Back to Kompasiana
Artikel

Luar Negeri

Abanggeutanyo

Pengamat : Mengamati dan Diamati

Pergolakan Bahrain dan Tentara Bayaran Indonesia. Apa Maksudnya?

REP | 23 June 2011 | 00:16 Dibaca: 4650   Komentar: 14   2

1308768710455419687

Bahrain berada di atas dua buah pulau saja  di teluk Persia. Negeri seluas 665 km2 yang merdeka sejak tahun 15 Agustus 1971 ini dikepalai oleh Raja sebagai kepala negara dan Perdana Menteri sebagai kepala pemerintahan. Dengan jumlah penduduk tidak sampai 1 juta jiwa dan 3/4 nya berada di ibukota Manama, kini sedang dirundung wabah anti pemerintah monarki.

Lokasi negara pulau ini berada di Teluk Persia antara Qatar dan Arab Saudi. Ini sebabnya juga disebut dengan Bahrain yang dalam bahasa Arab berarti “Dua Laut.” Hal ini mengacu kepada posisi Bahrain yang diapit oleh dua negara di perarian teluk Persia.

Sebagaimana diketahui, demonstrasi anti pemerintah di Bahrain mulai meletus sejak 12 Februari 2011 lalu. Banyak analis mengungkapkan bahwa demonstrasi ini dipicu oleh wabah revolusi Mesir. Contoh yang terjadi di Mesir itu tidak saja menjadi model untuk melawan pemerintah tapi juga banyak analis menemukan indikasi bahwa pendemo dari Mesir ikut meramaijan “dunia persilatan” revolusi di Bahrain.

Dalam usia kerusuhan telah memasuki bulan ke 5 (lima) kelihatannya pemerintah Bahrain telah melakukan tindakan represif. Dikabarkan oleh media masa dari berbagai sumber dalam dan luar negeri diperkirakan reformasi  di Bahrain telah memakan korban jiwa sebanyak 30 orang telah tewas.

Sementara itu 400-an orang lainnya -termasuk seorang ulama Syiah- telah ditahan pihak otoritas Bahrain (sumber http://www.lensaindonesia.com/rezim-al-khalifa-menuai-sorotan-pemerintah-bahrain-dakwa-400-demonstran 10/6/2011).

Diantara para demonstran yang ditangkap, sebanyak 8 (delapan) orang Syiah telah divonis penjara seumur hidup oleh pengadilan di Manama karena dianggap membahayakan kelangsungan hidup dan keselamatan keluarga kerajaan  Bahrain.

Apa sebenarnya yang dituntut oleh demonstran di Bahrain sedikit agak berbeda dengan di Mesir dan Libya, karena yang diminta oleh Pendemo sebetulnya adalah angin Revormasi, BUKAN Revolusi. Yang mereka tuntut anrara lain adalah :

  • Pembebasan tahanan politik, menambah lapangan kerja dan penyediaan perumahan.
  • Meningkatkan  fungsi perwakilan rakyat dan memberdayakan parlemen.
  • Meminta konstitusi baru.
  • Perombakan kabinet yang tidak melibatkan Perdana Menteri Sheikh Khalifa Bin Salman Al Khalifa yang telah berkuasa selama 40 tahun.

Kelihatannya sederhana saja apa yang diminta oleh rakyat Bahrain, akan tetapi oleh karena pemerintahan Bahrain sepertinya melihat kondisi ini sangat mengkhawatirkan sehingga menganggapnya sebagai sebuah indikasi runtuhnya sistem monarki konstitusi yang mengancam keselamtan Raja dan Perdana Menteri abadi di negara tersebut.

Akan tetapi dibalik alasan di atas, pemerinah Bahrain menemukan indikasi bahwa api reformasi itu dikemas oleh kelompok Syiah, karena kelompok ini telah menyimpan perseteruan abadi sejak tahun 1999. Momentum api revolusi di Mesir dan negara lainnya diduga dimanfaatkan oleh kelompok Syiah di di Bahrain sebagai saat yang paling tepat. Itu sebabnya pemerintah Bahrain menganggap gerakan ini tidak murni membawa api revolusi maka perlu disikapi dengan tegas dan represif.

Kekuatiran pemerintahan Bahrain menjadi-jadi saat melihat api reformasi tersebut belum juga sirna bahkan disinyalir semakin memanas dan masuknya pihak-pihak dari luar negara yang ingin menghancurkan kerjaaan Bahrain lebih cepat.

Akibatnya, pemerintah Bahrain kini disinyalir telah menjalin kerjasama dengan beberapa kontraktor penyedia jasa keamanan militer atau PMC (private military company) telah menawarkan jasa bantuan kepada pemerintahan Bahrain. Kontraktor PMC yang tersebar di beberapa negara penyedia jasa tersebut menawarkan jasa yang disedikan oleh beberapa perusahaan yang membidangi jasa tersebut, antara lain adalah :

  • Blackwater (sekarang disebut dengan  “Xe”).
  • DynCorp.
  • Military Professional Resources Inc (MPRI).
  • Titan Corporation.
  • Vinnell Corporation.
  • Erinys International (dari Inggris)
  • IPIH dan Levdan (dari Israel).

Akan tetapi sanagt mengejutkan adalah adanya indikasi bahwa salah satu  “sumber” tenaga yang direkrut untuk tentara bayaran untuk Bahrain dikabarkan berasal dari Indonesia. (informasi ini dapat diakses diberbagai media di berbagai situs dan blog -red)

Indikasi tentara bayaran asal Indonesia untuk Bahrain

Ketua Institut Kajian Timur Tengah di Amerika Serikat Ali Al-Ahmad menyatakan kepada ABC (21/6) bahwa sejak awal Maret lalu pemerintah Bahrain telah berkunjung ke beberapa negara Asia. Dalam lawatannya ke Indonesia, Malaysia dan Pakistan telah berusaha mencari (bekerjasama dengan PMC -red)  pasukan bayaran untuk bekerja kepada kerajaan Bahrain.

