Back to Kompasiana
Artikel

Luar Negeri

Syaifud Adidharta

Hidup Ini Hanya Satu Kali. Bisakah Kita Hidup Berbuat Indah Untuk Semua ?

Kebebasan Hong Kong Surganya Para TKI/TKW

REP | 04 June 2011 | 04:28 Dibaca: 17462   Komentar: 10   4

Hong Kong resminya Daerah Administratif Khusus Hong Kong yang merupakan satu dari dua Daerah Administratif Khusus dari negara Republik Rakyat Cina (RRC), satunya lagi adalah Makau. Pada tanggal 1 Juli 1997, daerah ini secara resmi diserahkan oleh pemerintah Britania Raya kepada Republik Rakyat Cina.

Sebelum diserahkan pada tahun 1997, Hong Kong adalah koloni Britania Raya. Di bawah kebijakan Satu Negara Dua Sistem ciptaan Deng Xiaoping, Hong Kong menikmati otonomi dari pemerintah RRC seperti pada sistem hukum, mata uang, bea cukai, imigrasi, peraturan jalan yang tetap berjalan di jalur kiri. Urusan yang ditangani oleh Beijing adalah pertahanan nasional dan hubungan diplomatik. Otonomi ini berlaku di Hong Kong (minimal) untuk 50 tahun dihitung dari tahun 1997.

Hong Kong dengan sejuta keindahan dan kemewahan membuat banyak orang di dunia ingin merasakan untuk dapat tinggal disana. Sebuah daerah yang memiliki hak istimewah tersendiri di bagian negara RRC, Hong Kong adalah sebuah daerah yang juga memiliki berbagai kebebasan yang luar biasa diatas kebebasan Liberal. Tidak jarang banyak orang yang senang hidup di alam kebebasan tanpa batas, pastilah akan berminat sekali tinggal di Hong Kong, baik untuk bekerja, pendidikan, besnis, belanja maupun menjadi warga tetapnya. Hal inipun tidak jarang pula bagi warga Indonesia sangat meminati tinggal di Hong Kong, khususnya para calon TKI/TKW.

1307117840576277825

TKI/TKW Bebas Berbuat Apa Saja Di Hong Kong

Banyaknya minat para calon TKI/TKW untuk bisa bekerja di Hong Kong adalah besarnya nilai gaji yang bakal didapat, selain itu adanya kebebasan yang luar biasa di sana dalam berbagai hal. Berapapun biaya yang harus dikeluarkan oleh para calon TKI/TKW yang diberlakukan oleh para penyalur tenaga kerja, buat TKW kebanyakkan tidak mempermasalahkan, karna dalam setahun saja modal yang dikeluarkan berapapun besarnya pasti akan cepat kembali. Itulah sebagian banyak pendapat para TKI/TKW yang masih bekerja di Hong Kong.

Para TKI/TKW sangat meminati Hong Kong sebagai tempat tujuan bekerjaanya memang di daerah ini memiliki perbedaan yang jauh dari daerah-daerah di negara jiran lainnya. Selain memiliki kebebasan yang luar biasa, Hong Kong juga menjunjung tinggi hak azasi manusia serta ketegasan dalam penindakan hukum yang berdasarkan laporan langsung dari para korban pelanggaran hukum.

Namun sangatlah disayangkan Hong Kong sejak menjadi daerah tujuan bagi para TKW untuk bekerja, tidaklah sedikit sebagian para TKW melakukan berbagai kegiatan yang tidak baik diluar tujuannya untuk mencari nafkah secara halal. Sebagian banyak para TKW banyak melakukan tindakan yang justru menghilangkan budaya sosial kepribadiannya yang santun dan bermoral. Ini terbukti dari berbagai keterangan langsung oleh para mantan-mantan TKW Hong Kong yang sudah tidak bekerja lagi di Hong Kong, bukan itu saja bukti ini juga terlansir nyata dari berbagai media di Hong Kong.

