
Berbagi buku, menebar ilmu dalam program blogger hibah sejuta buku. #HibahBuku #Blogger #TKW di Malaysia #KoplakYoBand #MiringUnite · http://www.anazkia.com
Dibaca: 295
Komentar: 43
1 dari 1 Kompasianer menilai aktual
Menyebalkan!
Hari ini, sepertinya bener-bener menyebalkan. Ceritanya, pagi tadi saya akan ke kantor pos, mengirimkan sebuah pesanan dari salah seorang teman di Indonesia. Rencana sejak awal, saya akan menggunakan pos laju, atau kilat khusus kalau di Indonesia. Melihat keuangan, sepertinya uang saya memang tak cukup untuk biaya pos laju yang saya perkirakan lebih dari RM.60. Maka sebelum ke kantor pos, saya singgah dulu ke bank di mana saya menyimpan sedikit demi sedikit nilai uang ringgit saya. Sebelum pergi, agak risau juga mengingat passport saya sedang dipegang ibu untuk urusan perpanjang permit. Saya hanya membawa selembar kertas photocopyan passport.
Setelah memasuki bank, mengisi form kertas pengambilan uang saya kemudian mengambil nomor urut. Karena tidak banyak orang, saya langsung dipanggil untuk menuju teller bank. Duduk di depan teller, mengulurkan buku tabungan serta secarik kertas berisi jumlah penarikan uang. Teller bank memberikan instruksi supaya saya kembali menulis nomor id juga nomor phone di balik form pengambilan uang. Ketika saya berucap kalau menggunakan passport, petugas bertanya dan meminta saya menunjukan passport.
Saya bilang saja, kalau saya hanya mempunyai photocopyan saja karena passport berada di tangan majikan untuk urusan perpanjang permit. Kemudian saya juga menunjukan passport lama saya. Petugas bank beranjak dari tempat duduknya, membawa serta passport form kertas pengambilan uang, passport lama saya juga photocopyan passport terbaru saya. Terjadi dialog yang saya sendiri tak mendengar. Kemudian teller kembali ke tempat semula, lantas kembali meninggalkan saya. Sepertinya, menghadap kepada atasannya yang lebih tinggi jabatannya.
Perempuan berwajah manis dengan kulit mulusnya kembali duduk di depan saya dan dengan wajah terpaksa ia mengabarkan kalau saya tidak bisa mengambil uang dikarenakan menggunakan passport photocopyan. “Datang lagi kalau ada passport sebenar” ujarnya.
Saya berlalu dari situ tanpa senyuman. Kesel banget tentu saja. Yah, secara peraturan memang salah kalau saya menggunakan passport photocopyan untuk transaksi dengan pihak bank, apalagi melibatkan pengambilan uang. Yang saya kesalkan adalah keperluan pengiriman surat ke Indonesia yang memang sudah ditunggu. Saya kembali membuka dompet, uang di dalamnya betul-betul tak cukup untuk biaya pengiriman. Dan benar saja, ketika ke kantor pos biaya pengiriman lebih besar dari jumlah uang yang ada di dalam dompet. Saya keluar dari kantor pos dengan kecewa, besok tentu saja harus kembali ke sana.
Selama pulang saya berpikir dan teringat…
Pernah kejadian, seorang teman mahasiswa menceritakan kalau ia mengantar seorang kenalannya yang kebetulan bekerja di sektor rumah tangga. Ia mengantarkan ke sebuah mall besar untuk berbelanja. Ndilalah, di jalan bertemu dengan sepasukan RELA (lupa entah RELA entah polisi) dan memeriksa identitas pekerja rumah tangga tersebut. Pekerja tersebut tak memiliki passport, ia hanya mengulurkan sebentuk card berwarna biru sebagai pengganti passport. Tapi, kok yah para pasukan itu maksa kalau card seperti itu tidak berguna. Dan akhirnya, sang pekerja rumah tangga tersebut mengalami masalah sampai akhirnya didatangkan majikan untuk mengambilnya.
Yah, dulu memang kami memiliki kartu biru seperti IC (identity Card) orang Malaysia. Di situ tertulis nama, alamat majikan, nama majikan dan nomor passport. Tapi entah kenapa sekarang tidak ada lagi. Dan mengingat kejadian baru tadi, semoga saya tak lagi memegang passport photocopyan lagi supaya mudah untuk melakukan transaksi.
gagal mengambil uang