Masih menurut Ali Al-Ahmad, pemerintah Bahrain lebih senang mencari tenaga bantuan Indonesia karena lebih mudah membawa tentara bayaran Indoensia karena miskin daripada dari Suriah.

“Lebih mudah untuk membawa pasukan dari negara miskin seperti di Asia. Lebih mudah untuk membawa tentara Indonesia dibandingkan tentara Suriah. Mereka hanya akan menerima perintah untuk membunuh dan menyiksa demonstran” , demikian keterangan Ali Al-Ahmad yang dikutip dari berbagai sumber di internet. (salah satunya : http://gresnews.me/topic/Bahrain)

Entah benar  atau tidak pernyataan tersebut, ataukah  hanya sekadar menyudutkan Indonesia saja sebagai “pemasok teror” ke negara lain?  Kondisi ini patut kita perhitungkan karena akan  lebih banyak merugikan ketimbang menguntungkan karena berkaitan dengan pencitraan yang amat buruk kepada negara ini.

Perhatikan saja statement di atas berikut ini :

Pertama sekali adalah, pakar Timur Tengah itu mengatakan bahwa adanya persepsi bahwa lebih mudah membawa tenga bayaran Indonesia ketimbang Suriah yang notabene adalah negara yang tidak disukai oleh AS dan Israel. Bukankah ini sebetulnya telah memberi stigma bahwa negara ini lebih jelek daripada Suriah?

Ke dua, negara ini masuk negara miskin. Padahal negara miskin lebih parah dari Indonesia pun ada di mana-mana dan negara itu jelas-jelas pemasok tentara bayaran seperti Kolombia, Negara Afrika Tengah dan Asia Tengah lainnya.

Ke tiga, tentara bayaran itu kebanyakan dikelola oleh negara-negara maju seperti Inggris, AS dan Israel. Mereka dengan menggunakan organsiasi PMC  mengirim tenaga-tenaga bantuan  yang mereka rekrut dari negara-negara yang masuk katagori negara atau daerah paling “berdarah-darah” di dunia, misalnya Belarusia, Chechnya, Kashmir, Iraq, Afghanistan, Palestina, Kolumbia, Afrika Utara (Polisario),  Afrika Tengah dan Pakistan. Apakah ini menandakan negara Indonesia sudah masuk dalam stigma seperti itu di mata internasional?

Ke empat, tidak mudah mengirimkan tenaga bantuan militer dari Indonesia ke luar negeri. Jika direkrut secara ilegal oleh PMC itu berarti bukan kiriman pemerintah Indonesia. Padahal PMC itu  memberi fasilitas teknis dan peraltan setara dengan pasukan khusus atau komando sebuah negara utuk setiap tentara bayaran yang mereka kelola.

Bagaimana jika suatu saat  ketika tenaga bayaran itu kembali ke tanah air, apakah telah “terlatih” untuk digunakan menjadi anasir yang mampu mempeorakporandakan negaranya sendiri? Inikah yang diinginkan oleh PMC jika benar mengambil tentara bayaran Indonesia?

Mungkin saja ada sedikit perbedaan dalam mendifinisikan masalah Tentara Bayaran atau lazim disebut dengan Mercenaries atau Soldier of Fortune. Sesungguhnya yang dimaksud dengan tentara bayaran oleh PMC itu  BUKAN semata-mata digunakan  bertempur  untuk kepentingan negara lain di negara lain. Tentara bayaran itu dalam kerjasama dengan PMC   juga digunakan untuk melatih atau memasok logistik di daerah yang berbahaya. Mereka juga digunakan untuk membantu pembuatan fasilitas militer, selain itu juga digunakan untuk tenaga intelejen.

Jika benar tentara bayaran asal Indonesia digunakan di Bahrain pertanda apakah yang positif bagi negara Indonesia? Apakah bangsa Indonesia akan disebut sebagai bangsa pemberani? Bangsa pejuang dan bangsa yang patriotis? Ataukah memang karena bangsa yang miskin dan papa sehingga lebih tertarik menyandang stigma bangsa pembunuh dan kejam sebagaimana dilansir oleh ahli Timur Tengah itu?

Jika negara lainnya sudah tidak suka lagi melihat Indonesia sebagai negara yang berdaulat, berwibawa dan memiliki nilai-nilai luhur dan mampu bersanding dengan negara beradab lainnya, salah siapakah ini?

Salam Kompasiana

abanggeutanyo

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

50 Yacht Luar Negeri “Serbu” …

Mustafa Kamal | | 25 October 2014 | 23:43

Upacara Adat Satu Suro Kampung Adat Cirendeu …

Sandra Nurdiansyah | | 26 October 2014 | 00:06

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Gayatri, Polycarpus, BIN dan Persepsi Salah …

Ninoy N Karundeng | | 26 October 2014 | 08:45

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25



HIGHLIGHT

Korban-korban Kebijakan dan Peraturan JKN …

Yaslis Ilyas | 8 jam lalu

Latihan Siang Malam, Prajurit TNI Dipantau …

Mirza Gemilang | 8 jam lalu

Memasuki Hari ke Enam Belas Berada di …

Taufiq Rilhardin | 8 jam lalu

Pacaran? Tidak Harus dengan Kekerasan! …

Stevani Dewi | 8 jam lalu

Transisi Swallow Go Internasional Dikenal …

Tenny Rizka Firsti | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: