
Saya adalah mahasiswa program S2 Managerial Psychology dan bagian dari salah satu perusahan konsultan di Kuala Lumpur, Malaysia. Saya Mencoba memberikan pandangan, ide dan konten positive dengan sesingkat mungkin namun berguna. http://felixkusmanto.com/
Dibaca: 859
Komentar: 17
Nihil
Ilustrasi LRT 4 gerbong dari google
Tidak sedikit orang Indonesia yang sudah berkunjung ke Kuala Lumpur (KL). Ada yang datang untuk liburan, ada juga yang datang untuk berbisnis. Dalam kunjungan yang relative singkat ini, mayoritas kesan pertama terhadap KL adalah baik, baik dari sudut pandang tata kota, kebersihan, kemacetan dan juga moda transportasi yang manusiawi. Namun bagi para pelajar Indonesia, pekerja dan pemimpin yang sedang berdinas lama, gambaran KL agak berbeda.
KL juga ternyata ada kemacentan lalu lintas dan dapat ini juga dapat membuat stress para pengguna kendaraan bermotornya. Maklum kini jalanan KL telah disesaki oleh kendaraan pribadi yang di dorong oleh kenaikan jumlah masyarakat golongan menengah di Malaysia (terutama di KL dan sekitarnya) dan angsuran mobil nasional yang relative sangat menggiurkan.
Macet di Kuala Lumpur (foto koleksi pribadi)
Namun demikian TETAP! KL mempunyai solusi yang bisa diandalkan, solusi ini walau kecil, namun ”cabe rawit”, kecil-kecil namun PEDAS. Berdasarkan pengalaman dan pengamatan penulis, Kereta Light Rapid Transport Rapid KL masih tetap paling dapat dijadikan solusi (Selain Monorail KL, dan kereta KTM komuter).
“Memang kenapa sih dengan LRT Rapid KL? Kenapa dijadikan andalan?” Jawabannya ada di bawah ini. Menurut penulis ada 4 Alasan yang paling utama di samping tidak terjebak macet dan banyak lagi alasan berdasarkan pengalaman tiap-tiap orang.
Beberapa Kenyamanan LRT (foto dok pribadi)
Nyaman (Bersih, Ketersediaan Akses Bagi Penyandang Cacat, Praktis dan Sejuk)
Walau jalurnya belum serumit London Underground dan Singapore MRT, RAPID KL LRT tetap dapat menawarkan kenyamanan bagi para commuter. Kenyamanan ini dapat dilihat dari gambar diatas dan di pahami dibawah ini.
Di tiap-tiap stasiun terdapat layar pengumuman yang secara terus menerus meng update waktu kedatangan kereta, jadi tidak perlu kawatir jam berapa kereta akan datang. Karena dapat dipantau terus menerus (kecuali terjadi kerusakan sistem). Menurut pengalaman penulis, kereta LRT juga mempuyai ketepatan waktu dalam perjalanannya. Hal ini sangat membantu dalam manajemen waktu untuk pergi dari satu titik ke titik lain.
Terintergrasi disini sama dengan konsep yang sedang di lakukan di Jakarta. Jadi pengguna tidak perlu repot-repot jalan jauh untuk pindah jurusan, ganti moda transportasi atau masuk ke dalam gedung tujuan. Karena semua terkoneksi oleh jembatan, transport lain ataupun kanopi pejalan kaki.
Rapid KL LRT per harinya diperkirakan mengangkut 326,095 commuter sepanjang dua rute yang tersedia saat ini. Namun dengan proyek perpanjangan dan penambahan jalur yang sedang berlangsung RAPID KL MRT (beberapa tahun lagi namanya akan berganti dari LRT menjadi MRT atau Mass Rapid Transit) mengantipasi 400,000 commuter baru perharinya. Banyak bukan?
Bayangkan berapa banyak pergerakan manusia dari satu titik ke titik yang lainya dan bayangkan berapa banyak karbon emisi yang dapat di tekan. Dan berita baiknya adalah, tidak ada penambahan kendaraan di jalan.
Dengan 4 alasan diatas maka itu tidak heran 326 ribu orang selalu tergantung pada moda satu ini.
Jadi bagaimana Jakarta kita sebagai ibu kota republik terbesar ke empat didunia? Layak-kah Jakarta kita mempunyai transportasi yang manusiawi? Layak-kah pemerintah terus mendukung peningkatan kualitas dan penambahan sarana transportasi yang ada? Layak-kah kita meminta transport layak?
Sekedar tambahan, transportasi Jakarta juga ada positif nya. Paling tidak Jakarta punya ojek motor yang juga sangat efisien dan tidak jarang pengemudinya menjadi teman ngobrol yang ramah. Namun apakah ojek dapat turut mengunragi jumlah kendaraan di jalanan? Layak-kah kita mendapatkan transport publik yang manusiawi dan jangka panjang?
Atau kita memperbaiki mental kita terlebih dahulu sebagai commuter?
Salam
Felix Kusmanto
Tulisan ini juga di publikasikan di blog pribadi saya www.felixkusmanto.com