“Orang-orang inilah yang membuat pandangan orang menilai TKW di Hong Kong itu sungguh sangat hina dan tercela. Padahal tidak semua orang yang jadi TKW HONGKONG (khususnya) sedemikian. Mereka bener-benar bekerja keras di Hong Kong untuk modal usaha, membantu orang tua dan lain-lain. Akan tetapi  karena orang inilah nama TKW di HONGKONG menjadi jelek.”

Banyak TKW di Hongkong “Nikah” Sesama Jenis

Surabaya (ANTARA News) – Sejumlah tenaga kerja wanita asal Indonesia (TKW) yang bekerja di Hongkong dalam setahun terakhir mulai banyak yang terjangkiti “pernikahan” sesama jenis (lesbian).

1307117975520718106

Sepasang TKW Sama Jenis Bergaya Pria Maco

Tania Roos, salah seorang TKW asal Malang dalam surat eletroniknya kepada ANTARA News di Surabaya, Senin, menjelaskan bahwa perkawinan lesbian mulai marak setahun terakhir dan awalnya dilakukan secara sembunyi-sembunyi.

“Bahkan memasuki acara mereka ada tanda khusus, apakah mereka kalangan sendiri atau orang lain. Saya bisa masuk ke perkawinan mereka dan mendapatkan fotonya karena saya berpura-pura menjadi pasangan lesbian,” katanya.

Namun, katanya, saat ini perkawinan lesbian itu mulai dilakukan secara terang-terangan. Pada 25 Pebruari 2007 lalu dia mendapatkan undangan sebagaimana layaknya undangan pernikahan di Indonesia. Acara itu akan dilaksanakan pada 11 Maret mendatang.

Ia memperkirakan, mereka melakukan pernikahan lesbian secara tertutup karena takut diketahui oleh keluarganya di Indonesia.

“Menurut orang yang menjadi `penghulu`, sudah ada 12 kali pernikahan sesama wanita Indonesia. Itu baru satu penghulu dan kemungkinan ada penghulu lain. Yang menjadi penghulu adalah sesama TKW yang orangnya tomboi,” katanya.

Mengenai proses pernikahan yang terang-terangan, mereka biasanya mengundang temannya menghadiri pernikahan dengan cara ditelepon dan baru kali ini dirinya mendapatkan undangan tertulis.

“Mengenai fenomena ini, ada yang cuek, ada yang prihatin dan ada yang menolak tetapi tak bisa berbuat apa-apa karena itu hak azazi mereka,” kata TKW yang juga penulis cerita pendek (cerpen) dan puisi itu.

Ia menceritakan, meskipun pasangan itu “resmi menikah”, namun mereka tidak bisa hidup satu rumah, melainkan hidup di rumah majikannya masing-masing.

“Biasanya mereka menyewa hotel untuk berkumpul pada hari-hari libur, lalu kalau waktunya jam pulang libur, ya berpisah kembali,” kata Tania.

Menurut dia, diperkirakan mereka melakukan pernikahan sejenis, selain karena jarangnya teman laki-laki asal Indonesia di Hongkong, kemungkinan juga disebabkan karena tersakiti laki-laki, baik suami maupun pacarnya..

————————

TREN LESBI TKW HONGKONG

“Beberapa tahun terakhir, tren percintaan sesama jenis di kalangan tenaga kerja wanita (TKW) Indonesia di Hong Kong semakin memprihatinkan. Dalam perjalanan ke negeri bekas koloni Inggris itu tempo hari, saya sempat tercengang menyaksikan bagaimana komunitas TKW yang menjadi lesbian bahkan sudah tanpa sungkan bermesraan di tempat terbuka.”

Di tengah lalu lintas padat di Pennington Street, kawasan Causeway Bay Hong Kong, sepasang anak muda tampak berjalan mesra sambil saling merangkul pundak. Bercelana jins model belel dan sobek-sobek di bagian lutut, dipadu baju kaos longgar tanpa lengan, mereka seolah tak hirau dengan suasana sekitar.Penampilan keduanya unik. Rambut pendek disemir pirang, dengan potongan asimetris khas harajuku, berjalan gagah dengan macam-macam asesori di tubuh, dari kalung rantai warna silver ukuran besar, ikat pinggang bermotif ramai, headset dari gadget pemutar musik, sampai hidung yang bertindik dan sedikit tato di pergelangan. Sebenarnya tak ada yang aneh dengan gaya pop semacam itu, kecuali dua hal; dua-duanya perempuan, dan dua-duanya TKW!

Praktik hubungan sesama perempuan di kalangan TKW Indonesia di Hong Kong memang semakin menjadi tren. Para pelakunya bahkan sudah sangat terbuka memperlihatkan kemesraan. “Kami sudah pacaran 2 tahun,” kata Yuniarti, 26 tahun, seorang TKW asal Blitar, Jawa Timur. Ia lantas bergayut mesra di lengan Indri, 28 tahun, wanita bergaya laki yang disebutnya pacar itu.

Yuniarti dan Indri tidak sendiri. Ada banyak pasangan TKW lainnya yang tanpa malu mengaku berpacaran. Beberapa di antaranya bahkan disebut-sebut menikah, meski hanya dalam bentuk pengucapan komitmen di antara sesama komunitas lesbian. “Tapi kami nggak mau disebut lesbian. Sepertinya kok direndahkan begitu,” kata Yuniarti.

Tenaga kerja Indonesia di Hong Kong memang didominasi wanita. Data di KJRI Hong Kong menyebut jumlahnya mencapai 130 ribu orang, dengan mayoritas pekerjaan sebagai pembantu rumah tangga. Dengan jumlah sebanyak itu, TKW Indonesia bisa saling berinteraksi karena mereka dapat jatah libur kerja sepekan sekali setiap hari Minggu. Biasanya, saat libur itu, para TKW berkumpul di Victoria Park, sebuah taman luas di kawasan Causeway Bay.

Di Victoria Park inilah kita bisa menyaksikan bermacam-macam gaya TKW Indonesia, dari yang masih tetap ndeso sampai yang nge-pop. “Saya juga bingung, anak-anak itu waktu di kampung sekolahnya di pesantren. Sampai di Hong Kong berubah drastis seperti ini,” kata H Mochamad Nurali, pemilik Warung Malang di Pennington Street yang jadi tempat ngumpul para TKW setiap akhir pekan.

Nurali mengakui, tren lesbian di kalangan TKW Indonesia di Hong Kong sudah jadi rahasia umum. Siapapun mengetahui dan mencoba memaklumi hal itu. Ia menduga ini bermula dari pengaruh gaya hidup tenaga kerja asal Filipina yang lebih dulu membawa “virus” cinta sesama itu. “Banyak yang tadinya cuma ikut-ikutan, akhirnya malah keterusan,” kata Nurali.

Di jalan-jalan kawasan Causeway Bay, yang boleh dibilang jadi “kampung Indonesia” setiap hari Minggu karena TKW kita memang terkonsentrasi di kawasan ini, wanita-wanita bergaya pria tampak di mana-mana. Ada yang jalan sendiri, berkelompok, dan lebih banyak lagi yang berpasang-pasangan. Mereka memotong rambut menjadi pendek, berbaju t-shirt pria, berjalan dengan lenggang kaki khas laki-laki (dengan bahu sedikit terangkat dan langkah panjang), dan merokok. Benar-benar jauh dari kesan feminin. “Malah banyak yang gayanya lebih macho dari laki-laki,” kata Yuniarti, yang mengaku para majikan di Hong Kong tak terlalu peduli dengan gaya PRT mereka, sehingga TKW bisa bebas berekspresi.


Di Victoria Park, tempat yang mirip ajang reuni para TKW setiap Minggu, aksi penuh gaya itu malah seperti sebuah lomba. Wanita-wanita bergaya pria bertanding macho. Wajah mereka tak dihias bedak, apalagi lipstik. Namun, bergaya semaskulin apapun, mereka tetap ketahuan sebagai wanita tulen ketika bicara. Ketahuan juga sebagai orang kampung dari logatnya. “Kalau pas pulang kampung ke desa ya ganti penampilan. Rambut dipanjangin dulu, nggak berani pulang gini,” kata Hartati, seorang TKW asal Tegal, Jawa Tengah. (hongkongnaqs.wordpress.com & budukgile81.multiply.com)

————————

Kasus BMI Hamil di Hong Kong Meningkat

Jumlah Buruh Migran Indonesia (BMI) yang hamil di Hong Kong ternyata tak bisa dibilang sedikit. Setidaknya hal tersebut terungkap dari data Pathfinders, lembaga yang bergerak dalam penanganan kasus buruh migran, dalam rentang 15 bulan.

Dari 120 buruh migran hamil yang meminta bantuan konsultasi dan advokasi ke Pathfinders selama 15 bulan terakhir, sebanyak 80 persen diantaranya adalah BMI. “Saya tidak tahu kenapa yang banyak datang adalah Indonesia. Bisa jadi juga karena jumlah buruh migran Indonesia di Hong Kong paling banyak sekarang,” ungkap Pendiri dan Direktur Pathfinders Kylie Uebergang.Menurut Kylie, rata-rata buruh migran yang datang atau menghubungi kantornya sudah dalam kondisi hamil tua atau visa tinggalnya hampir berakhir. “Biasanya yang datang adalah mereka yang jadwal melahirkannya tinggal 2 minggu lagi atau visanya habis dalam 1 atau 2 hari lagi,” terangnya.

Tak sedikit pula yang datang sudah dalam kondisi overstayed, bahkan hingga lebih dari 3 tahun. Mayoritas dari mereka, sekitar 70 persen, ditinggalkan atau sudah tak berhubungan lagi dengan lelaki yang menghamilinya.

Menurut Kylie, terkait dengan kehamilan mereka, kebanyakan buruh migran asal Filipina memilih untuk melahirkan atau memulangkan anak yang dilahirkan ke Tanah Air. Namun buruh migran asal Indonesia kebanyakan ragu-ragu untuk pulang dan malu karena mesti berhadapan dengan keluarga dan kerabat di kampung halaman yang belum tentu bisa menerima kondisi mereka.

Beberapa di antara mereka kemudian memilih menyerahkan anak yang mereka lahirkan untuk diadopsi oleh warga Hong Kong. Kebanyakan pengadopsi adalah kaum expatriate Caucasians yang telah menjadi warga permanen Hong Kong.

Dari 10 kasus adopsi –hingga saat ini masih dalam proses- yang diserahkan Pathfinders ke Social Welfare Department Hong Kong, sembilan diantaranya adalah bayi yang dilahirkan oleh BMI. Ayah biologis dari bayi yang dilahirkan BMI tersebut rata-rata berasal dari Nepal dan Pakistan.

Namun Konsuler di KJRI Hong Kong, Bambang Susanto, mengatakan bahwa kasus kehamilan yang terjadi pada BMI yang ia tangani justru mengalami penurunan dari tahun 2008 ke 2009. “Laporan yang masuk ke sini terhitung jarang.

Saya tidak tahu kenapa begitu. Apakah karena malu atau karena posisi mereka biasanya sudah overstayed. Ada banyak faktor yang mempengaruhi,” ungkap Bambang.

Ia mengatakan hampir mayoritas BMI hamil yang ditangani oleh KJRI biasanya akan membawa bayi yang dilahirkannya pulang ke kampung halaman. Ia juga menyebut bahwa jumlah BMI hamil dan melahirkan yang ditampung oleh shelter KJRI mengalami penurunan dari tahun 2008 ke 2009.

