dan tahmid di ruangan meluncur dari mulut mereka. Mereka memuji Allah Subhanahu wata’ala yang telah menyembuhkan Ra’fat dari penyakit dengan begitu cepat. Siapa yang percaya bahwa Allah yang memberi penyakit, maka ia pun akan yakin bahwa hanya Dia Subhanahu wata’ala yang mampu menyembuhkan. Jangan bersedih dan merasa hidup merana. Sadari bahwa dalam kegetiran ada hikmah bak mutiara!

Dari  ulasan cerita  di atas mudah-mudahan tidak hanya menjadi bahan renungan saja tetapi juga kita bisa ber-Sodaqoh bagi fakir-miskin, sesuai dengan kemampuan kita masing-masing, tidak perlu menunggu  kita harus kaya dulu, dan kami yakin  Tuhan YME  akan memberikan  keselamatan dan kesejahteraan bagi bangsa kita  semua..

Wassalaam…

Februari 26, 2011



Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Makan Ikan Petrus dari Laut Galilea …

Andre Jayaprana | | 23 August 2014 | 00:20

Pihak Jokowi-JK Sudah Tepat Bila Mengadopsi …

Abdul Muis Syam | | 23 August 2014 | 03:40

Keputusan MK tentang Noken, Bagaimana …

Evha Uaga | | 22 August 2014 | 12:23

Goa Kalak Pertapaan Prabu Brawijaya …

Nanang Diyanto | | 23 August 2014 | 02:30

Kompasiana Nangkring bareng Sun Life: …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 12:58


TRENDING ARTICLES

Mulianya Hamdan Zoelva, Hinanya Akil Mochtar …

Daniel H.t. | 9 jam lalu

Ada Foto ‘Menegangkan’ Ibu Ani …

Posma Siahaan | 10 jam lalu

Mempertanyakan Keikhlasan Relawan Jokowi-JK …

Muhammad | 11 jam lalu

Pesta Perkawinan Mewah, Apa Ngaruh dalam …

Ifani | 14 jam lalu

SBY ‘Ngrecoki’ Jokowi …

Suko Waspodo | 16 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: