Back to Kompasiana
Artikel

Luar Negeri

Nursuhadi Bodong

...Kalah Pilurdes Desa Sriharjo yang ke-3 tahun 2013....

TKW Indonesia Melacur Karena Dipaksa Keadaan!

OPINI | 23 November 2010 | 21:32 Dibaca: 1117   Komentar: 23   1

Menanggapi reportase di kompasiana.com/chapitan elluari kolom peristiwa berjudul “Polisi Saudi Memergoki TKW Berbuat Mesum!” saya bermaksud meluruskan dan menggambarkan latar belakang mereka mengapa bisa seperti itu, dan menimpa bangsa sendiri.

Pak Chapitan elluary, sebelumnya mereka adalah wanita baik-baik, karena keterpaksaan mereka terperosok ke jurang kenistaan. Masalah utama di negara Arab saudi yang sebenarnya mengawali terjadinya hal-hal seperti penganiayaan adalah masalah sex. Sebagian besar tenaga kerja yang bekerja disana adalah laki-laki berstatus suami isteri di negara asalnya, tetapi keberangkatan mereka ke negara arab tersebut statusnya melajang. Dapat dibayangkan, dan tidak usah munafik, sebagai lelaki diperantauan yang tidak bersama isteri adalah sangat menyiksa.

Mengapa TKW Indonesia terperosok kedalam jurang hitam tersebut? Karena posisinya lemah, dapat bapak bayangkan di Negara Arab seorang wanita yang melarikan diri dari rumah majikan (istilahnya Kabur!), daripada tertangkap Polisi dan dipenjara maka tanpa berpikir panjang maka akan menerima tawaran ditolong oleh siapapun istilahnya disana ‘ditampung’ oleh penolong, Masalahnya yang menampung ini dari bangsa mana? Kalau para TKW ini ditampung oleh warga negara seperti Bangladesh, India, dan sebagainya tentu akan menjadi makanan empuk mereka. Artinya mereka akan sulit untuk lepas dari mereka, karena akan digilirkan kepada teman-teman senegaranya. Dan itu tak mungkin dia bisa melepaskan diri, secara otomatis akan menjadi buron atau warga illegal di mata polisi Arab saudi. Dan ini adalah keuntungan mereka, karena mereka menarik uang yang besar. Mengapa begitu? Mereka ini tenaga kerja lepas yang tak punya pekerjaan tetap, dan mereka butuh uang untuk bertahan hidup.

Praktek-praktek seperti itu terjadi seperti di Jeddah, karena pusat pemulangan TKI?TKW bermasalah melalui kota tersebut. Menurut penulis cara perlindungan yang baik untuk para TKI/TKW ini adalah identitas ganda, maksudnya yaitu, para TKI/TKW dibuatkan dua paspor, jadi saat mereka harus menghadapi masalah ‘kabur’ masih memegang identitas diri, setidaknya aman untuk mencapai KBRI. Hanya dengan satu identitas, maka apabila ada masalah dan harus “kabur” tentu tak ada identitas karena paspor diminta oleh majikan. Benar mereka punya KTP Arab Saudi! tetapi apabila “kabur” dan menunjukan identitas KTP (Iqomah) bila tertangkap polisi, maka majikan akan dihubungi lagi, dan akan kembali kepada mereka lagi, sebuah kesia-siaan toh?

Nah TKW yang “kabur” tanpa identas ini biasanya tidak mempunyai perbekalan yang cukup untuk bertahan hidup yang cukup lama, bahkan sering terjadi mereka hanya kabur tanpa bekal apa-apa. Untuk bertahan hidup satu-satunya jalan adalah menjual diri, itupun karena terpaksa. Masih beruntunglah apabila yang menemukan mereka bangsa sendiri, dan itupun penolong tak berani mengambil resiko tersangkut urusan dengan polisi. Maka kadang seorang TKW yang kabur setiap malam akan berpindah-pindah lokasi penampungan yang berbeda demi keamanan.

Jadi apabila TKW kita disana sampai terlibat urusan mesum dengan lelaki lain tentunya mereka pasti TKW bermasalah atau “kaburan” bagi mereka yang kabur ini ada yang lebih senang tertangkap polisi apabila dikota Jeddah, karena begitu tertangkap Polisi mereka akan dipenjarakan dan dipulangkan ke negara asal.

Kurangnya kontrol dari pemerintah terhadap jumlah tenaga kerja Indonesia di Arab Saudi menambah catatan panjang per TKI/TKWan. Karena kebanyakan para TKI/TKW ini mendapatkan majikan yang jahat. Seandainya penyalur tenaga kerja ini selektip tentu citra bangsa kita dinegara lain tak akan jelek.

Pendidikan juga menyebabkan mereka tak dapat berbuat banyak, berbeda dengan negara Philipin yang sangat berani dalam melindungi warga negaranya di Arab Saudi sehingga tenaga kerja Philipina sangat nyaman dan tenang. Seandainya pemerintah kita dapat bersikap berani kepada pemerintah Arab Saudi apabila ada warga negaranya yang teraniaya, tebtu citra negara kita akan terjaga. Tetapi apakah ada keberanian pemerintah Indonesia dalam membela warga negaranya? Dapat kita lihat usaha mereka!

Begitulah pak Chapitan Elluary, semoga bapak tidak berpikiran sama seperti mereka, tanpa melihat penyebab yang utamanya mengapa mereka bisa seperti itu!

*Penulis pernah menjadi TKI di Saudi Arabia tahun 2003/2004 menjadi sopir, dan tinggal di wilayah Rabwah, Riyadh.

Tags: TKI/TKW

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Sasi, Konservasi Tradisional di Raja Ampat …

Dhanang Dhave | | 22 August 2014 | 15:21

Identitas Bangsa Modal dalam Kompetisi …

Julius Deliawan | | 22 August 2014 | 09:42

ALS #icebucketchallenge …

Nyayu Fatimah Zahro... | | 22 August 2014 | 17:49

[SRINTHIL] Perempuan di Kaki Masa Lalu …

Rahab Ganendra | | 22 August 2014 | 14:33

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Pesta Perkawinan Mewah, Apa Ngaruh dalam …

Ifani | 2 jam lalu

SBY ‘Ngrecoki’ Jokowi …

Suko Waspodo | 4 jam lalu

“Ahok” Sumbangan Prabowo Paling …

Pakfigo Saja | 9 jam lalu

Saat Mahkamah Konstitusi Minus Apresiasi …

Zulfikar Akbar | 13 jam lalu

Kuasa Hukum Salah Berlogika, MK Tolak …

Sono Rumekso | 13 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: