
ALEXTJOA.COM — CELEBRATING LIFE'S BEAUTY AND ELEGANCE
Dibaca: 411
Komentar: 9
3 dari 3 Kompasianer menilai aktual
Banyak orang dari negara “miskin” atau negara “ketiga” memandang tinggi negara-negara barat yang kelihatannya lebih maju dari negara “miskin” tersebut. Mari kita tengok negara Swedia, negara asal hadiah Nobel, yang tampilan luarnya apik dan sempurna. Apa yang sebenarnya terjadi di Swedia dan pelajaran apa yang dapat kita ambil dari negara “maju” ini?
KEBOBROKAN DAN PELANGGARAN HAM SADIS PETUGAS SOCIAL SERVICE SWEDIA
Seorang ibu asal Indonesia dan putranya Jonatan menjadi korban korupsi dan tindakan kriminal petugas social service Gotland, Swedia, yang bohong dibawah sumpah secara blak-blakan dan menulis laporan manipulatif tentang ibu dan anak ini sehingga mereka dapat dipisahkan secara keji. Petugas social service Swedia yang korup berpihak kepada ayahnya Jonatan, seorang penulis terkenal dan media milyuner yang bernama Jonas Jonasson.
Bukti video pertemuan dan kesaksian bohong dibawah sumpah di pengadilan Stockholm, Swedia, dapat dilihat di:
http://jonatantjoa.blogspot.com/2011/01/12-000-human-rights-activists-worldwide.html
Respon terhadap wawancara manipulatif Jonas Jonasson dengan Malou von Sivers dalam program “Efter Tio” TV4 untuk mengibuli publik Swedia dapat dibaca di sini:
http://jonatantjoa.blogspot.com/
Ratusan ribu anak-anak tak bersalah dirampas oleh petugas social service dari orang tua mereka yang juga tidak bersalah untuk dimasukkan ke dalam panti asuhan keji yang mendapat 860 USD/hari/anak yang dirampas — suatu konspirasi bisnis raksasa korup yang ironisnya dibiayai oleh uang pajak rakyat:
http://jonatantjoa.blogspot.com/p/watch-out-guys-we-are-going-to-rob-your.html
Korupsi dan pelanggaran HAM sadis di Swedia dituturkan secara jelas dan rinci dalam sebuah ceramah kuliah di London oleh Siv Westerberg, seorang pengacara sekaligus dokter dengan keberanian moral luar biasa:
http://jonatantjoa.blogspot.com/2011/10/truth-about-swedish-social-services.html
Siv Westerberg adalah salah satu dari segelintir pengacara dan pelaku hukum di Swedia yang mempunyai keberanian moral. Sebagian besar pelaku hukum di Swedia hanya tertarik kepada uang saja. Dalam ceramah kuliahnya di London, Siv Westerberg dengan cerdas dan tepat menggambarkan secara detil tindakan korup petugas social service di Swedia dimana Jonatan dan ibunya yang berasal Indonesia menjadi korban.
“So how do they fall into the clutches of the social Services? Well, in Sweden, there is a special emphasis on targeting the so-called ‘poor’; as well as a DISPROPORTIONATE number of IMMIGRANT families.”
— Siv Westerberg, Jur. kand, med. lic
Warga asing yang tinggal di Swedia selayaknya hati-hati dan sadar akan kekejian dan rasisme petugas social service Swedia yang suka menjadikan kaum imigran dan orang beragama, baik Muslim maupun Kristen, sebagai korban permainan kotor tak bermoral mereka.
Untuk mengetahui lebih lanjut tentang kisah nyata para korban kekejian social service Swedia yang jumlahnya ratusan ribu, silahkan tengok:
http://www.facebook.com/groups/233631863356243
Masih banyak lagi group-group Facebook tertutup untuk para orang tua dan anak-anak korban kekejian social service Swedia dengan kisah yang sangat memilukan dan amat tidak manusiawi.
Di Indonesia, ada pepatah yang mengatakan, “Makan tak makan, tetap kumpul.” Bersyukurlah mereka. Jika mereka tinggal di Swedia maka yang terjadi adalah, “Biarpun makan, jangan harap bisa kumpul karena anakmu sudah dirampas oleh social service dan jangan harap bisa bertemu dengan anakmu.”
Sekali anak dirampas oleh social service mafia, orangtua jika beruntung hanya diperbolehkan bertemu anak mereka total 24 jam setiap tahunnya, beberapa bulan sekali dan dibawah pengawasan petugas social service psycopath. Para napi saja diperbolehkan bertemu dengan anak-anak mereka jauh lebih sering.
Betul sekali analisa teman saya bahwa di Swedia pajak dijadikan alat politik yang mengungkung kebebasan dan hak orangtua. Di Swedia semua tergantung dengan pemerintah. Punya masalah keluarga, ribut dengan suami atau istri, pergi ke pemerintah buat menyelesaikannya yang ujung-ujungnya menjadi monster yang menghancurkan keluarga dan anak-anak mereka. Di Swedia, “Familjerätten” atau terjemahan Inggrisnya “family court” adalah serigala berbulu domba dari departemen social service. Badan ini bukanlah pengadilan keluarga dalam arti sebenarnya dan hanya terdiri dari socionom yang partisan, korup, dan tidak kompeten tanpa latar belakang family counseling tapi berlagak seperti Dr. Phil.
Ketergantungan yang luar biasa ini menjadikan orang-orang Swedia tidak kreatif dan lemah karena mereka tidak bisa berpikir secara independen. Gawat sekali kalau rakyat sudah tidak mempunyai kemampuan berpikir. Dampak mengerikan ini mengingatkan saya dengan kenyataan mengerikan yang saya saksikan ketika berkunjung ke sebuah kota kecil mati bernama Alicedale di Afrika Selatan. Orang-orang kulit hitam korban apartheid dicuci otaknya sehingga mereka tidak dapat berpikir dan mempunyai opini sendiri.
Diktaktor dunia banyak yang membunuh rakyatnya, tapi mereka tidak membunuh ikatan keluarga. Ini yang membuat kasus Swedia sangat absurd, unik, dan mengerikan. Membunuh ikatan keluarga seperti yang dilakukan pemerintah Swedia ternyata sangatlah efektif karena dasar kekuatan suatu bangsa itu adalah keluarga.
Genocide “killing me softly” à la Swedia ini juga membuktikan betapa mudahnya suatu negara tergelincir dalam korupsi keji biarpun pada asalnya sistem yang mereka ciptakan itu adalah untuk kepentingan dan kebaikan rakyat.
Di sini ternyata para guru, dokter, perawat, bidan, babysitter (dagmamma) dan petugas social service menjadi monster mafia bagi rakyat karena kekuatan laporan mereka yang bernama “anmälningsplikt“. Jika mereka sentimen atau tidak senang dengan orangtua tertentu, mereka dapat membuat laporan fitnah terhadap orangtua tersebut sebagai balas dendam dan anak-anak orangtua tersebut dirampas masuk penjara rumah asuh dimana lebih dari 60 persen anak-anak di sana mengalami pelecehan seksual bahkan ada yang dibunuh. Jadi jangan sampai berani berargumen atau kritik pegawai pemerintah dan social service yang mempunyai “anmälningsplikt“ ini biarpun mereka menyiksa anak-anak kalian secara terang-terangan. Petugas social service di Swedia menurut peraturan hukum Swedia kebal hukum. Mereka tidak bisa dituntut biarpun mereka membunuh anak-anak tidak bersalah.
Berdasarkan keabsurdan mengerikan negara hadiah Nobel Swedia ini, dapat ditarik kesimpulan bahwa keberanian moral dan moralitas yang tinggi sangatlah dibutuhkan di manapun. Tanpa kedua kualitas karakter ini, semua negara baik yang kaya maupun miskin akan hancur seperti Sodom dan Gomorrah. Itulah yang terjadi di Swedia. Pemimpin negara, politikus, dan masyarakat menutup mata atas kekejian yang dilakukan terhadap ratusan ribu keluarga dan anak-anak tak bersalah.
Welcome to Sweden - a utopian hell!
________________________________
A blind Indonesian woman, Veronika Laetitia Mimi Mariani Lusli, obtained her doctoral degree. It is truly an inspiring achievement that sadly is almost impossible in Sweden because a blind girl will be most likely taken by the draconian corrupt social services and put in a lucrative foster home business where she gets no proper education and love with the reason that her parents have no capacity to take care of her. It is time that Sweden learns from a “poor” country like Indonesia where family ties are nourished and respected instead of destroyed by the government.
How many children with learning “challenges” are taken from their parents and destroyed forever by the government? It is not an excuse to rob a dyslexic child from his parents and abuse him in a foster home.
How many healthy bright promising young children are totally destroyed by the diabolical social services and foster homes? We can ask the Swedish actor and author Morgan Alling.

PS:
Barusan sore ini saya membaca pesan memilukan dari seorang ibu yang anak balitanya dirampas oleh petugas social service Swedia. Padahal anak balita dari keluarga baik-baik ini sudah mengalami operasi hati beberapa kali, tetap saja dirampas oleh petugas social service dengan alasan yang dibuat-buat bahwa orangtuanya tidak mempunyai kemampuan untuk mengurus anak ini. Maka laporan bohongpun dibuat agar anak balita tak bersalah ini dapat dimasukkan kedalam foster home yang sebenarnya adalah bisnis kotor. Perampasan anak di Swedia merupakan industri besar yang menggiurkan. Seharusnya anak balita berumur tiga tahun itu berhak untuk tumbuh dalam asuhan orangtuanya yang penuh kasih daripada dimasukkan ke dalam penjara foster home yang sangat berbahaya.
Seorang ibu Swedia kulit putih lainnya berbagi cerita bahwa putranya yang dirampas oleh petugas social service Swedia tidak dapat belajar bahasa Swedia karena semua anak lainnya di penjara panti asuhan itu adalah orang asing. Ini menguatkan fakta yang ditulis oleh pengacara senior Siv Westerberg di atas:
“So how do they fall into the clutches of the social Services? Well, in Sweden, there is a special emphasis on targeting the so-called ‘poor’; as well as a DISPROPORTIONATE number of IMMIGRANT families.”
— Siv Westerberg, Jur. kand, med. lic
Tentu saja paling enak menjadikan kaum imigran korban. Faktor rasisme terselubung memegang peranan penting dalam menjadikan kaum imigran sebagai bahan pelecehan dan permainan kotor favorit petugas social service. Jika faktor X atau faktor rasisme sudah merupakan bagian dari permainan, biarpun bukti kuat ada bahkan bohong dibawah sumpah yang blak-blakan terungkap di depan mata hakim, tetap saja orang asing tidak akan menang di pengadilan. Pelaku hukum di Swedia pada dasarnya tidak beda jauh dengan pelaku hukum di Indonesia, korup dan dapat disogok. Hanya beberapa gelintir yang benar-benar jujur.
Dalam salah satu kasus anak foster home, pengacara yang mewakili anak ini mempunyai semacam bisnis tempat penampungan anak yang bekerja sama dengan petugas social service. Bisa dibayangkan sendiri keadilan palsu seperti apa didapat anak ini kecuali diusahakan untuk dipenjara di foster home selama mungkin bertahun-tahun sampai dia dewasa karena tiap anak yang dijerat di foster home itu adalah sumber uang yang sangat amat menggiurkan. HVB-foster-home di Swedia itu mendapat 7.7 juta rupiah uang pajak rakyat per hari per anak yang dirampas dari orangtuanya. Rupert Murdoch saja bisa iri dengan penghasilan menggiurkan ini. Tertarik buka bisnis foster home di Swedia bekerja sama dengan petugas social service?
VIDEO DARI INGGRIS DAPAT MEMBERIKAN GAMBARAN APA YANG TERJADI DI SWEDIA:
http://www.youtube.com/watch?v=2K8ea1kMN74