Sementara untuk kasus adopsi, Bambang hanya bisa berkomentar bahwa syarat adopsi untuk anak Indonesia kini tak mudah. Beberapa waktu yang lalu, Departeman Sosial RI datang ke Hong Kong untuk menyosialisasikan hal ini di kalangan komunitas BMI. Mereka, menurut Bambang, juga sempat bertemu dengan pihak Social Welfare Department Hong Kong. (Koran Suara – kampungtki.com & hongkongnaqs.wordpress.com)

————————

TKW Hong Kong Berpesta Pora

————————–

PERLUNYA REFLEKSI DAN PEMBINAAN KEAGAMAAN YANG MENGIKAT

Menyimak segala peristiwa yang terjadi diatas tentang keberadaan TKW di Hong Kong sungguhlah menyedihkan hati kita sebagai bangsa Indonesia yang terkenal sangat Sopan, Satun, Relegius dan menjunjung tinggi harkat martabat bangsa dalam berbudaya ketimuran. Namun semua itu menjadi tidak ada artinya bagi kita bila kita terus menerus membiarkannya terjadi.

Inilah yang wajib menjadi tanggung jawab pemerintah Republik Indonesia untuk bisa dan terus-menerus melakukan berbagai pembinaan keagamaan yang kuat untuk para TKI, khususnya TKW. Pemerintah RI harus tegas dan menekankan kepada Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Departemen Agama dan para PJTKI serta agen-agen penyalur tenaga kerja lainnya untuk mewajibkan adanya pembinaan dan pengawasan tentang penguatan akidah dan ahklak bagi para TKI/TKW.

Para TKI/TKW tidak cukup hanya dibekali pembinaan dalam ketrampilan bekerja, berbahasa asing, tetapi disini perlu adanya penekanan khusus yaitu adanya pembinaan kerohanian yang terus berlanjut, baik sebelum pemberangkatan ke negara tujuan bekerja maupun setelah berada di negara tujuan bekerja para TKI/TKW. Bukan itu saja, pemerintah RI juga harus menegaskan kepada para perwakilannya di negara-negara tujuan TKI/TKW untuk terus menerus melakukan pembinaan kerohanian yang lebih mengikat, hal ini agar tidak terjadi kembali adanya perusakan akidah dan ahklak bagi para TKI/TKW di negara tujuan bekerjanya. Mereka sungguh rentang dengan suasana dan budaya yang beda di Indonesia, apalagi para TKI/TKW kebanyakan memiliki tingkatan pendidikan yang rendah. Dan mereka jangan sampai lepas dari tujuan awalnya untuk meningkatkan ekonomi keluarganya yang secara halal.

————————-

Artikel ini di tulis dan di sari dari baebagai sumber terkait (Syaifud Adidharta).

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Melihat Peternakan Nyamuk di Loka Litbang …

Nurlaila Yusuf | | 18 December 2014 | 14:47

Bunga KPR Turun, Saatnya Beli Rumah? …

Rizky Febriana | | 18 December 2014 | 11:44

Kompasiana Drive&Ride: “Tantangan …

Kompasiana | | 16 December 2014 | 17:35

Rangkuman Foto: Menyusuri Monumen Penting di …

Bisurjadi | | 18 December 2014 | 14:42

Ikuti Blog Competition ”Warna Warni Indah …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 10:50


TRENDING ARTICLES

Seleb yang Satu Ini Sepertinya Belum Layak …

Adjat R. Sudradjat | 7 jam lalu

Konyolnya Dokumen Hoax Kementerian BUMN Ini …

Gatot Swandito | 8 jam lalu

Menyoal Boleh Tidaknya Ucapkan “Selamat …

Dihar Dakir | 9 jam lalu

Presiden Jokowi Mesti Kita Nasehati …

Thamrin Sonata | 11 jam lalu

Pilot Cantik, Menawan, dan Berhijab …

Axtea 99 | 15 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: